Home PariwisataDestinasiGibran Dorong Santri Kuasai AI dan Robotik
dok.antaranews.com

Gibran Dorong Santri Kuasai AI dan Robotik

by Ikon logo megapolitanSalwa
A+A-
Reset

Megapoloitan.id – Pagi itu suasana di Pondok Pesantren (Ponpes) Baitul Arqom Al-Islami, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terasa berbeda. Biasanya, aktivitas santri identik dengan lantunan ayat suci, diskusi kitab kuning, dan suasana khidmat di ruang-ruang kelas. Namun kali ini, di antara barisan kitab dan papan tulis, tampak pula laptop, kabel, rangkaian elektronik, hingga robot-robot kecil yang bergerak lincah di atas lantai.

Kedatangan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Rabu tersebut menjadi momen penting. Ia datang bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan untuk meninjau langsung kegiatan pelatihan kecerdasan artifisial (AI) dan robotik bagi para santri. Kunjungan ini sekaligus menandai satu pesan kuat: pesantren dan teknologi bukanlah dua dunia yang bertolak belakang.

Sebagaimana keterangan yang diterima ANTARA, Rabu, peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran di lingkungan pesantren. Langkah ini juga sejalan dengan pelaksanaan Astacita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam penguatan sumber daya manusia unggul serta peningkatan kualitas pendidikan berbasis teknologi yang inklusif, termasuk di lingkungan pesantren, guna mempersiapkan generasi muda menghadapi era transformasi digital.

Di salah satu sudut ruangan, beberapa santri tampak serius mengamati layar komputer yang menampilkan baris-baris kode. Di sisi lain, sebuah robot kecil bergerak perlahan, diuji coba untuk memastikan fungsinya berjalan sesuai rancangan. Wapres pun menghampiri mereka, memperhatikan dengan saksama setiap proyek yang dipamerkan.

Dalam peninjauan tersebut, Wapres melihat secara langsung berbagai proyek robotik yang tengah dikembangkan para santri, di antaranya robot pengalir air wudhu otomatis, robot yang dapat berjalan dengan dua kaki, hingga robot untuk kompetisi seperti robot sumo dan robot pemain bola.

“Ini tadi kita sudah meninjau beberapa murid yang sedang belajar membuat robot dan juga belajar AI. Tadi ada robot untuk mengalirkan air wudhu secara otomatis, ada robot yang bisa berjalan dengan dua kaki, robot sumo dan robot pemain bola yang bisa dikompetisikan,” ujarnya.

Robot pengalir air wudhu otomatis itu menjadi simbol yang menarik. Ia bukan sekadar alat mekanis, tetapi gambaran bagaimana teknologi dapat menyatu dengan kebutuhan ibadah. Sementara robot berkaki dua menunjukkan keberanian santri untuk bereksperimen dengan sistem yang lebih kompleks. Robot sumo dan robot pemain bola pun membuka peluang partisipasi dalam kompetisi tahunan yang menuntut inovasi berkelanjutan.

Tak hanya santriwan, santriwati pun terlibat aktif dalam pembelajaran teknologi. Di ruang lain, mereka mempelajari pemanfaatan AI menggunakan perangkat digital. Wapres menyempatkan diri berdialog dan memberikan motivasi.

“Tadi santriwati juga belajar AI. Saya tekankan pentingnya santriwan dan santriwati untuk mengikuti perkembangan zaman. Kalau santri akhlaknya baik, ngajinya baik, tapi akan lebih baik lagi kalau bisa menguasai teknologi-teknologi terkini seperti AI dan robotik,” ujarnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa penguasaan teknologi tidak dimaksudkan untuk menggantikan nilai-nilai keislaman, melainkan melengkapinya. Tradisi pesantren yang kuat dalam pembinaan akhlak dan ilmu agama tetap menjadi fondasi utama. Namun di atas fondasi itu, keterampilan teknologi dibangun sebagai jembatan menuju masa depan.

Wapres menjelaskan pembelajaran teknologi di pesantren tidak dimaksudkan agar semua santri menjadi programmer, melainkan untuk melatih pola pikir kritis dan inovatif.

“Coding itu melatih anak-anak muda untuk berpikir kritis, critical thinking, dan berpikir komputasional. Ini penting sekali karena ke depan persaingan akan semakin ketat. Saya tidak ingin santriwan-santriwati di pondok ini ketinggalan,” kata dia.

Pernyataan tersebut mencerminkan realitas zaman. Transformasi digital bergerak cepat, bahkan sering kali melampaui kesiapan banyak institusi pendidikan. Dengan memperkenalkan coding dan AI sejak dini, santri diajak untuk terbiasa memecahkan masalah secara sistematis, berpikir logis, dan berinovasi.

Gibran juga menilai berbagai proyek robotik yang ditampilkan masih berada pada tahap dasar, namun memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut.

“Yang dipelajari tadi masih basic-basic (dasar), tapi ini bisa dikembangkan lagi. Robot-robot seperti ini setiap tahun ada kompetisinya, jadi inovasinya bisa terus ditingkatkan,” ujarnya.

Tahap dasar bukanlah kelemahan, melainkan titik awal. Dari sinilah kreativitas tumbuh. Robot sederhana bisa menjadi cikal bakal inovasi yang lebih kompleks di masa mendatang. Kompetisi robotik yang rutin digelar setiap tahun pun menjadi ruang uji sekaligus motivasi untuk terus meningkatkan kualitas karya.

Selain kepada para santri, Wapres juga menitipkan pesan kepada para guru agar terus memperbarui pengetahuan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

“Perkembangan teknologi ini sangat cepat. Guru tidak boleh ketinggalan dari muridnya,” tambah Wapres.

Pesan ini menjadi refleksi penting. Dalam era digital, peran guru tidak lagi sekadar penyampai materi, tetapi juga fasilitator pembelajaran yang adaptif. Guru dituntut untuk terus belajar agar mampu membimbing generasi muda menghadapi tantangan baru.

Sementara itu, Ustadz Najib Muhammad Yusuf selaku pengasuh pesantren itu menyampaikan integrasi teknologi modern dengan nilai-nilai keislaman dapat dilakukan tanpa menghilangkan ruh pendidikan pesantren.

“Integrasi teknologi modern dengan nilai-nilai keislaman di pesantren dapat dilakukan tanpa menghilangkan ruh pendidikan pesantren. Kuncinya adalah menjadikan teknologi sebagai alat untuk memperkuat ilmu, akhlak, dan dakwah,” ujarnya.

Penjelasan tersebut menggambarkan visi pesantren yang progresif. Kitab kuning tetap dipelajari secara mendalam, tetapi kini didukung dengan pemanfaatan teknologi digital seperti kitab dalam bentuk PDF, kamus digital, serta penggunaan perangkat pembelajaran seperti smart TV dan proyektor berbasis digital.

Perpaduan ini menciptakan suasana belajar yang dinamis. Santri dapat mengakses referensi dengan lebih cepat, memperkaya diskusi, dan memvisualisasikan materi secara lebih interaktif. Teknologi bukan lagi dianggap ancaman, melainkan sarana untuk memperluas cakrawala ilmu.

“Alhamdulillah, respon santri terhadap pembelajaran AI sangat baik dan mereka sangat antusias mengikuti pembelajaran tersebut. Salah satu pemanfaatannya misalnya membuat video muhadatsah bahasa Arab dalam bentuk animasi 3D,” jelasnya.

Animasi 3D untuk muhadatsah bahasa Arab menjadi contoh konkret bagaimana AI dan kreativitas berpadu. Pembelajaran bahasa yang biasanya berlangsung secara konvensional kini tampil lebih menarik dan kontekstual. Santri tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengemasnya dalam format digital yang relevan dengan generasi mereka.

Kehadiran pelatihan AI dan robotik di pesantren ini menunjukkan bahwa transformasi digital tidak mengenal batas geografis maupun institusional. Pesantren, yang selama ini dikenal sebagai pusat pendidikan agama tradisional, kini turut ambil bagian dalam menyiapkan generasi yang adaptif dan kompetitif.

Lebih jauh, langkah ini juga memperluas makna dakwah. Di masa depan, dakwah tidak hanya disampaikan melalui mimbar, tetapi juga melalui platform digital, konten kreatif, dan inovasi teknologi. Santri yang menguasai AI berpotensi menciptakan aplikasi islami, konten edukatif, hingga solusi teknologi berbasis nilai-nilai keislaman.

Pihak pesantren juga berharap pemerintah terus mendorong pengenalan AI di berbagai kalangan karena teknologi tersebut dinilai memiliki banyak manfaat bagi pengembangan pendidikan dan dakwah di masa depan.

Di tengah arus globalisasi dan disrupsi teknologi, pesantren Baitul Arqom Al-Islami memberikan contoh bahwa adaptasi bukan berarti meninggalkan jati diri. Justru dengan memegang teguh nilai-nilai keislaman dan membuka diri terhadap inovasi, pesantren dapat menjadi pusat lahirnya generasi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga unggul secara intelektual dan teknologi.

Kunjungan Wakil Presiden hari itu pun meninggalkan pesan mendalam: masa depan tidak menunggu siapa pun. Santri, dengan segala potensi dan semangat belajarnya, memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari perubahan. Di antara lantunan doa dan deru motor robot kecil, tersimpan harapan bahwa generasi pesantren siap melangkah mantap menyongsong era kecerdasan artifisial—tanpa kehilangan akhlak sebagai fondasi utamanya.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain