Megapolitan.id – Tempe merupakan salah satu makanan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Selain mudah ditemukan, tempe juga memiliki harga yang terjangkau dan bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan. Tidak heran jika tempe selalu ada di rumah tangga, warung makan, hingga pedagang kaki lima. Namun, di balik makanan sederhana tersebut, ada proses panjang dan perjuangan para pengrajin tempe yang jarang diketahui banyak orang.
Salah satu penjual tempe membagikan cerita tentang bagaimana dirinya menjalankan usaha tersebut setiap hari. Baginya, membuat tempe bukan hanya sekadar pekerjaan, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan yang dijalani sejak lama.
Memulai Aktivitas Sejak Jam 02.00 Pagi
Saat kebanyakan orang masih tidur, penjual tempe sudah mulai bekerja. Ia harus bangun dini hari untuk menyiapkan tempe sebelum para pelanggan datang membeli.
“Iya, jam 02.00 pagi, Sampai jam 06.00 pagi,” ujarnya.
Rutinitas tersebut dilakukan setiap hari agar tempe siap dijual pada pagi hari. Pekerjaan ini tentu membutuhkan tenaga dan kedisiplinan yang tinggi karena kualitas tempe harus tetap terjaga.
Bagi pengrajin tempe, menjaga kualitas sangat penting supaya pelanggan tetap percaya dan terus membeli tempe buatannya. Jika kualitas menurun, pelanggan bisa saja beralih ke penjual lain.
Pembeli Datang dari Berbagai Kalangan
Tempe ternyata tidak hanya dibeli oleh ibu rumah tangga, tetapi juga oleh pedagang makanan dan penjual keliling. Hal itu membuat permintaan tempe tetap ada setiap hari.
“Ya kalau konsumen, ya campur sudah itu wis. Ada yang, yang keliling, ada yang konsumen rumah tangga, ada juga itu warung-warung lalapan pinggir jalan itu. Gitu. Yang banyak lalapannya saya sama yang keliling,” katanya.
Warung lalapan menjadi salah satu pelanggan tetap karena tempe sering dijadikan lauk tambahan yang murah dan mudah disajikan. Selain itu, penjual keliling juga membeli tempe untuk dijual kembali kepada masyarakat.
Hal tersebut menunjukkan bahwa tempe masih menjadi makanan yang dibutuhkan banyak orang karena murah, praktis, dan mudah diolah.
Pembungkus Tempe Menggunakan Plastik dan Daun
Dalam proses penjualannya, penjual tempe tersebut lebih sering menggunakan plastik sebagai pembungkus. Namun, untuk beberapa jenis tempe tertentu masih memakai daun.
“Saya pakai plastik. Pakai yang daun itu kalau yang ada kulitnya. Pasti kalau ada yang ada kulitnya pakai, pakai daun itu,” jelasnya.
Menurutnya, penggunaan daun sebenarnya lebih murah dibandingkan plastik. Akan tetapi, saat ini harga plastik semakin naik.
“Padahal kalau pakai daun, murah daun. Plastiklah dua kali lipat naiknya. Biasanya 10 sekarang 20.”
Kenaikan harga plastik menjadi salah satu tantangan bagi usaha kecil seperti pengrajin tempe. Meskipun begitu, penggunaan daun masih dipertahankan karena dianggap lebih tradisional dan memiliki aroma khas.
Proses Pembuatan Tempe Tidak Instan
Banyak orang mengira tempe bisa langsung dijual setelah dibuat. Padahal, proses pembuatannya membutuhkan waktu beberapa hari.
“Tempe itu dari proses penggilingan itu 3 hari jadinya. Makanya modalnya tempe itu harus tiga, punya modal tiga,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pengrajin harus memiliki stok kedelai yang cukup agar produksi tetap berjalan lancar setiap hari.
“Nah, maksudnya punya modal tiga, kalau punya modal gini, satu kuintal harus punya tiga kuintal, gitu. Kalau ada persiapan untuk besok, punya empat kuintal, gitu.”
Selain membutuhkan waktu, harga kedelai yang naik turun juga menjadi kendala bagi pengrajin tempe. Menurutnya, harga kedelai sangat dipengaruhi oleh nilai dolar.
“Ya naik turun, apalagi kalau dolarnya sudah naik tambah naik. Ini karena dolar yang naik, nah. Dulu hanya 7.000.”
Kondisi tersebut tentu memengaruhi keuntungan yang didapat para penjual tempe. Meski begitu, ia tetap mempertahankan usahanya karena sudah menjadi pekerjaan yang dijalani sejak lama.
Usaha yang Sudah Turun-Temurun
Penjual tempe tersebut mengaku sudah mengenal usaha tempe sejak muda karena mengikuti pekerjaan orang tuanya.
“Memang saya hobi, ya pengrajinnya tempe sejak dulu. Saya turun-temurun ini.”
Ia juga menambahkan, “Dari orang tua dulu.”
Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa usaha tempe bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga warisan keluarga yang terus dipertahankan hingga sekarang.
Kisah penjual tempe ini menunjukkan bahwa di balik makanan sederhana yang sering dikonsumsi sehari-hari, terdapat kerja keras, ketekunan, dan perjuangan panjang yang dilakukan setiap hari sejak dini hari.