Daftar Isi
Megapolitan.id – Berawal dari pengalaman hidup sebagai anak petani, Nurul Arifin (25) membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi solusi bagi dunia pertanian. Pemuda asal Desa Bandungrejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, itu mengembangkan sistem pertanian modern yang memungkinkan kondisi tanaman dipantau secara real time melalui ponsel.
Meski merupakan lulusan Teknik Elektro, Arifin memilih mengikuti jejak sang ayah menjadi petani. Bedanya, ia membawa pendekatan baru dengan memadukan ilmu teknologi dan praktik pertanian untuk menciptakan sistem budidaya yang lebih efisien.
Inovasi tersebut diwujudkan melalui aplikasi bernama Ar Farm, yang mampu memantau kebutuhan nutrisi tanaman, kelembapan media tanam, hingga suhu udara selama 24 jam dengan dukungan jaringan internet.
Aplikasi Ar Farm Permudah Perawatan Tanaman
Melalui aplikasi Ar Farm, seluruh data kondisi tanaman ditampilkan secara langsung di layar gawai sehingga petani dapat mengetahui kebutuhan tanaman tanpa harus selalu berada di lokasi.
“Fungsinya untuk mempermudah kita merawat saja, jadi kita bisa memonitoring melalui handphone, terus kadar kelembaban pada polybag juga bisa monitoring, terus kadar nutrisi,” kata Arifin kepada Kompas.com di greenhouse miliknya, Minggu (26/7/2026).
Ia menjelaskan aplikasi tersebut juga menyajikan grafik mengenai kelembapan media tanam dan suhu lingkungan sehingga proses pemantauan menjadi lebih akurat.
“Ini grafiknya ada, kelembapan tanah, suhu ada semua, jadi kita tidak usah khawatir tanaman kurang apa, kurang apa,” sambung dia sambil menunjukkan fitur aplikasi di ponselnya.
Diuji pada Budidaya Melon Tanpa Tanah
Teknologi yang dikembangkan Arifin saat ini diuji coba pada budidaya melon menggunakan dua metode tanam, yakni sistem polybag dan hidroponik tanpa memanfaatkan tanah.
Pada metode polybag, tanaman menggunakan media kokofit atau limbah kulit kelapa yang dipadukan dengan sistem drip tetes. Sementara itu, sistem hidroponik sepenuhnya menggunakan media air.
Kedua metode tersebut dilengkapi mesin kontrol yang secara otomatis menyalurkan air maupun nutrisi sesuai kebutuhan tanaman.
“Dari kedua sistem ini dia tidak memakai tanah sebagai menanamnya, yang drip tetes kita menggunakan kokofit yang hidroponik kita full media air,” jelasnya.
Teknologi tersebut diterapkan di sebuah greenhouse berukuran 21 meter dengan lebar 7,5 meter. Di dalamnya terdapat 150 tanaman melon menggunakan sistem polybag, sementara sistem hidroponik memiliki kapasitas hingga 400 pohon.
Saat ini, tanaman pada sistem polybag telah memasuki fase berbuah dan tinggal menunggu masa panen. Adapun tanaman hidroponik mulai berbunga dan sebagian telah menghasilkan buah.
Uji Coba Capai Keberhasilan 80 Persen
Arifin mengaku bersyukur hasil uji coba menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.
“Uji coba ini 80 persen berhasil, hasilnya cukup memuaskan, cuma ada beberapa tanaman aja yang terkena penyakit. Alhamdulillah berbuah mungkin 2 Minggu lagi bisa panen untuk sistem drip tetes,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa pengembangan teknologi tersebut telah dirintis selama satu tahun. Namun, budidaya melon baru dilakukan dalam satu musim tanam terakhir atau sekitar tiga bulan.
“Kalau pembuatannya sudah satu tahun kalau menanamnya baru satu musim ini saja, karena pembuatannya cukup menghabiska uang yang banyak kalau di ranah kantong pribadi atau mahasiswa,” ungkapnya.
Habiskan Hingga Rp80 Juta Demi Inovasi Pertanian
Di balik inovasi tersebut, Arifin harus mengeluarkan biaya riset yang tidak sedikit. Mulai dari pengembangan aplikasi, pembuatan sistem, hingga pembibitan melon, ia menginvestasikan dana sekitar Rp70 juta hingga Rp80 juta.
Meski demikian, ia menilai biaya tersebut sepadan dengan pengalaman dan ilmu yang diperoleh selama proses penelitian.
“Dari nol ya mungkin 70 sampai 80 juta, biaya risetnya tapi sebanding dengan ilmu yang didapatkan,” ujarnya.
Selama proses uji coba, beberapa tanaman memang sempat terserang penyakit. Namun jumlahnya relatif sedikit sehingga tidak mengganggu keseluruhan hasil penelitian.
“Ada beberapa saja, satu, dua, tanaman yang terkena penyakit,” ujarnya lagi.
Disiapkan untuk Lahan Pertanian yang Lebih Luas
Ke depan, Arifin berencana menerapkan teknologi tersebut dalam skala yang lebih besar di lahan pertanian milik ayahnya. Selain meningkatkan produktivitas, sistem ini diharapkan mampu membantu petani memanfaatkan teknologi digital dalam mengelola tanaman secara lebih efektif.
Di sisi lain, inovasi yang dikembangkannya juga dimanfaatkan sebagai objek penelitian tugas akhir mahasiswa.
“Iya ini untuk skripsi juga, saling bantu, saya dapat ilmunya mereka juga dapat ilmunya, kerja sama,” tutup Arifin.
Melalui inovasi Ar Farm, Nurul Arifin menunjukkan bahwa perpaduan teknologi dan pertanian mampu menghadirkan solusi baru bagi sektor pangan. Langkahnya menjadi bukti bahwa generasi muda dapat berkontribusi menghadirkan pertanian modern yang lebih efisien, produktif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.