Home BeritaRemaja Sragen Ubah Lahan Kritis Jadi Produktif, Marshela Dianugerahi Kalpataru Youth Award 2026
dok. rri.co.id

Remaja Sragen Ubah Lahan Kritis Jadi Produktif, Marshela Dianugerahi Kalpataru Youth Award 2026

by Ikon logo megapolitanSalma
A+A-
Reset

Megapolitan.id |- Usia muda tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk menciptakan perubahan besar. Hal itulah yang dibuktikan oleh Marshela Wahyu Muntia, remaja asal Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, yang berhasil meraih Kalpataru Youth Award 2026. Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi tertinggi di bidang lingkungan hidup yang diberikan kepada generasi muda inspiratif yang telah menunjukkan kontribusi nyata dalam menjaga kelestarian alam.

Penghargaan Kalpataru yang diinisiasi langsung oleh Kementerian Lingkungan Hidup menjadi pengakuan atas dedikasi Marshela dalam menggerakkan aksi lingkungan di daerahnya. Di usianya yang baru menginjak 18 tahun, ia telah mampu membangun gerakan yang melibatkan banyak anak muda untuk terlibat dalam upaya konservasi dan pemulihan lingkungan.

Perjalanan Marshela tidak dimulai dari program besar atau dukungan sumber daya yang melimpah. Semua berawal dari rasa prihatin terhadap kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Sejak usia 15 tahun, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan lingkungan dan mulai memahami berbagai persoalan ekologis yang terjadi di wilayahnya.

Kesadaran tersebut kemudian berkembang menjadi keinginan untuk melakukan sesuatu yang lebih nyata. Baginya, menjaga lingkungan bukan hanya sekadar mengikuti kegiatan seremonial atau kampanye sesaat, melainkan sebuah tanggung jawab yang harus diwujudkan melalui aksi langsung di lapangan.

Lahirnya Warsa Kelana, Wadah Anak Muda Peduli Alam

Semangat itu akhirnya melahirkan sebuah komunitas bernama Warsa Kelana atau Wadah Aksi Remaja Peduli Kelestarian Alam Nusantara. Komunitas ini didirikan Marshela tiga tahun lalu ketika usianya baru 16 tahun.

Melalui Warsa Kelana, ia ingin membuktikan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Komunitas tersebut menjadi ruang bagi para remaja di Sragen untuk belajar, berkolaborasi, dan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan konservasi alam.

“Komunitas bergerak yang menghimpun anak-anak muda di Sragen untuk terlibat langsung dalam upaya restorasi lahan kritis. Awalnya dari kesadaran sendir ikut kegiatan lingkungan dan saya berpikir anak muda juga bisa berperan dalam menjaga alam,” ujar Marshela, kepada rri.co.id ditulis, Sabtu, 13 Juni 2026.

Seiring berjalannya waktu, Warsa Kelana berkembang menjadi komunitas yang aktif menjalankan berbagai program lingkungan. Fokus utama mereka adalah pemulihan lahan kritis yang banyak ditemukan di kawasan utara Bengawan Solo, khususnya wilayah Kabupaten Sragen.

Bersama 25 hingga 50 sukarelawan yang tergabung dalam komunitas tersebut, Marshela secara rutin melakukan kegiatan penanaman pohon, edukasi lingkungan, hingga berbagai upaya restorasi lahan yang mengalami kerusakan.

Mengubah Limbah Ternak Menjadi Pupuk Organik

Tidak hanya menggerakkan komunitas, Marshela juga menghadirkan inovasi yang berangkat dari permasalahan yang ditemuinya di lingkungan sekitar. Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah banyaknya limbah peternakan sapi yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Melihat kondisi tersebut, ia mengembangkan Pupuk Saphio, yaitu pupuk organik berbahan dasar limbah ternak sapi yang diolah untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Inovasi ini tidak hanya membantu mengurangi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi kegiatan restorasi lahan yang dijalankan komunitasnya. Menurut Marshela, berbagai persoalan lingkungan sebenarnya dapat diselesaikan dengan solusi sederhana apabila masyarakat mampu melihat potensi yang ada di sekitarnya.

Pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik juga menjadi contoh bagaimana pendekatan ekonomi sirkular dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara tersebut, limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai justru dapat menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Belajar dari Banyak Sumber untuk Meningkatkan Kapasitas

Dalam menjalankan berbagai program lingkungannya, Marshela tidak berjalan sendirian. Ia aktif belajar dari berbagai pihak yang memiliki pengalaman dan pengetahuan di bidang konservasi lingkungan.

Salah satu sumber pembelajaran utamanya adalah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sragen. Dari instansi tersebut, ia mendapatkan berbagai pengetahuan praktis mulai dari teknik pembibitan tanaman, metode penanaman yang efektif, hingga pengolahan pupuk organik.

Selain belajar secara langsung, Marshela juga memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk memperluas wawasan. Berbagai referensi dan materi terkait pelestarian lingkungan ia pelajari melalui platform digital yang mudah diakses.

Kegigihannya dalam mengembangkan kapasitas diri membuahkan hasil yang membanggakan. Sebelum meraih Kalpataru Youth Award 2026, Marshela telah lebih dulu memperoleh penghargaan Green Ambassador Nasional pada tahun 2024. Penghargaan tersebut diselenggarakan oleh Institut Hijau Indonesia bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Tantangan Mengajak Anak Muda Terlibat Langsung

Meski berbagai pencapaian berhasil diraih, perjalanan Marshela tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah mengajak lebih banyak anak muda untuk terlibat secara aktif dalam gerakan lingkungan.

Menurutnya, membuat konten kampanye di media sosial bukanlah hal yang paling sulit. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana membangun kesadaran sehingga orang-orang mau turun langsung dan mengambil bagian dalam aksi nyata.

“Tantangannya bukan membuat konten saja. Melainkan bagaimana membuat orang mau terlibat dan bergerak,” katanya.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Marshela dan tim Warsa Kelana rutin melakukan sosialisasi ke berbagai sekolah di Kabupaten Sragen. Dalam kegiatan tersebut, mereka memperkenalkan isu-isu lingkungan sekaligus menjelaskan program yang sedang dijalankan komunitas.

Setelah sesi edukasi berlangsung, Warsa Kelana membuka kesempatan bagi para pelajar yang ingin bergabung sebagai sukarelawan. Langkah ini terbukti efektif dalam menarik minat generasi muda untuk ikut berkontribusi menjaga lingkungan.

Restorasi Lahan Kritis Mulai Menunjukkan Hasil

Selain tantangan sumber daya manusia, faktor alam juga menjadi kendala yang cukup besar dalam program restorasi lahan. Musim kemarau yang panjang sering kali menyulitkan proses penanaman karena terbatasnya ketersediaan air.

Untuk mengatasinya, tim Warsa Kelana melakukan berbagai langkah persiapan sebelum masa tanam dimulai. Mereka memperbaiki kualitas tanah melalui pembuatan biopori dan pemberian pupuk organik agar kondisi lahan lebih siap menerima tanaman baru.

Kerja keras yang dilakukan secara konsisten selama beberapa tahun mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hingga saat ini, sekitar satu hektare lahan kritis berhasil direstorasi dan ditanami berbagai tanaman produktif seperti alpukat dan nangka.

Bahkan, sebagian pohon alpukat yang ditanam di wilayah Gesi, Sragen, telah memasuki masa panen. Hasil tersebut menjadi bukti nyata bahwa upaya kecil yang dilakukan secara berkelanjutan mampu memberikan dampak besar bagi lingkungan.

Kalpataru sebagai Pengingat Tanggung Jawab Generasi Muda

Bagi Marshela, penghargaan Kalpataru Youth Award bukanlah garis akhir dari perjuangannya. Sebaliknya, penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan di masa depan.

Ia meyakini bahwa generasi muda memiliki posisi penting sebagai penerus sekaligus penjaga bumi. Oleh karena itu, keterlibatan anak muda dalam berbagai gerakan lingkungan harus terus didorong agar tercipta perubahan yang lebih luas dan berkelanjutan.

“Karena itu, generasi muda harus ikut menjaga lingkungan. Sebab kitalah yang akan menjadi penerus sekaligus penyelamat lingkungan di masa mendatang,” ucapnya.

Melalui semangat, inovasi, dan aksi nyata yang telah dilakukannya, Marshela Wahyu Muntia membuktikan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk memberikan kontribusi besar bagi lingkungan. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil, selama dilakukan dengan konsisten dan penuh kepedulian.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain