Daftar Isi
Megapolitan.id – Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus memperkuat langkah menuju industri rendah karbon dengan mendorong pemanfaatan energi terbarukan di kawasan industri tersebut.
Sejalan dengan target pemerintah mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat, perusahaan-perusahaan di kawasan IMIP mulai memperluas penggunaan teknologi hijau, khususnya melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Salah satu proyek terbaru datang dari tenant kawasan IMIP, PT Sumber Energi Surya Morowali (Sesmo), yang akan membangun PLTS berkapasitas 200 MWp.
Gunakan Lahan 224 Hektare
Deputi Direktur Operasional PT IMIP, Yulius Susanto, mengatakan pembangunan PLTS tersebut akan berdiri di atas lahan seluas 224 hektare dan dilengkapi sistem penyimpanan baterai sebesar 80 Mw.
“Pembangunan PLTS di PT Sesmo dengan luas lahan 224 ha, berkapasitas 200 MWp dan penyimpanan baterai 80 Mw, untuk mendukung teknologi energi bersih menuju industri yang berkelanjutan,” kata Yulius Susanto..
Menurutnya, listrik yang dihasilkan PLTS berasal dari energi matahari tanpa proses pembakaran bahan bakar fosil, sehingga emisi karbon operasionalnya jauh lebih rendah dibanding pembangkit listrik batu bara maupun diesel.
Kurangi Ketergantungan Batu Bara
PLTS tersebut nantinya akan digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional pabrik dan perkantoran PT Sesmo di kawasan IMIP.
Selain sebagai sumber energi tambahan, penggunaan tenaga surya juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbasis batu bara secara bertahap.
Skema pemakaian mandiri dengan penyaluran surplus listrik disebut dapat membantu optimalisasi pemanfaatan energi surya sekaligus menjaga stabilitas sistem kelistrikan di kawasan industri.
Pemanfaatan energi surya ini diperkirakan mampu menekan konsumsi batu bara hingga puluhan ribu ton setiap tahun, sekaligus mengurangi emisi nitrogen oksida dan sulfur dioksida.
Dorong Standar Industri Ramah Lingkungan
Langkah pengembangan PLTS ini juga dinilai mendukung peningkatan kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan atau ESG yang kini menjadi indikator penting dalam persaingan industri global.
IMIP berharap pengembangan energi terbarukan di kawasan industri dapat terus meningkat seiring perkembangan teknologi penyimpanan energi dan bertambahnya kapasitas pembangkit hijau.
Dengan porsi energi bersih yang semakin besar, sistem industri di kawasan tersebut diharapkan perlahan bertransformasi menuju struktur energi rendah karbon.
Sejumlah Tenant Sudah Terapkan Teknologi Hijau
Sebelumnya, sejumlah tenant di kawasan IMIP juga telah menerapkan teknologi energi hijau.
Di antaranya adalah PLTS Kanal Fatufia dengan kapasitas sekitar 1,27 MWp dan total 2.190 panel surya. Selain itu, PT DSI telah memiliki PLTS atap dengan kapasitas 65,89 MWp yang menggunakan 119.800 panel surya silikon monokristalin di area seluas sekitar 396.700 meter persegi.
Sementara itu, PT QMB New Energy Materials juga tengah merencanakan pembangunan PLTS berkapasitas 6 MWp.
Tak hanya PLTS, kawasan IMIP juga mengembangkan PLTU Co-Generation yang dikelola PT DSI dengan kapasitas 65 MWp dan PT HYNC sebesar 50 MWp.
“PLTS bukan sekadar pembangkit listrik alternatif, tetapi instrumen strategis transisi energi modern. Bagi industri, PLTS penting bukan hanya karena “hijau”, tetapi karena energi bersih mulai menjadi syarat ekonomi masa depan. Perusahaan yang lambat beradaptasi berisiko tertinggal dalam efisiensi, investasi, dan akses pasar internasional,” tegas Yulius Susanto.