Daftar Isi
Megapolitan.ID | Persaingan di ranah internet satelit bakal semakin panas. Badan antariksa Rusia, Roscosmos, mengumumkan rencana peluncuran perdana terminal internet satelit milik mereka pada penghujung tahun 2025. Proyek ini digadang-gadang menjadi langkah strategis Rusia dalam menyaingi dominasi Starlink milik Elon Musk.
Kepala Roscosmos yang baru, Dmitry Bakanov, mengungkapkan bahwa peluncuran perdana akan membawa sebanyak 16 satelit ke orbit rendah, serupa dengan skema yang digunakan oleh Starlink saat pertama kali mengorbit. Pernyataan ini ia sampaikan pada Kamis, 19 Juni 2025, seperti dikutip dari The Moscow Times dan dilansir kembali oleh Bisnis.com.
Satelit-satelit tersebut diberi nama Rassvet, yang dalam bahasa Rusia berarti “fajar.” Satelit ini dikembangkan oleh Bureau 1440, sebuah perusahaan teknologi luar angkasa Rusia, dan dirancang untuk menyebarkan akses internet broadband secara luas. Program ini akan menjadi bagian dari strategi jangka panjang Rusia di sektor komunikasi berbasis luar angkasa.
Menurut rencana, lebih dari 900 satelit akan diluncurkan secara bertahap hingga tahun 2035. Namun, layanan komersial sudah mulai direncanakan berjalan pada 2027 dengan melibatkan lebih dari 250 satelit Rassvet. Bakanov menambahkan bahwa peluncuran rutin akan dimulai pada bulan Desember mendatang.
Program Ambisius Bernilai Triliunan
Proyek Rassvet merupakan bagian dari program besar pengembangan teknologi antariksa Rusia senilai 4,4 triliun rubel atau setara dengan sekitar US$57 miliar, yang baru saja mendapat restu dari Presiden Vladimir Putin. Ini bukan sekadar proyek teknologi, tapi simbol kekuatan dan kedaulatan digital negara.
Sebetulnya, keinginan Rusia untuk membangun jaringan saingan Starlink sudah muncul sejak 2018 lewat proyek bernama Sfera, namun sempat terhenti karena berbagai sanksi internasional yang menekan Roscosmos. Kini, dengan tongkat estafet kepemimpinan baru, proyek-proyek lama mulai dihidupkan kembali, termasuk peluncuran tiga satelit Rassvet-1 pada Juni 2023 lalu di bawah direktur Roscosmos sebelumnya, Yury Borisov. Sayangnya, Borisov diberhentikan awal tahun ini setelah deretan proyek tertunda dan masalah internal.
Internet dan Konflik Global
Starlink selama ini dikenal luas bukan hanya karena kecepatan internetnya, tapi juga perannya dalam konflik geopolitik global. Di sejumlah titik panas dunia—seperti antara Rusia dan Ukraina, atau konflik yang melibatkan Iran dan Israel—Starlink sering kali hadir sebagai solusi konektivitas saat jaringan lokal lumpuh total.
Contohnya, ketika konflik antara Iran dan Israel memuncak, Iran langsung membatasi akses internet secara nasional. Langkah ini diambil setelah serangan udara besar-besaran dari Israel menghantam berbagai kota dan fasilitas vital, termasuk infrastruktur nuklir dan pangkalan militer Iran. Pemerintah Iran beralasan bahwa pemutusan akses internet dilakukan karena “situasi luar biasa” dan bersifat sementara.
Namun, pembatasan ini membuat masyarakat hampir sepenuhnya terputus dari komunikasi digital. Menurut laporan NetBlocks, jaringan internet di Iran hanya tersisa 10 hingga 20 persen saja. Sebagian besar wilayah benar-benar gelap digital, kecuali beberapa titik di wilayah utara.
Melihat situasi tersebut, Elon Musk melalui perusahaannya SpaceX, mengumumkan pengaktifan layanan Starlink di Iran sebagai upaya tanggap darurat. SpaceX sendiri berbasis di Florida, Amerika Serikat—negara yang diketahui merupakan sekutu utama Israel.
Langkah ini tentu saja menjadi bentuk intervensi digital dan menambah panjang perdebatan soal kedaulatan internet dalam konflik geopolitik. Teknologi Starlink dengan mudahnya menembus batas sensor dan pemadaman yang diberlakukan pemerintah setempat. Di sisi lain, upaya Iran untuk memblokir atau menghentikan sinyal Starlink juga menemui jalan buntu, karena keterbatasan teknologi pertahanan rudal mereka yang tak mampu menjangkau jumlah satelit Starlink yang begitu banyak dan tersebar luas.
Menjawab Tantangan Teknologi Global
Dengan semakin besarnya peran layanan internet satelit seperti Starlink dalam percaturan global, tidak heran jika negara-negara besar mulai berlomba menciptakan teknologi serupa untuk menghindari ketergantungan pada satu pemain.
Peluncuran Rassvet menjadi langkah awal Rusia untuk menyusul ketertinggalan dan mengambil bagian dalam pasar internet satelit global. Selain untuk kebutuhan domestik dan komersial, proyek ini juga berfungsi sebagai langkah strategis menjaga kedaulatan informasi di tengah ketegangan geopolitik.
Roscosmos menargetkan proyek ini tidak hanya memberikan akses internet ke wilayah-wilayah terpencil di Rusia, tetapi juga bisa menjadi alternatif internasional di masa depan.
Dunia perlahan-lahan bergeser dari dominasi internet berbasis kabel menuju jaringan satelit yang bebas dari batas geografis. Perang konektivitas ini bukan hanya soal kecepatan, tapi juga menyangkut kendali informasi dan kekuatan geopolitik.
Rusia tampaknya tidak mau tertinggal. Lewat proyek Rassvet yang ambisius dan dana triliunan rubel, negara beruang merah ini berupaya memantapkan diri sebagai pemain penting di dunia internet satelit. Akankah Rassvet mampu menyinari langit digital seperti Starlink? Waktu yang akan menjawabnya.[]