Home TeknologiStudi Terbaru Energi Terbarukan Lebih Efektif daripada Teknologi Sedot Karbon
dok.lestari.kompas.com

Studi Terbaru Energi Terbarukan Lebih Efektif daripada Teknologi Sedot Karbon

by Ikon logo megapolitanSalwa
A+A-
Reset

Megapolitan.id – Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Communication Sustainability mengungkap temuan penting terkait strategi pengurangan emisi karbon. Penelitian ini menyebutkan bahwa investasi pada teknologi penyedot karbon atau Direct Air Capture (DAC) dinilai lebih mahal dibandingkan dengan pengembangan energi terbarukan seperti tenaga angin dan surya.

Melansir Tech Xplore, Senin (4/5/2026), para peneliti menemukan bahwa hampir di seluruh wilayah Amerika Serikat hingga tahun 2050, pembangunan pembangkit listrik tenaga angin maupun surya memberikan manfaat yang jauh lebih besar, baik bagi iklim maupun kesehatan masyarakat, dibandingkan jika dana yang sama dialokasikan untuk teknologi DAC.

Cara Pandang Baru dalam Menilai Teknologi Karbon

Selama ini, penilaian terhadap teknologi DAC cenderung terbatas pada dua pertanyaan utama: apakah mesin ini mampu menyerap lebih banyak karbon daripada yang dihasilkannya, dan apakah biaya per ton karbon yang diserap tergolong masuk akal.

Pendekatan tersebut dinilai kurang komprehensif karena hanya membandingkan teknologi DAC dengan kondisi tanpa tindakan apa pun. Dalam studi terbaru ini, peneliti menghadirkan pendekatan berbeda dengan membandingkan langsung investasi DAC dengan energi terbarukan yang dapat dibangun menggunakan jumlah dana yang sama.

Para peneliti menilai metode ini lebih relevan untuk menjadi dasar pertimbangan kebijakan pemerintah dalam menentukan strategi mitigasi perubahan iklim.

“Penelitian kami menekankan bahwa sekadar menjadi ‘negatif karbon’ saja tidak cukup untuk membuat teknologi penyedot karbon (DAC) menjadi investasi yang menguntungkan,” ujar Dr. Yannai Kashtan, penulis utama sekaligus ilmuwan kualitas udara di PSE Healthy Energy.

Simulasi di 22 Wilayah hingga 2050

Dalam penelitian ini, tim ilmuwan melakukan simulasi perbandingan manfaat antara teknologi DAC, panel surya skala besar, dan turbin angin darat di 22 wilayah Amerika Serikat untuk periode 2020 hingga 2050.

Empat skenario teknologi DAC diuji. Skenario pertama menggambarkan kondisi saat ini, di mana teknologi membutuhkan sekitar 5.500 kWh energi dengan biaya 1.000 dolar AS per ton karbon yang ditangkap.

Sementara itu, skenario ambisius menunjukkan peningkatan efisiensi dengan konsumsi energi turun menjadi 1.500 kWh dan biaya 500 dolar AS per ton. Bahkan, dalam skenario “terobosan besar”, kebutuhan energi ditekan hingga 800 kWh dengan biaya hanya 100 dolar AS per ton.

Hasil Mengejutkan: Energi Bersih Tetap Unggul

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahkan jika teknologi DAC berkembang pesat di masa depan, investasi pada energi terbarukan tetap memberikan keuntungan yang lebih besar.

Setiap dana yang dialokasikan untuk energi bersih tidak hanya berdampak pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan dan lingkungan yang jauh lebih signifikan.

Temuan paling mencolok adalah pada penggunaan teknologi DAC saat ini. Mesin tersebut justru berpotensi menghasilkan lebih banyak polusi dan gas rumah kaca dibandingkan jumlah karbon yang berhasil diserap. Hal ini terjadi karena kebutuhan listrik yang sangat besar, yang masih banyak dipasok dari sumber energi berbasis fosil.

Dampak Kesehatan Jadi Pertimbangan Penting

Penelitian ini juga menyoroti aspek yang sering diabaikan, yakni dampak terhadap kesehatan masyarakat. Jika teknologi DAC dioperasikan menggunakan listrik dari bahan bakar fosil, maka akan muncul polusi tambahan seperti sulfur dioksida, nitrogen oksida, dan partikel halus yang berbahaya bagi warga sekitar.

Sebaliknya, pembangunan energi terbarukan justru memberikan dampak positif secara konsisten di berbagai wilayah dan skenario yang diuji.

“Tujuannya agar uang yang kita pakai untuk memperbaiki iklim memberikan hasil yang maksimal, namun dengan efek samping yang sesedikit mungkin,” ujar Dr. Jonathan J. Buonocore, penulis senior sekaligus asisten profesor kesehatan lingkungan di Boston University School of Public Health dan Institute for Global Sustainability.

DAC Tetap Berperan, Tapi dengan Batasan

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini bukan berarti teknologi DAC harus ditinggalkan sepenuhnya. Teknologi tersebut dinilai masih memiliki peran penting, terutama untuk menghilangkan sisa karbon di atmosfer setelah emisi berhasil ditekan secara signifikan.

Namun, studi ini memberikan standar baru yang lebih ketat dalam menentukan kapan dan bagaimana teknologi DAC sebaiknya digunakan, terutama dalam konteks efisiensi biaya dan dampak keseluruhan terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat.

Arah Kebijakan Iklim ke Depan

Temuan ini menjadi sinyal kuat bagi para pembuat kebijakan untuk lebih cermat dalam menentukan prioritas investasi iklim. Dengan sumber daya yang terbatas, pilihan antara teknologi canggih dan solusi yang sudah terbukti efektif menjadi krusial.

Energi terbarukan, dalam hal ini, kembali menegaskan posisinya sebagai solusi utama yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat luas bagi kehidupan manusia.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain