Home TeknologiAkhiri Truk Overload, Kemenhub Andalkan Teknologi dan Integrasi Data
dok.liputan6.com

Akhiri Truk Overload, Kemenhub Andalkan Teknologi dan Integrasi Data

by Ikon logo megapolitanSalwa
A+A-
Reset

Megapolitan.id – Di tengah laju distribusi logistik yang semakin padat dan dinamis, jalan-jalan utama di Indonesia menyimpan cerita yang tak selalu terlihat oleh mata. Truk-truk besar melaju siang dan malam, mengangkut berbagai kebutuhan masyarakat dari satu kota ke kota lain. Namun di balik pergerakan yang tampak biasa itu, tersimpan persoalan serius yang telah lama menjadi perhatian pemerintah: kendaraan dengan muatan dan dimensi berlebih atau yang dikenal dengan istilah over dimension over load (ODOL).

Fenomena ODOL bukanlah hal baru. Ia sudah seperti “rahasia umum” dalam dunia transportasi logistik. Truk yang membawa beban melebihi kapasitas tidak hanya merusak jalan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan yang bisa merenggut nyawa. Dalam banyak kasus, pelanggaran ini terjadi karena tekanan efisiensi biaya dan waktu, yang pada akhirnya mengorbankan aspek keselamatan.

Kini, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mulai mengambil langkah yang lebih tegas dan terstruktur. Bukan sekadar penertiban biasa, melainkan sebuah transformasi besar yang menyasar sistem pengawasan secara menyeluruh. Era pengawasan manual perlahan ditinggalkan, digantikan dengan pendekatan berbasis teknologi dan data yang lebih presisi.

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menjadi garda terdepan dalam perubahan ini. Dalam berbagai kesempatan, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Aan Suhanan menegaskan bahwa sistem lama sudah tidak lagi memadai untuk menghadapi kompleksitas transportasi modern. Jumlah kendaraan logistik yang terus meningkat tidak sebanding dengan jumlah personel pengawas di lapangan.

“Artinya kita perlu melakukan pengawasan berbasis teknologi dan data secara digital karena manual tidak bisa lagi, kami akan maksimalkan pemanfaatan data yang ada di kementerian dan lembaga lainnya,” jelas Aan di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Pernyataan tersebut bukan sekadar wacana. Ia menjadi penanda bahwa pemerintah sedang menggeser paradigma pengawasan dari yang bersifat reaktif menjadi proaktif. Jika sebelumnya pelanggaran baru diketahui setelah terjadi, kini teknologi memungkinkan deteksi dilakukan secara real-time bahkan sebelum kendaraan melaju jauh.

Salah satu teknologi yang menjadi andalan adalah kamera tilang elektronik atau ETLE. Sistem ini mampu merekam pelanggaran secara otomatis tanpa perlu interaksi langsung antara petugas dan pengemudi. Selain itu, terdapat pula teknologi Weigh in Motion (WIM), sebuah sistem jembatan timbang modern yang dapat mengukur berat kendaraan saat sedang melaju tanpa harus berhenti.

Kombinasi kedua teknologi ini menciptakan sistem pengawasan yang lebih efisien, cepat, dan akurat. Tidak ada lagi celah untuk manipulasi data atau negosiasi di lapangan. Semua terekam, terdokumentasi, dan terintegrasi dalam sistem digital yang transparan.

Namun transformasi ini tidak berhenti pada penggunaan teknologi semata. Pemerintah juga mendorong integrasi data lintas lembaga sebagai fondasi utama pengawasan modern. Kementerian Perhubungan bekerja sama dengan berbagai instansi, mulai dari Korlantas Polri, Kementerian Pekerjaan Umum, badan usaha jalan tol, hingga Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan.

Kolaborasi ini menciptakan sebuah ekosistem pengawasan yang saling terhubung. Data kendaraan, muatan, hingga perizinan dapat diakses secara terpadu, sehingga memudahkan identifikasi pelanggaran dan penentuan sanksi. Dengan kata lain, pengawasan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari sistem besar yang saling mendukung.

Menariknya, transformasi ini juga membawa perubahan dalam cara pandang terhadap tanggung jawab pelanggaran. Selama ini, sopir truk sering kali menjadi pihak yang disalahkan ketika terjadi pelanggaran ODOL. Padahal, keputusan untuk memuat barang berlebih tidak selalu berada di tangan pengemudi.

Dengan sistem digital yang terintegrasi, pemerintah kini dapat menelusuri rantai tanggung jawab secara lebih adil. Pemilik barang, operator logistik, hingga perusahaan transportasi dapat dimintai pertanggungjawaban jika terbukti terlibat dalam pelanggaran.

“Selama ini kalau ada pelanggaran, pengemudi kerap jadi kambing hitam padahal ada pemilik barang atau pemilik kendaraan yang kalau mereka aware dengan keselamatan seharusnya tidak boleh memuat barang sebanyak itu. Dengan sistem yang kita bangun saat ini, tidak hanya pengemudi, tanggung jawab juga akan dibebankan ke operator atau pengusaha,” tututnya.

Pendekatan ini menjadi langkah penting dalam menciptakan keadilan sekaligus mendorong perubahan perilaku di sektor logistik. Ketika semua pihak memiliki tanggung jawab yang jelas, maka potensi pelanggaran dapat ditekan secara signifikan.

Di sisi lain, transformasi digital juga diharapkan mampu menjawab persoalan klasik yang selama ini menghantui sektor transportasi, yaitu praktik pungutan liar atau pungli. Interaksi langsung antara petugas dan pengemudi sering kali membuka peluang terjadinya negosiasi yang tidak sehat.

Dengan adanya sistem berbasis teknologi seperti CCTV dan ETLE, ruang untuk praktik tersebut semakin sempit. Semua proses berjalan otomatis dan terekam, sehingga sulit untuk dimanipulasi.

“Terkait pungli kita tidak menutup mata masih terjadi dan kami tegas terhadap pelanggaran tersebut, sudah ada yang kita demosi tidak kerja di jembatan timbang lagi,” ungkap dia.

“Kita pun melihat ini sebagai tantangan untuk terus mengawasi personil kita agar tidak melakukan pungli, makanya dengan adanya sistem digital seperti CCTV atau ETLE akan menutup ruang terjadinya tawar-menawar pengemudi dengan petugas jadi menutup ruang adanya pungli,” tegasnya.

Langkah ini menjadi angin segar bagi upaya reformasi birokrasi di sektor transportasi. Transparansi yang dihadirkan oleh teknologi tidak hanya meningkatkan kepercayaan publik, tetapi juga memperkuat integritas institusi.

Semua upaya ini pada akhirnya bermuara pada satu tujuan besar: mewujudkan Zero ODOL pada tahun 2027. Target ini bukanlah hal yang mudah, mengingat kompleksitas permasalahan yang ada. Namun dengan strategi yang terencana dan dukungan teknologi, optimisme mulai tumbuh.

Pemerintah saat ini tengah menjalankan masa transisi menuju kebijakan tersebut. Sosialisasi dilakukan secara intensif kepada berbagai pihak, termasuk asosiasi pengemudi dan pelaku usaha logistik. Tujuannya adalah untuk mengurangi resistensi sekaligus membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya keselamatan.

Perubahan memang tidak bisa terjadi dalam semalam. Dibutuhkan waktu, komitmen, dan kerja sama dari semua pihak. Namun langkah yang diambil saat ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak lagi setengah hati dalam menangani persoalan ODOL.

Di tengah dinamika global yang terus berubah, sektor logistik memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Kelancaran distribusi barang menjadi kunci utama dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun kelancaran tersebut tidak boleh mengorbankan keselamatan.

Transformasi digital yang dilakukan Kementerian Perhubungan menjadi bukti bahwa teknologi dapat menjadi solusi untuk menjawab tantangan zaman. Ia bukan hanya alat, tetapi juga jembatan menuju sistem yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, jalan raya bukan sekadar jalur transportasi. Ia adalah ruang bersama yang harus dijaga keamanannya oleh semua pihak. Setiap kendaraan yang melintas membawa tanggung jawab, tidak hanya terhadap barang yang diangkut, tetapi juga terhadap keselamatan manusia.

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, harapan untuk mewujudkan transportasi yang lebih aman bukanlah sesuatu yang mustahil. Seperti yang ditegaskan Aan Suhanan, tujuan utama dari semua upaya ini adalah melindungi nyawa.

“Dengan orkestrasi yang dipimpin Kemenko Infrawil dan komitmen yang sama dari semua kementerian-lembaga, saya optimistis 2027 Zero Over Dimension Over Load dapat tercapai. Mari kita akhiri toleransi terhadap kendaraan over dimension dan over load, juga terhadap kecelakaan lalu lintas karena tidak ada yang lebih penting dari keselamatan manusia, satu nyawa terlalu banyak,” pungkasnya.

Kalimat itu seolah menjadi penutup sekaligus pengingat bahwa di balik setiap kebijakan, ada tujuan yang jauh lebih besar dari sekadar angka dan target. Ada keselamatan, ada kehidupan, dan ada masa depan yang ingin dijaga bersama.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain