Home LiterasiaHaruskah Bilang Ya? Ketika Jawaban Tidak Cukup Hanya Dua

Haruskah Bilang Ya? Ketika Jawaban Tidak Cukup Hanya Dua

Juwanda (Mahasiswa Smt. 6 Jurusan Manajemen Bisnis Syari'ah Institut Agama Islam SEBI)

by Ikon logo megapolitanTim Megapolitan
A+A-
Reset

Megapolitan.ID | Setiap keputusan penting sering kali datang tiba-tiba. Ia tidak selalu memberi waktu panjang untuk berpikir, apalagi ruang nyaman untuk ragu. Di tengah rutinitas kuliah, organisasi, dan urusan pribadi, kadang muncul sebuah tawaran yang tampak seperti peluang emas, tetapi menyisakan dilema besar. Seperti “Kamu bersedia ikut program pertukaran pelajar ke luar negeri semester depan?” Pertanyaannya terdengar sederhana. Hanya butuh jawaban: iya atau tidak. Tapi benarkah hanya itu pilihannya?

Bagi banyak mahasiswa, kesempatan ikut program pertukaran pelajar adalah mimpi. Tapi realitas tidak sesederhana itu. Bayangkan kamu baru saja mengambil mata kuliah skripsi, sedang jadi pengurus organisasi, dan juga harus menjaga orang tua yang sedang sakit. Saat ditawari ikut program internasional selama satu semester, kamu merasa dilematis. Jawab “iya” artinya harus meninggalkan tanggung jawab lain. Jawab “tidak” artinya melewatkan peluang emas.

Inilah bentuk keputusan yang dalam pandangan awam terjebak dalam dua jawaban: terima atau tolak. Tapi menurut Barry F. Anderson dalam buku Heart and Mind: Mastering the Art of Decision Making, pola pikir semacam itu adalah bagian dari jebakan bernama low alternative generation. Kita terlalu cepat membuat keputusan hanya karena mengira hanya ada dua pilihan. Padahal, justru ketika kita merasa hanya punya dua jalan, di situlah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: “Apakah benar hanya ini pilihannya?”

Anderson menjelaskan bahwa keputusan yang baik diambil bukan hanya berdasarkan “opsi di depan mata”, tapi dibangun berdasarkan nilai-nilai penting yang kita pegang baik nilai tanggung jawab, pengembangan diri, maupun loyalitas terhadap keluarga atau tim. Konsep ini dikenal sebagai value-focused thinking, yaitu cara berpikir yang menempatkan nilai sebagai pusat dalam proses pengambilan keputusan.

Jadi bagaimana jika kita berpikir sedikit lebih kreatif dan strategis?

Daripada hanya memilih antara “ikut” atau “tidak ikut”, kita bisa menciptakan alternatif seperti menunda keikutsertaan ke batch berikutnya jika program masih dibuka semester depan. Atau mengikuti program daring sebagai pengganti. Bisa juga menyelesaikan sebagian tanggung jawab seperti skripsi secara jarak jauh, atau mencari solusi keluarga agar tanggung jawab di rumah dapat dibagi selama program berlangsung. Semua itu bisa jadi pilihan, tergantung bagaimana kita menimbang dan menyusun prioritas berdasarkan nilai yang kita yakini.

Sebagian orang mungkin merasa bahwa terlalu banyak berpikir dalam mengambil keputusan menunjukkan kelemahan. Tapi sebaliknya, dalam dunia yang kompleks seperti hari ini, kemampuan mempertimbangkan berbagai alternatif justru menunjukkan kedewasaan dan kecermatan dalam berpikir. Apalagi ketika menyangkut keputusan yang menyangkut lebih dari satu dimensi kehidupan: akademik, keluarga, sosial, dan spiritual.

Langkah-langkah semacam ini disebut oleh Anderson sebagai bagian dari creative alternative generation, yakni kemampuan menciptakan pilihan-pilihan kreatif berdasarkan nilai-nilai hidup. Ia juga memperkenalkan teknik bernama force fit, yaitu upaya menyatukan hal-hal yang tampaknya bertentangan, seperti “ikut program luar negeri” dan “selesaikan skripsi tepat waktu”. Mungkin keduanya bisa tercapai jika kita mencari bentuk pelaksanaan skripsi yang fleksibel dan disetujui oleh pembimbing. Atau bahkan menjadikan pengalaman di luar negeri sebagai bagian dari riset itu sendiri.

Contoh sederhana bisa ditemukan dalam kehidupan kampus sehari-hari. Suatu ketika, seorang mahasiswa ditawari mengikuti short course ke luar negeri, namun ia sedang menjabat sebagai koordinator kegiatan sosial tahunan di kampus. Keputusan itu terlihat sebagai dua kutub yang saling bertolak belakang. Namun setelah dilakukan diskusi internal, pembagian peran dalam kepanitiaan disusun ulang, dan komunikasi virtual difungsikan secara maksimal. Alhasil, mahasiswa tersebut tetap bisa mengikuti program luar negeri dan kegiatan kampus berjalan lancar. Dari peristiwa ini tampak jelas bahwa alternatif bukan muncul karena kondisi ideal, tetapi karena kemauan untuk terbuka dan mencari jalan.

Sebagai mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah, saya melihat bahwa konsep-konsep ini sangat relevan dengan prinsip pengambilan keputusan dalam Islam. Islam mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa, untuk bermusyawarah, mempertimbangkan maslahat, dan berpikir dalam kerangka nilai. Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai pemimpin yang selalu mempertimbangkan masukan dari sahabat-sahabatnya sebelum mengambil keputusan penting. Artinya, berpikir luas dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan adalah bagian dari ajaran yang luhur.

Di era sekarang, pengambilan keputusan semakin menantang. Informasi berlimpah, tekanan sosial tinggi, dan waktu terasa sempit. Kita tergoda untuk cepat menjawab, cepat bergerak, cepat selesai. Tapi jika setiap keputusan hanya kita dasarkan pada impuls atau tekanan luar, kita akan kehilangan kendali atas arah hidup kita sendiri.

Jawaban “iya” atau “tidak” bisa jadi permulaan diskusi. Tapi bukan berarti itu akhir dari pilihan. Kita bisa menciptakan jalan tengah, menjembatani kebutuhan dan harapan, serta membangun keputusan yang lebih matang, kreatif, dan bernilai.
Jadi, ketika kamu ditanya “ikut pertukaran pelajar atau tidak?”, jangan terburu-buru menjawab. Luangkan waktu untuk berpikir, bertanya, dan menyusun alternatif. Karena dalam hidup ini, sering kali keputusan terbaik tidak ditemukan di ujung pertanyaan, tapi di tengah proses pencarian jawaban yang lebih dalam. Itulah mengapa berpikir kreatif dan berlandaskan nilai jauh lebih penting dibanding sekadar cepat menjawab.

Mengambil keputusan bukan sekadar memilih, tapi juga tentang menciptakan pilihan yang sesuai dengan siapa diri kita. Dan itu adalah keterampilan yang akan membentuk kualitas kita sebagai pemimpin masa depan.

Referensi :
PPT Perkuliahan Pengambilan Keputusan & Negosiasi “Decision Making and Negotiation – Week 5: Generating Alternatives.” 2025.
Anderson, Barry F. 2003. Heart and Mind: Mastering the Art of Decision Making. Oxford: Oxford University Press.

 

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes1No0

Baca Artikel Lain