Daftar Isi
Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan konsep prasmanan mulai diterapkan di SDN Sibela Barat, Kota Surakarta. Berbeda dari sistem sebelumnya, metode ini memungkinkan siswa mengambil makanan secara mandiri sesuai kebutuhan. Selain memberikan pengalaman baru, konsep tersebut juga membuat siswa dapat melihat langsung menu yang disediakan sekolah.
Kepala SDN Sibela Barat, Edy Nugroho, mengatakan bahwa selama ini sekolah menerima MBG dengan sistem ompreng, yakni makanan yang telah disiapkan dalam wadah untuk masing-masing penerima manfaat. Menu yang diberikan mencakup sumber protein hewani dan nabati, sayuran, serta komponen makanan lainnya.
“Selama ini kami menerima MBG dengan konsep ompreng, yang menunya sudah disiapkan untuk masing-masing penerima manfaat,” ujarnya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Selasa, 20 Oktober 2026.
Pada uji coba kali ini, penerapan prasmanan masih menyasar siswa sekolah. Jumlah penerima manfaat yang mengikuti kegiatan tersebut mencapai 89 anak dalam satu pelaksanaan.
Penyajian Lebih Terbuka dan Mudah Dipantau
Pelaksanaan uji coba MBG prasmanan turut disaksikan sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan, kepolisian, Koramil, serta perwakilan perangkat desa setempat. Kehadiran mereka memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung proses penyajian makanan, mulai dari tampilan menu hingga mekanisme pengambilan oleh siswa.
Menurut Edy, sejumlah pihak yang hadir menilai konsep prasmanan memberikan kemudahan dalam memantau makanan yang disajikan. Menu dapat diamati secara langsung sehingga proses penyajian terlihat lebih terbuka.
“Dari instansi yang hadir, mereka melihat pelaksanaan ini cukup efisien karena menu dan tampilannya bisa diamati secara langsung,” katanya.
Sistem ini juga dinilai membantu guru dalam mengatur pembagian makanan di lingkungan sekolah. Jika sebelumnya makanan telah dikemas untuk setiap siswa, konsep prasmanan memungkinkan anak mengambil makanan yang tersedia bersama-sama dalam satu kelas.
Dengan mekanisme tersebut, guru tidak perlu lagi memanggil siswa satu per satu untuk menerima makanan. Proses pembagian pun diharapkan berlangsung lebih praktis dan mendukung kelancaran kegiatan selama waktu istirahat.
Siswa Antusias Memilih Menu
Penerapan konsep prasmanan mendapat sambutan positif dari para siswa. Mereka terlihat senang karena dapat menyaksikan pilihan makanan yang tersedia dan terlibat langsung dalam proses pengambilan.
Pengalaman ini memberikan suasana berbeda dibandingkan sistem ompreng. Selain menikmati makanan yang disediakan, siswa memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi secara mandiri dalam kegiatan makan bersama di sekolah.
“Anak-anak sangat senang karena bisa melihat langsung makanan yang disediakan dan ikut mengambilnya sendiri,” katanya.
Pengambilan makanan dimulai pukul 09.00 WIB, bertepatan dengan waktu istirahat sekolah. Sebanyak 89 siswa mengikuti kegiatan tersebut, dan seluruh proses pengambilan makanan selesai sekitar pukul 09.40 WIB. Dengan demikian, pelaksanaan berlangsung selama kurang lebih 40 menit.
Evaluasi Jadi Kunci Pengembangan Program
Uji coba MBG prasmanan menjadi pengalaman baru bagi SDN Sibela Barat dalam menjalankan program pemenuhan gizi siswa. Pelaksanaan ini juga memberikan gambaran mengenai mekanisme penyajian yang dapat diterapkan untuk mendukung kegiatan makan di sekolah.
Meski demikian, evaluasi tetap diperlukan untuk mengetahui efektivitas sistem tersebut. Sejumlah aspek yang perlu diperhatikan meliputi kecukupan porsi, kebersihan makanan, kelancaran pelayanan, serta ketertiban siswa ketika mengambil makanan.
Hasil evaluasi nantinya dapat menjadi bahan pertimbangan untuk melihat kemungkinan penerapan sistem serupa pada kegiatan berikutnya. Dengan pengelolaan yang tepat, konsep prasmanan diharapkan mampu mendukung kelancaran distribusi MBG sekaligus menciptakan pengalaman makan yang lebih menyenangkan bagi siswa.