Home PariwisataLeisureIslamic Philosophy dalam Film The Stoning of Soraya M

Islamic Philosophy dalam Film The Stoning of Soraya M

Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penarasi Jogja Sumatera)

by Ikon logo megapolitanTim Megapolitan
A+A-
Reset

Megapolitan.id | Artikel berupa resensi terhadap film ini (“The Stoning of Soraya M.“) disusun pada ujung Dzulqo’dah dan hampir masuk Dzulhijjah tepatnya tahun 1447 Hijriyyah. Bersamaan dengan itu, perilaku menzalami diri sendiri dalam kitab suci al-Qur’an dilarang (at-Taubah: 36). Maksudnya, perilaku dosa (besar) yang dilakukan bukan atas dasar ketidaktahuan/ketidaksadaran. Bukan tidak tahu termasuk lupa, peran fitnah dan makar terhadap Soraya, namun peran berlepas diri Sorayanya sendiri menjadikan film tersebut emosional namun antiklimaks.

Menjadi bentuk perilaku menzalimi diri sendiri, adegan usaha keras untuk menyelamatkan diri dari akibat pembunuhan berdaran oleh pemeran antogonis dalam peran tersebut bisa saja namun tidak dimainkan, justru oleh sosok Zahra, seorang wanita perokok sempat menampar Iebrahim, salah satu tokoh antagonis. Meski sosok Soraya pernah terlihat melakukan pembelaan diri terhadap perilaku kasar sang suami saat makan malam bersama dan memuncak saat salah satu anaknya justru membela sang ayah, Soraya terlihat menghempaskan sebuah benda sejenis gelas hingga pecah.

Tidak ada usaha pemberontakan Soraya terhadap keputusan bersalah, semisal di zaman ini sidang banding. Hanya ungkapan dengan tatapan keanggunan terhadap para pemirsa dan berikutnya menjadi para eksekutor rajam sebagai kata-kata terakhir yang saat itu menjadikan peran Soraya tersebut susah dicerna akal sehat. Mengapa Soraya tidak memberontak? Mengapa usaha pembelaan Zahra saat itu terkesan formalitas menjadi adegan rajam dalam film tersebut sepenuhnya kejam, jahat dan tidak manusiawi.

Kesalahan akhirnya tertuju kepada perumus film, mungkin sutradara, perancang ide cerita serta penulis skenario menjadikan film tersebut hanya fokus terhadap adegan rajam, bukan pesan apa-apa hanya berisi kritik sarkastik dan jauh dari sikap bijak manusia zaman ini. Melihat judul kemudian detik demi detik yang dilewati masing-masing pemeran, membenarkan asumsi yang secara keseluruhannya selama menyaksikan, bahwa benar film tersebut menjawabnya khususnya tentang rajam; Soraya tidak membunuh dirinya sendiri, adegan demi adegan menunjukkan dirinya terbunuh melalui rajam orang-orang semua.

Film tersebut menakutkan dan seharusnya terkategori “Thriller,” “Mistery” dengan spesifikasi budaya atau mungkin kepercayaan dan agama dengan masyarakat yang patalogis. Sebagaimana cuplikan diolog Soraya, “yang aku takutkan bukanlah kematian, tetapi (lemparan) batu-batu itu yang menyakitkan!” Ya, peran Soraya adalah manusia, meski hebat sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya, nyatanya sifat kemanusiaan yang melekat, ia “kecolongan” dan menjadikannya celah ceritanya sebagai kesalahan baginya pada ketundukan terhadap maskulinitas berupa fitnah menuju puncak fitnah yang diterima pemeran Soraya tersebut, yang akhirnya menjadikannya benar-benar tidak total lantaran terkesan membiarkan diri Soraya sendiri dalam adegan yang dia sendiri takuti. Hal ini memunculkan suatu pertanyaan dengan nada angkuh, kenapa, mengapa atau ada apa?!

Kaidah umum perfilman yang misal diperhatikan perkembangannya akan didapati unsur realisasi “relitas kedua” atau pemahaman manusia dari kenyataan hidup. Sepadat apapun pesan yang ingin disampaikan, unsur drama menjadi tantangan yang menyadarkan pemirsanya bahwa kenyataan tersebut adalah buah tangan manusia atau kenyataan tersebut merupakan kreasi yang tidak lepas dari distorsi terhadap kenyataan sesungguhnya. Alasan suami Soraya yang ingin menikahi wanita lain, alasan harta serta tekanan budaya patriarkis menjadi contoh dalam film ini. Bagaimanapun emosional bahkan rasional yang dapat meyakinkan namun penting menyadari bahwa film tetaplah film yang melekat padanya karakter khas karya manusia.

Apapun, kisah yang menjadi latar atau dasar film ini merupakan buah dari zalim terhadap diri sendiri berupa musibah karena perbuatan tangan mereka sendiri (masyarakat Kupayeh, Iran) sebagai masyarakat desa pedalam dalam bentuk celah yang dimanfaatkan maupun akumulatif atau lainnya, sebab Allah memaafkan banyak (Q. S. asy-Syura: 30).

 

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes1No0

Baca Artikel Lain