Home TeknologiMahasiswa FEB Untirta Lolos Google Student Ambassador 2026, Muhammad Wira Pratama Jadi Inspirasi Generasi Digital
dok.untirta.ac.id

Mahasiswa FEB Untirta Lolos Google Student Ambassador 2026, Muhammad Wira Pratama Jadi Inspirasi Generasi Digital

by Ikon logo megapolitanSalwa
A+A-
Reset

Megapolitan.id – Di tengah derasnya arus transformasi digital yang terus mengubah wajah pendidikan, kabar membanggakan datang dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Bukan sekadar pencapaian pribadi, prestasi ini juga menjadi simbol bahwa mahasiswa daerah mampu bersaing di panggung nasional, bahkan menembus program bergengsi yang berada di bawah naungan perusahaan teknologi kelas dunia.

Adalah Muhammad Wira Pratama, mahasiswa kelas 4D Jurusan Perbankan dan Keuangan FEB Untirta dengan NIM 5504240066, yang berhasil mencatatkan namanya sebagai salah satu peserta terpilih dalam program Google Student Ambassador (GSA). Program resmi dari Google ini dikenal sebagai wadah prestisius yang menunjuk mahasiswa terpilih untuk menjadi representatif di lingkungan kampus, sekaligus menjadi penghubung antara teknologi, dunia akademik, dan inovasi masa depan.

Bagi sebagian orang, lolos ke program yang membawa nama besar Google mungkin terdengar seperti mimpi yang jauh. Namun bagi Wira, langkah itu justru dimulai dari sesuatu yang sederhana: rasa penasaran, kemauan belajar, dan keberanian untuk mencoba.

Ketika Teknologi Bukan Lagi Sekadar Alat, tapi Jalan untuk Berkontribusi

Di era saat teknologi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari kehidupan sehari-hari, mahasiswa dituntut untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga agen perubahan. Hal inilah yang tampaknya dipahami betul oleh Wira.

Ketertarikannya mengikuti program Google Student Ambassador bukan lahir dari keinginan mengejar popularitas atau sekadar menambah daftar prestasi. Lebih dari itu, ia melihat ada peluang besar untuk mengambil peran nyata di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, terutama di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Di tengah kampus yang terus beradaptasi dengan era digital, Wira ingin hadir sebagai representasi mahasiswa yang bukan hanya melek teknologi, tetapi juga mampu mendorong pemanfaatannya secara optimal.

“Melihat perkembangan AI yang begitu cepat, saya ingin menjadi bagian dari perubahan itu. Saya ingin membantu mahasiswa untuk memaksimalkan potensi teknologi agar lebih produktif dan inovatif,” ujarnya.

Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi mengandung makna besar. Di balik kalimat tersebut, ada semangat seorang mahasiswa yang menyadari bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat berlari, tetapi juga oleh siapa yang mau terus belajar dan beradaptasi.

Google Student Ambassador, Lebih dari Sekadar Gelar Bergengsi

Google Student Ambassador bukan sekadar program biasa. Ini adalah inisiatif resmi dari Google yang dirancang untuk menjembatani perusahaan teknologi global dengan komunitas akademik. Dalam perannya, para ambassador diharapkan mampu menjadi penghubung yang aktif antara Google dan lingkungan kampus, khususnya dalam mendorong pemanfaatan teknologi digital serta berbagai tools Google untuk mendukung produktivitas, kolaborasi, dan inovasi.

Peran ini tentu bukan sesuatu yang ringan. Seorang Google Student Ambassador tidak hanya dituntut memahami teknologi, tetapi juga harus mampu berkomunikasi dengan baik, membangun jejaring, menciptakan dampak nyata, dan menginspirasi mahasiswa lain agar lebih siap menghadapi tantangan era digital.

Dengan kata lain, program ini mencari sosok yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga visioner, komunikatif, dan punya kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.

Di sinilah Wira menunjukkan kapasitasnya.

Berawal dari Riset Mandiri, Berlanjut ke Seleksi yang Ketat

Menariknya, perjalanan Wira menuju Google Student Ambassador tidak datang secara instan. Ia tidak sekadar menunggu informasi datang, melainkan aktif mencari peluang. Informasi mengenai program GSA diperolehnya melalui riset mandiri di portal resmi Google for Education, komunitas teknologi, hingga media sosial resmi Google Indonesia.

Langkah ini menunjukkan satu hal penting: kesempatan sering kali datang kepada mereka yang mau mencari, bukan hanya menunggu.

Selain itu, Wira juga aktif memantau berbagai program pengembangan kepemimpinan mahasiswa. Baginya, peningkatan kapasitas diri di bidang teknologi bukanlah sesuatu yang bisa dicapai hanya lewat ruang kelas. Dibutuhkan inisiatif, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk membuka pintu-pintu baru di luar kurikulum formal.

Namun, menemukan informasi hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya dimulai saat proses seleksi berlangsung.

Program Google Student Ambassador dikenal memiliki proses seleksi yang ketat dan kompetitif. Setiap peserta harus melewati beberapa tahapan penting, mulai dari seleksi administrasi, pembuatan konten video kreatif untuk menunjukkan personal branding dan pemahaman terhadap teknologi, hingga wawancara mendalam yang menguji visi, kemampuan komunikasi, dan potensi dampak yang bisa diberikan kepada lingkungan sekitar.

Di tahap ini, penilaian tidak hanya berfokus pada seberapa pintar kandidat memahami teknologi, tetapi juga pada bagaimana mereka mampu menerjemahkan teknologi menjadi solusi yang relevan dan bermanfaat.

Artinya, menjadi GSA bukan hanya soal tahu fitur Google Workspace atau paham AI. Lebih dari itu, kandidat harus mampu menunjukkan bahwa dirinya bisa menjadi penggerak perubahan.

Bersaing dengan Puluhan Ribu Mahasiswa dari Seluruh Indonesia

Salah satu hal yang membuat pencapaian Wira terasa semakin istimewa adalah skala kompetisi yang dihadapinya. Berdasarkan informasi yang beredar, program Google Student Ambassador tahun ini diikuti oleh lebih dari 20.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dari jumlah sebesar itu, hanya sekitar 2.000 mahasiswa terbaik yang berhasil terpilih menjadi bagian dari tim Google di berbagai wilayah.

Angka ini bukan sekadar statistik. Ia menggambarkan betapa ketatnya persaingan dan betapa tingginya standar seleksi yang harus dilalui.

Di tengah ribuan peserta dengan latar belakang beragam, Wira berhasil menonjol dan membuktikan bahwa mahasiswa dari FEB Untirta juga punya daya saing tinggi di tengah ekosistem digital nasional. Prestasi ini tentu bukan hanya milik pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi kampus, fakultas, program studi, bahkan daerah asalnya.

Di saat banyak mahasiswa masih ragu untuk mencoba program-program besar karena merasa kurang percaya diri, keberhasilan Wira justru menjadi pengingat bahwa kesempatan selalu terbuka bagi siapa saja yang mau berproses.

Dukungan Kampus yang Menjadi Energi Tambahan

Di balik keberhasilan seorang mahasiswa, sering kali ada lingkungan yang turut berperan. Hal itu juga dirasakan Wira.

Ia menyampaikan bahwa dukungan dari Program Studi D3 Perbankan menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanannya. Program studi tidak hanya memberikan ruang akademik, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk berkembang di luar kurikulum formal, khususnya dalam hal integrasi teknologi digital ke dalam bidang perbankan dan keuangan.

Di era saat dunia finansial semakin terdigitalisasi, dukungan seperti ini menjadi sangat relevan. Mahasiswa perbankan tidak lagi cukup hanya memahami teori ekonomi dan layanan keuangan konvensional. Mereka juga perlu akrab dengan teknologi, sistem digital, data, dan inovasi yang akan membentuk masa depan industri.

“Dukungan moral dan apresiasi dari kampus menjadi motivasi tambahan bagi saya untuk terus berkembang dan akhirnya bisa lolos di program ini,” tambahnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa apresiasi kecil dari lingkungan sekitar bisa menjadi bahan bakar besar bagi seseorang untuk melangkah lebih jauh. Kampus yang memberi ruang tumbuh bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan talenta yang siap bersaing di tingkat nasional dan global.

Personal Branding, Komunikasi, dan Mental Tangguh

Menariknya, dari seluruh perjalanan ini, Wira juga membagikan pesan yang terasa sangat relevan bagi mahasiswa masa kini. Dalam dunia yang semakin kompetitif, kemampuan teknis memang penting, tetapi bukan satu-satunya kunci.

Ia mengajak mahasiswa lain untuk berani mencoba, terus haus akan ilmu, serta membangun personal branding yang kuat. Di samping itu, kemampuan komunikasi dan kepemimpinan juga menjadi bekal penting agar seseorang tidak hanya berkembang untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu membawa dampak positif bagi lingkungan.

“Jangan pernah menyerah saat gagal, karena masih banyak peluang di luar sana yang bisa dieksplorasi. Justru dari kegagalan itulah awal dari keberhasilan,” pesannya.

Pesan ini terdengar sederhana, tetapi sangat kuat. Banyak mahasiswa sering kali berhenti hanya karena satu penolakan, satu kegagalan, atau satu kesempatan yang tidak berhasil diraih. Padahal, dalam dunia yang bergerak cepat, kegagalan justru sering kali menjadi titik awal dari proses yang lebih besar.

Wira menunjukkan bahwa keberhasilan bukan lahir dari keberuntungan semata, tetapi dari kombinasi antara keberanian, konsistensi, dan mental yang tahan banting.

Bukan Hanya Aktif di Teknologi, tapi Juga Bersinar di Ajang Duta Daerah

Yang membuat sosok Wira semakin menarik adalah kenyataan bahwa prestasinya tidak berhenti di ranah akademik dan teknologi. Ia juga aktif di ajang duta daerah, sebuah ruang yang menuntut kemampuan komunikasi publik, kepercayaan diri, wawasan, dan representasi karakter.

Wira tercatat sebagai Runner Up 1 Kang Kota Serang 2025 dan dijadwalkan melanjutkan kompetisi ke tingkat Provinsi Banten pada ajang Kang Nong tahun 2026.

Fakta ini memperlihatkan bahwa dirinya bukan hanya unggul dalam aspek teknologi, tetapi juga memiliki kualitas personal yang lengkap: komunikatif, adaptif, dan mampu tampil sebagai figur representatif. Kombinasi inilah yang tampaknya membuat profilnya semakin kuat dalam seleksi Google Student Ambassador.

Di era sekarang, mahasiswa yang menonjol memang bukan hanya mereka yang pintar di kelas, tetapi juga mereka yang mampu menyeimbangkan kemampuan intelektual, sosial, dan kepemimpinan.

Prestasi yang Menjadi Pemantik Semangat

Pengumuman kelolosan program Google Student Ambassador diterima Wira pada 1 April 2026 melalui email resmi. Bagi banyak orang, email mungkin hanyalah notifikasi biasa. Namun bagi Wira, itu adalah penanda bahwa semua proses, usaha, dan keyakinan yang ia bangun perlahan akhirnya berbuah hasil.

Prestasi ini tentu layak dirayakan. Tetapi lebih dari itu, pencapaian ini seharusnya menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa Untirta lainnya—bahkan mahasiswa Indonesia secara umum—bahwa tidak ada batas pasti untuk berkembang.

Dari ruang kelas di FEB Untirta, Wira membuktikan bahwa langkah menuju panggung nasional bahkan global bukanlah hal mustahil. Dengan kemauan belajar, keberanian mencoba, dan lingkungan yang mendukung, mahasiswa bisa menjadi lebih dari sekadar peserta kuliah. Mereka bisa menjadi inovator, penggerak, dan inspirasi.

Pada akhirnya, kisah Muhammad Wira Pratama bukan hanya tentang seorang mahasiswa yang lolos program Google Student Ambassador. Ini adalah cerita tentang generasi muda yang memilih untuk tidak diam di tengah perubahan. Tentang keberanian untuk mengambil peran. Tentang tekad untuk tidak sekadar mengikuti zaman, tetapi ikut membentuk arah masa depan.

Dan dari Untirta, satu nama kini memberi pesan yang jelas: anak muda kampus daerah pun bisa melangkah jauh, selama mau terus belajar dan berani membuka peluang.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain