Daftar Isi
Megapolitan.id – Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Dukungan pemerintah terhadap energi ramah lingkungan, ditambah meningkatnya minat masyarakat, membuat pasar mobil listrik semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian utama konsumen adalah teknologi baterai. Namun, pelaku industri menilai perkembangan teknologi tersebut justru semakin memberi rasa aman bagi pengguna kendaraan listrik.
CEO Indomobil Dealership Group, Santiko Wardoyo, mengatakan inovasi baterai kendaraan listrik akan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi global.
“Dulu handphone tebal, sekarang tipis. Teknologi baterai juga akan terus berkembang,” ujarnya kepada wartawan usai peresmian Indomobil Expo Jogja 2026 di Pakuwon Mall Jogja.
Garansi Baterai Jadi Daya Tarik Konsumen
Santiko menjelaskan, saat ini sejumlah merek kendaraan listrik telah menawarkan skema garansi baterai yang cukup panjang, bahkan ada yang memberikan jaminan seumur hidup dengan syarat tertentu.
“Untuk beberapa tipe seperti AION ada lifetime warranty, selama kendaraan tidak diperjualbelikan. Ada juga free service sampai 60 ribu kilometer atau enam tahun, tergantung variannya,” jelasnya.
Berbagai merek mobil listrik seperti Citroen, Maxus, hingga Volkswagen (VW) kini telah dipasarkan di Indonesia dengan jaminan garansi untuk meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap ketahanan baterai dan komponen utama kendaraan.
TKDN Sudah di Atas 40 Persen
Selain pengembangan teknologi, industri kendaraan listrik nasional juga mulai memperkuat produksi dalam negeri.
Menurut Santiko, kendaraan listrik yang dipasarkan saat ini sudah dirakit di Indonesia dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) lebih dari 40 persen, meski sebagian komponen baterai masih berasal dari impor.
“Kalau baterai memang masih belum semuanya diproduksi di dalam negeri. Tapi TKDN dihitung dari satu unit kendaraan secara keseluruhan,” katanya.
Ia optimistis produksi baterai di Indonesia hanya tinggal menunggu waktu.
“Cepat atau lambat baterai juga pasti akan diproduksi di sini,” ujarnya.
Penjualan EV Naik Hampir Dua Kali Lipat
Dari sisi pasar, penjualan kendaraan listrik nasional pada periode Januari hingga Maret 2026 tercatat meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
Segmen kendaraan dengan harga di bawah Rp500 juta masih mendominasi pasar karena dianggap paling sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Yang ramai memang harga di bawah Rp500 juta. Karena pasar terbesar memang ada di situ,” kata Santiko.
Ia menambahkan, perusahaan kini lebih fokus mengembangkan kendaraan listrik murni atau full electric vehicle (EV), sejalan dengan dukungan pemerintah terhadap segmen tersebut.
“Kami fokus ke full EV karena itu yang paling didukung pemerintah,” ujarnya.
Meski demikian, kendaraan hybrid masih memiliki pasar tersendiri, terutama bagi konsumen yang mempertimbangkan keterbatasan infrastruktur pengisian daya listrik.
Biaya Operasional Lebih Hemat
Salah satu alasan meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik adalah efisiensi biaya operasional yang jauh lebih murah dibanding mobil berbahan bakar minyak.
“Kalau biasanya biaya BBM sebulan Rp3 juta, dengan EV mungkin sekitar Rp600 ribu saja,” jelasnya.
Selain hemat biaya energi, kendaraan listrik juga mendapatkan keringanan pajak. Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), biaya tahunan kendaraan listrik hanya berkisar Rp200 ribu untuk administrasi.
“Pajaknya gratis. Mau mobil murah atau mahal tetap administrasinya sekitar Rp200 ribu,” tambahnya.
Pasar EV Yogyakarta Terus Tumbuh
Di tingkat regional, pasar kendaraan listrik di Yogyakarta juga mengalami perkembangan signifikan. Penjualan EV saat ini diperkirakan mencapai 120 hingga 140 unit per bulan atau sekitar 15 persen dari total pasar kendaraan di segmen tertentu.
Model kendaraan listrik dengan harga di bawah Rp400 juta masih menjadi pilihan favorit masyarakat.
Seiring tren positif tersebut, penjualan kendaraan listrik tahun ini ditargetkan meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi teknis, Santiko menilai kendaraan listrik memiliki sistem yang lebih sederhana dibanding mobil konvensional karena tidak menggunakan transmisi rumit maupun oli mesin.
“Mobil listrik itu simpel. Tidak ada transmisi rumit, tidak ada oli mesin seperti mobil biasa,” ujarnya.