Daftar Isi
Megapolitan.id – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan manusia. Teknologi yang sebelumnya banyak dikenal dalam dunia teknologi dan industri tersebut mulai merambah berbagai bidang, termasuk kesehatan mental.
Penggunaan AI di bidang kesehatan mental salah satunya terlihat dari hadirnya berbagai aplikasi yang menawarkan layanan psikoterapi dan konsultasi jarak jauh. Kehadiran teknologi ini membuat akses terhadap layanan kesehatan mental menjadi lebih mudah, terutama bagi mereka yang membutuhkan konsultasi secara fleksibel.
Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan. Penggunaan AI dalam kesehatan mental tidak bisa dilihat hanya dari sisi manfaat, sebab teknologi ini juga memiliki potensi risiko ketika digunakan tanpa pertimbangan dan kendali yang tepat.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam podcast Healthy Talk Tribun Health bertajuk “Mengelola Pikiran dan Emosi di Era Kecerdasan Buatan”. Podcast tersebut menghadirkan dr. Dede Rus Muchamad, Sp.KJ, dokter spesialis kedokteran jiwa atau psikiater dari RSUD Bung Karno, Kota Surakarta, pada Kamis (04/06/2026).
AI Mulai Masuk ke Dunia Psikoterapi
Dalam podcast tersebut, dr. Dede menjelaskan bahwa perkembangan AI telah memasuki berbagai bidang, termasuk kedokteran dan psikiatri. Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah aplikasi psikoterapi yang dapat digunakan untuk mendukung konsultasi jarak jauh.
“Sekarang kan banyak tuh anak-anak muda gitu kan yang dia konsultasi jarak jauh. Jadi sekarang banyak aplikasi psikoterapi yang menggunakan teknologi AI.” ujar dr. Dede Rus Muchamad, Sp.KJ.
Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi tanda bahwa tenaga kesehatan juga perlu memahami kehadiran teknologi AI secara terbuka. Namun, keterbukaan itu tetap perlu dibarengi dengan perhatian terhadap dampak yang mungkin muncul.
AI memang mampu memberikan akses yang lebih praktis dan cepat, tetapi teknologi tersebut tetap memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan persoalan yang menyangkut kondisi psikologis manusia.
Teknologi AI Punya Dua Sisi
Dr. Dede mengatakan bahwa penggunaan AI dalam kesehatan mental hingga kini masih menjadi bahan pembahasan di kalangan para ahli. Teknologi tersebut dapat memberikan sejumlah manfaat, tetapi juga berpotensi menimbulkan kekhawatiran apabila digunakan tanpa kendali.
“Semua teknologi itu selalu seperti itu.” ujar dr. Dede Rus Muchamad, Sp.KJ.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa AI tidak berbeda dengan teknologi lainnya. Di satu sisi, teknologi dapat membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan dengan lebih cepat. Namun, di sisi lain, penggunaannya juga membutuhkan batasan agar tidak menimbulkan persoalan baru.
Menurut dr. Dede, pembahasan mengenai AI bahkan tidak semata-mata berkaitan dengan keberadaan profesi tertentu. Perkembangan kecerdasan buatan juga berpotensi berhubungan dengan manusia secara lebih luas dan bahkan memengaruhi arah peradaban.
Dokter Masih Bisa Menerima Penggunaan Narrow AI
Meski mengingatkan adanya dua sisi dalam perkembangan AI, dr. Dede menilai teknologi dengan fungsi terbatas atau narrow AI masih dapat diterima dalam konteks tertentu.
Teknologi semacam ini dinilai dapat membantu manusia mengolah data dan mempercepat proses pengambilan keputusan selama digunakan sesuai fungsi dan batasannya.
“Kalau yang narrow AI itu, saya bisa terima gitu kan. Karena dia menjalankan fungsi-fungsi terbatas gitu kan.” ujar Dr. Dede Rus Muhammad, SpKJ.
Pandangan tersebut menunjukkan adanya ruang bagi pemanfaatan AI dalam bidang kesehatan mental, terutama ketika teknologi difungsikan sebagai alat pendukung dengan cakupan kerja tertentu.
Namun, keberadaan teknologi tetap tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap peran manusia, terutama dalam persoalan yang membutuhkan pemahaman mendalam mengenai kondisi psikologis seseorang.
Penggunaan AI Harus Tetap Bijak
Dari pembahasan tersebut, persoalan utama bukan semata-mata apakah AI boleh digunakan dalam psikoterapi atau tidak. Hal yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan dan sejauh mana pengguna memahami batasannya.
AI dapat memberikan kemudahan dalam konsultasi jarak jauh dan pengolahan informasi. Namun, pengguna tetap perlu menyadari bahwa teknologi memiliki keterbatasan dan tidak selalu dapat menggantikan pendekatan manusia dalam memahami persoalan kesehatan mental.
Perkembangan AI di bidang psikoterapi pada akhirnya menjadi bagian dari perubahan cara manusia mengakses layanan kesehatan mental. Teknologi membuka pintu baru untuk akses yang lebih praktis, tetapi pintu tersebut tetap perlu digunakan dengan hati-hati.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan yang semakin cepat, keseimbangan antara inovasi teknologi dan tanggung jawab dalam penggunaannya menjadi hal yang tidak kalah penting. AI dapat menjadi alat bantu, tetapi cara manusia menggunakannya akan menentukan apakah teknologi tersebut benar-benar memberi manfaat atau justru menghadirkan persoalan baru.