Daftar Isi
Megapolitan.id – Institut Teknologi Bandung (ITB) menganugerahkan gelar Profesor Emeritus kepada Prof. (Em ITB). Ir. Hermawan Kresno Dipojono, MSEE., Ph.D., dalam prosesi yang digelar di Multipurpose Hall, Gedung CRCS, ITB Kampus Ganesha.
Penganugerahan tersebut menjadi bentuk penghormatan atas perjalanan panjang Prof. Hermawan dalam dunia pendidikan, penelitian, kepemimpinan akademik, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Memasuki masa purnadarma, Prof. Hermawan tidak memilih berhenti berkarya. Ia justru akan melanjutkan aktivitas riset, memperluas jejaring internasional, sekaligus menyiapkan generasi baru yang mampu berkiprah di bidang teknologi kuantum.
Rekam Jejak Panjang di ITB
Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., mengatakan Prof. Hermawan memiliki perjalanan panjang bersama ITB. Kiprahnya mencakup pengembangan akademik dan kurikulum, kepemimpinan di Fakultas Teknologi Industri (FTI), hingga penguatan jejaring riset internasional.
“Prof. Hermawan pernah menjabat sebagai Dekan FTI ITB, pejabat di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, serta Ketua Senat Akademik ITB. Di luar kampus, ia juga aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, termasuk pembinaan generasi muda di lingkungan Masjid Salman ITB,” ujar Rektor ITB.
Menurut Tatacipta, masa purnadarma bukan berarti berakhirnya kontribusi seorang guru besar. Gelar Profesor Emeritus justru menjadi penanda bahwa pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki tetap memiliki arti bagi perkembangan institusi.
“Gelar Profesor Emeritus menegaskan bahwa pengalaman, ilmu, dan keteladanan Prof. Hermawan tetap menjadi bagian penting dalam perkembangan ITB,” katanya.
Apresiasi juga datang dari Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Ir. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D. Ia memandang Prof. Hermawan sebagai sosok guru sekaligus panutan yang konsisten berbagi pengetahuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Dari Material Komputasional hingga Teknologi Kuantum
Prof. Hermawan merupakan alumnus Teknik Fisika ITB. Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar ITB pada 2012 dalam bidang Rancang Bangun Material Komputasional dan Simulasi Dinamika Molekul.
Dekan FTI ITB, Prof. Ir. Tirto Prakoso, S.T., M.Eng., Ph.D., mengatakan pemberian gelar Profesor Emeritus bukanlah akhir dari perjalanan pengabdian Prof. Hermawan.
“Penghargaan ini merupakan bukti atas dedikasi, kepemimpinan, pemikiran, dan keteladanan Prof. Hermawan yang diharapkan terus menginspirasi generasi penerus,” ungkap Prof. Tirto
Sementara itu, Mohammad Kemal Agusta, S.T., M.Eng., Ph.D., yang mewakili Kelompok Keahlian Teknik Fisika, FTI ITB, mengenang Prof. Hermawan sebagai salah satu perintis desain material komputasional di Indonesia.
Selain berkontribusi dalam pengembangan bidang tersebut, Prof. Hermawan juga dikenal sebagai mentor bagi banyak mahasiswa dan peneliti yang tumbuh dalam lingkungan akademik ITB.
Memasuki “Fase Kebebasan Berkarya”
Dalam pidatonya, Prof. Hermawan menggambarkan perjalanan hidupnya sebagai sebuah “rasi bintang pembentuk karakter dan pemikiran”. Menurutnya, rasi tersebut terbentuk dari pengalaman akademik, spiritualitas, serta tokoh dan berbagai bacaan yang turut membangun visi kebangsaannya.
Memasuki masa purnadarma, ia menyebut dirinya kini berada dalam “fase kebebasan berkarya”. Berkurangnya tanggung jawab struktural dan administratif membuat waktunya lebih leluasa untuk diarahkan pada eksplorasi ilmiah.
Salah satu fokus yang ingin dikembangkan adalah komputasi kuantum.
Prof. Hermawan juga menekankan bahwa laboratorium memiliki peran penting sebagai ruang kaderisasi ilmuwan. Menurutnya, mahasiswa tidak seharusnya berhenti pada posisi sebagai peserta didik, tetapi perlu dipersiapkan menjadi bagian dari ekosistem keilmuan.
“Mahasiswa tidak hanya datang untuk belajar dan meneliti, tetapi diharapkan tumbuh menjadi kolega, ilmuwan, dan mentor bagi generasi berikutnya,” ucapnya.
Siapkan SDM Hadapi Era Kuantum
Perhatian Prof. Hermawan kini diarahkan pada sejumlah bidang teknologi masa depan, termasuk Quantum Machine Learning (QML), pengembangan komputasi kuantum, serta pembangunan jaringan riset internasional.
Upaya kaderisasi juga dilakukan melalui penulisan buku dan bahan ajar berbahasa Indonesia. Materi yang dikembangkan antara lain berkaitan dengan medan elektromagnet dan sains komputer kuantum.
Menurutnya, perkembangan teknologi kuantum tidak cukup hanya diikuti dari luar. Indonesia perlu memiliki sumber daya manusia yang mampu memahami sekaligus mengembangkan teknologi tersebut.
“Indonesia tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi kuantum. Penguatan sumber daya manusia menjadi kunci agar Indonesia mampu mengambil peran dalam perkembangan teknologi tersebut,” tuturnya.
“Tujuan utamanya adalah kaderisasi agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pemain utama di era teknologi kuantum,” lanjutnya.
Penganugerahan Profesor Emeritus pun menjadi babak baru dalam perjalanan akademik Prof. Hermawan. Meski memasuki masa purnadarma, kontribusinya tetap diarahkan pada riset, pendidikan, pembinaan generasi muda, serta pengembangan teknologi yang akan membentuk masa depan.