Home BeritaKorlantas Dorong Integrasi Data Pengemudi Taksi, Upaya Tekan Kecelakaan
dok. rri.co.id

Korlantas Dorong Integrasi Data Pengemudi Taksi, Upaya Tekan Kecelakaan

by Ikon logo megapolitanSalma
A+A-
Reset

Upaya meningkatkan keselamatan lalu lintas terus menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk Kepolisian Republik Indonesia. Dalam hal ini, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mendorong langkah strategis melalui integrasi data perilaku pengemudi, khususnya di sektor transportasi taksi. Langkah ini dinilai penting untuk menekan angka kecelakaan sekaligus meningkatkan kualitas keselamatan di jalan raya.

Kepala Korps Lalu Lintas Polri (Kakorlantas) Irjen Pol Agus Suryonugroho menegaskan bahwa pendekatan dalam menangani kecelakaan tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum semata. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan kolaboratif, melibatkan berbagai pihak termasuk perusahaan transportasi.

Hal tersebut disampaikan dalam audiensi bersama manajemen perusahaan taksi, di mana Agus menekankan pentingnya kerja sama dalam menciptakan sistem keselamatan yang lebih baik. “Bukan dalam rangka intervensi, tetapi kolaborasi yang terbaik seperti apa,” ujar Agus dilansir dari laman humaspolri.go.id, Rabu, 6 Mei 2026.

Pendekatan Komprehensif dalam Keselamatan

Menurut Agus, setiap peristiwa kecelakaan perlu dilihat dari berbagai aspek, tidak hanya menyalahkan pengemudi semata. Faktor kendaraan, kondisi jalan, hingga manajemen perusahaan juga harus menjadi bagian dari evaluasi.

Pendekatan ini menekankan bahwa keselamatan lalu lintas merupakan tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara regulator, operator transportasi, serta pengguna jalan untuk menciptakan sistem yang lebih aman.

Salah satu langkah konkret yang didorong adalah pencatatan rekam jejak pengemudi atau traffic attitude record. Sistem ini memungkinkan perusahaan untuk memantau perilaku pengemudi secara lebih terstruktur, termasuk riwayat pelanggaran dan tingkat kepatuhan terhadap aturan lalu lintas.

Dengan adanya data yang terintegrasi, perusahaan dapat mengambil langkah preventif, seperti memberikan pembinaan atau pelatihan tambahan bagi pengemudi yang dinilai berisiko.

Peran Pelatihan dan ISDC

Selain integrasi data, Korlantas Polri juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi pengemudi melalui pelatihan. Salah satu fasilitas yang disiapkan adalah Indonesia Safety Driving Center (ISDC), yang menjadi pusat pelatihan keselamatan berkendara.

“Kita punya ISDC, Indonesia Safety Driving Center. Nanti pengemudi bisa dilatih kembali agar lebih baik,” ujar Agus.

Pelatihan ulang ini bertujuan untuk memastikan bahwa pengemudi memiliki keterampilan dan pemahaman yang sesuai dengan standar keselamatan. Tidak hanya dari sisi teknis mengemudi, tetapi juga sikap dan perilaku di jalan.

Program pelatihan ini diharapkan dapat menjadi model kerja sama antara Korlantas Polri dengan perusahaan transportasi. Dengan demikian, peningkatan keselamatan tidak hanya dilakukan secara reaktif, tetapi juga preventif melalui edukasi dan pembinaan.

Membangun Budaya Tertib Berlalu Lintas

Dalam kesempatan tersebut, Agus juga menekankan bahwa kepatuhan berlalu lintas harus menjadi budaya bersama. Ia menyebut bahwa keberhasilan tidak diukur dari banyaknya penindakan, melainkan dari meningkatnya kesadaran masyarakat.

“Yang kami banggakan bukan penegakan hukum, tetapi ketika pengguna jalan sadar akan keselamatan dan disiplin berlalu lintas,” ujarnya.

Pernyataan ini mencerminkan perubahan paradigma dalam pengelolaan lalu lintas, dari yang sebelumnya berfokus pada penegakan hukum menjadi pendekatan yang lebih edukatif dan partisipatif.

Sorotan Publik Pasca Insiden Bekasi Timur

Isu keselamatan transportasi, khususnya taksi, kembali menjadi perhatian publik setelah insiden kecelakaan kereta api di kawasan Bekasi Timur. Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran terkait standar operasional dan keselamatan angkutan umum di wilayah perkotaan yang padat.

Dalam insiden tersebut, perjalanan kereta rel listrik sempat terhenti karena terhalang kendaraan taksi di perlintasan rel. Taxi Green SM dilaporkan tersangkut di jalur tersebut sehingga menghambat laju kereta sebelum akhirnya terjadi tabrakan.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, terutama di area rawan seperti perlintasan kereta api.

Audit dan Investigasi Pemerintah

Menanggapi insiden tersebut, Kementerian Perhubungan mengambil langkah cepat dengan melakukan audit investigasi terhadap Taxi Green SM. Audit ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh aspek operasional perusahaan telah sesuai dengan standar keselamatan yang berlaku.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan bahwa audit dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek teknis operasional hingga kualitas sumber daya manusia.

Selain itu, inspeksi langsung juga dilakukan ke pool Taxi Green SM di Kemayoran, Jakarta. Audit ini dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Darat guna memastikan penerapan sistem keselamatan berjalan dengan baik.

Fokus utama pemeriksaan adalah pada Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK PAU). Sistem ini menjadi indikator penting dalam menilai apakah perusahaan telah menjalankan prosedur keselamatan secara konsisten.

Menunggu Hasil Investigasi KNKT

Sementara itu, terkait penyebab pasti kecelakaan, pemerintah meminta masyarakat untuk menunggu hasil investigasi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Dudy mengimbau agar semua pihak menghormati proses investigasi yang sedang berlangsung. Hal ini penting agar hasil yang diperoleh benar-benar objektif dan dapat dijadikan dasar dalam perbaikan sistem keselamatan ke depan.

Menurutnya, KNKT saat ini masih melakukan investigasi secara menyeluruh terhadap kecelakaan antara KRL dan Kereta Api Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur. Proses tersebut melibatkan pengumpulan data lapangan serta analisis mendalam.

Penutup

Langkah Korlantas Polri dalam mendorong integrasi data perilaku pengemudi dan peningkatan pelatihan melalui ISDC menjadi bagian dari upaya besar dalam menciptakan sistem transportasi yang lebih aman. Didukung dengan audit dan investigasi dari pemerintah, diharapkan kejadian serupa dapat dicegah di masa mendatang.

Keselamatan lalu lintas bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan hasil dari kolaborasi semua elemen. Dengan membangun budaya disiplin dan memanfaatkan teknologi, Indonesia diharapkan mampu menghadirkan sistem transportasi yang lebih aman, tertib, dan berkelanjutan.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain