Daftar Isi
Megapolitan.id – Upaya menjaga kawasan konservasi laut di Nusa Tenggara Timur (NTT) memasuki babak baru. Balai Pengelola Kelautan (BPK) Kupang bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) meluncurkan program uji coba teknologi monitoring dan pengawasan di kawasan Taman Nasional Laut Sawu.
Teknologi tersebut dihadirkan untuk menjawab tantangan pengawasan kawasan laut yang memiliki cakupan sangat luas. Luas wilayah laut Taman Nasional Laut Sawu di NTT mencapai 3,35 juta hektare, sehingga pemantauan secara konvensional membutuhkan waktu, tenaga, dan sumber daya yang tidak sedikit.
Kepala BPK Kupang Imam Fauzi mengatakan, pemanfaatan teknologi menjadi kebutuhan penting untuk memastikan kawasan konservasi dapat dipantau secara lebih efektif.
“Kawasan Taman Nasional Laut Sawu merupakan kawasan yang sangat luas dibandingkan dengan perairan wilayah lain di Indonesia, tentunya untuk melakukan monitoring butuh tenaga karena itu saat ini bersama YKAN sudah ada alatnya yang bisa digunakan untuk memonitoring,” katanya.
Dua Teknologi untuk Perluas Jangkauan Pengawasan
Dalam uji coba tersebut, terdapat dua teknologi yang akan digunakan, yakni Havoc-Rampange dan Blueoasis-Hydrotwin. Kedua teknologi ini dirancang untuk membantu proses monitoring kawasan sekaligus mengumpulkan informasi mengenai kondisi ekosistem laut.
Imam menjelaskan, perangkat tersebut juga dapat digunakan untuk memantau keberadaan berbagai mamalia laut yang hidup di kawasan Taman Nasional Laut Sawu. Data hasil pemantauan nantinya dapat dikirimkan secara langsung kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta.
Selama ini, proses monitoring di kawasan tersebut masih banyak dilakukan secara manual. Petugas harus melakukan penyelaman dan kegiatan lapangan yang membutuhkan waktu cukup panjang. Kondisi tersebut tidak hanya membuat pemantauan menjadi lebih terbatas, tetapi juga membawa risiko terhadap keselamatan petugas.
Pemanfaatan teknologi diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap metode pemantauan manual sekaligus memperluas cakupan wilayah yang dapat diawasi.
Havoc-Rampange Bisa Menjangkau 1.400 Kilometer
Officer In Charge (OIC) Manager YKAN Wildan menjelaskan, salah satu teknologi yang digunakan adalah Havoc-Rampange. Perangkat ini merupakan drone kapal atau wahana permukaan otonom yang dirancang untuk membantu pengelolaan kawasan konservasi dalam skala besar.
“Fungsinya adalah mendukung pengelolaan kawasan konservasi dalam skala besar. Jangkuannya juga bisa mencapai 1.400 kilometer sehingga lebih luas proses monitoringnya,” tambah dia.
Havoc-Rampange menggunakan sistem penggerak listrik yang terintegrasi dengan panel surya. Teknologi tersebut juga mampu menyediakan data secara real time maupun berdasarkan periode tertentu sehingga dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan berbasis data.
Kemampuan lainnya adalah mendeteksi keberadaan dan distribusi berbagai mamalia laut, seperti paus, lumba-lumba, dan dugong. Selain itu, perangkat tersebut juga dapat membantu mengidentifikasi biota laut berukuran besar serta kemunculan spesies penting.
“Tak hanya itu teknologi tersebut juga mampu mendeteksi kemunculan spesies penting,” katanya.
Blueoasis-Hydrotwin Identifikasi Suara di Dasar Laut
Teknologi kedua yang akan digunakan adalah Blueoasis-Hydrotwin. Berbeda dengan Havoc-Rampange yang berbentuk wahana permukaan, teknologi ini bekerja dengan memanfaatkan suara yang berasal dari bawah laut.
Wildan menjelaskan, Blueoasis-Hydrotwin dapat mengubah suara yang terdengar di dasar laut menjadi informasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Sistem tersebut kemudian dapat digunakan untuk membantu proses pengambilan keputusan sekaligus mengidentifikasi sumber suara secara otomatis.
“Jadi bisa memastikan apakah suara yang didengar itu suara mamalia laut, atau suara kapal,” ujar dia.
Kemampuan tersebut dinilai penting untuk mendukung pemantauan aktivitas di kawasan konservasi. Dengan mengenali sumber suara, petugas dapat memperoleh informasi tambahan mengenai keberadaan mamalia laut maupun aktivitas kapal yang berada di sekitar kawasan.
Pemasangan Dimulai September 2026
Uji coba teknologi ini akan memasuki tahap pemasangan dalam waktu dekat. Wildan menjelaskan, pemasangan Havoc-Rampange dijadwalkan pada akhir September, sedangkan Blueoasis-Hydrotwin akan dipasang pada akhir Oktober 2026.
Kehadiran dua teknologi tersebut diharapkan membuat pengawasan Taman Nasional Laut Sawu semakin efektif. Dengan wilayah mencapai 3,35 juta hektare, pemanfaatan teknologi berbasis otomatisasi, energi terbarukan, dan kecerdasan buatan menjadi langkah strategis untuk memperkuat perlindungan ekosistem laut.
Selain membantu petugas mengumpulkan data secara lebih cepat dan luas, sistem monitoring berbasis teknologi juga diharapkan dapat menghasilkan informasi yang lebih akurat sebagai dasar pengelolaan kawasan konservasi dan perlindungan berbagai spesies laut penting di Taman Nasional Laut Sawu.