Home BeritaMemperingati HAKTEKNAS ( Hari Kebangkitan Nasional ) di Tanggal 10 Agustus
dok.rri.co.id

Memperingati HAKTEKNAS ( Hari Kebangkitan Nasional ) di Tanggal 10 Agustus

by Ikon logo megapolitanSalwa
A+A-
Reset

Megapolitan.id – Setiap 10 Agustus, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS), sebuah momentum untuk mengenang perjalanan teknologi nasional sekaligus mendorong lahirnya inovasi baru karya anak bangsa.

Peringatan HAKTEKNAS memiliki akar sejarah yang kuat. Momentum tersebut berkaitan dengan penerbangan perdana pesawat N-250 Gatotkaca pada 10 Agustus 1995 di Bandung. Pesawat turboprop tersebut dirancang oleh B.J. Habibie bersama komunitas ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) nasional.

Peristiwa itu kemudian menjadi tonggak penting perkembangan teknologi Indonesia. Pemerintah menetapkan 10 Agustus sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 71 Tahun 1995.

Kini, setelah lebih dari tiga dekade, HAKTEKNAS kembali menjadi ruang untuk menunjukkan perkembangan inovasi Indonesia. Pada 2026, peringatan memasuki tahun ke-31 dengan mengangkat berbagai agenda strategis di bidang riset, teknologi, dan inovasi.

Inovator Baterai UNS Raih Indonesia Innovator Award 2026

Dalam rangkaian HAKTEKNAS ke-31, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memberikan Indonesia Innovator Award 2026 kepada Prof. Dr. Eng. Ir. Agus Purwanto, S.T., M.T.

Prof. Agus merupakan pakar teknologi baterai dari Universitas Sebelas Maret (UNS) sekaligus Kepala Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi Teknologi Penyimpanan Energi Listrik UNS.

Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam pengembangan teknologi pembentukan nanopartikel, metode spray pyrolysis, serta pengembangan dan hilirisasi baterai lithium di Indonesia.

Pemberian penghargaan menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memberikan apresiasi kepada talenta unggul nasional sekaligus mendorong semakin banyak peneliti menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dorong Indonesia Kuasai Teknologi Baterai

Selain memberikan penghargaan, peringatan HAKTEKNAS ke-31 juga menghadirkan Indonesia Innovator Lecture 2026. Kuliah umum tersebut disampaikan oleh Dr. Eng. Ir. Aditya Farhan Arif, Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC).

Kegiatan yang berlangsung pada 10 Agustus 2026 di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Jakarta, tersebut membahas transformasi penguasaan teknologi baterai di Indonesia.

Salah satu fokus utamanya adalah bagaimana mengubah penguasaan teknologi baterai dari tahap laboratorium dan riset pertambangan menuju industri manufaktur yang terintegrasi.

Pengembangan ekosistem kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) juga menjadi perhatian. Indonesia didorong tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi mampu membangun ekosistem industri baterai secara menyeluruh.

Ambisi yang dibangun adalah menempatkan Indonesia sebagai salah satu episentrum global industri baterai berbasis nikel dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri. Dengan penguasaan teknologi dan kapasitas industri lokal yang semakin kuat, nilai tambah komoditas diharapkan dapat dinikmati di dalam negeri, bukan berhenti pada ekspor bahan mentah.

Sosok di Balik Pengembangan Industri Baterai

Aditya Farhan Arif memiliki latar belakang akademis di bidang teknologi material dan penyimpanan energi. Ia meraih gelar Doctor of Engineering (PhD) dari Hiroshima University, Jepang, dengan fokus penelitian pada nanostrukturisasi material maju dan efisiensi penyimpanan energi elektrokimia.

Pengalamannya juga mencakup berbagai proyek komersialisasi teknologi. Ia terlibat dalam industrialisasi katalis nasional, pengolahan logam tanah jarang, proses manufaktur end-to-end HPAL hingga baterai NMC, serta pengembangan awal fuel cell electric vehicle (FCEV) Toyota.

Pengalaman tersebut menjadi modal dalam mendorong pengembangan industri baterai nasional yang tidak hanya kuat dari sisi riset, tetapi juga mampu masuk ke tahap industrialisasi.

Program PRIMA Jembatani Riset dan Kebijakan

Agenda HAKTEKNAS ke-31 juga ditandai dengan peluncuran Program Riset Kebijakan Pembangunan Merah Putih (PRIMA) oleh BRIN bersama LPDP pada 10 Agustus 2026 di Jakarta.

Program PRIMA dirancang sebagai wadah sinergi riset nasional sekaligus upaya menyelaraskan hasil penelitian dengan kebutuhan pembangunan dan kebijakan pemerintah.

Program tersebut didukung melalui skema RISPRO (Riset Proaktif) Invitasi hasil kolaborasi BRIN dan LPDP. Fokusnya adalah menghasilkan riset terapan lintas sektoral yang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan berbasis bukti atau evidence-based policy.

Melalui skema tersebut, riset tidak hanya berhenti di ruang laboratorium. Hasil penelitian diarahkan agar dapat menjawab persoalan nyata sekaligus menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pembangunan.

177 Topik Riset Disiapkan untuk 2026

Untuk memastikan penelitian benar-benar sesuai kebutuhan pembangunan, topik riset dihimpun melalui forum bersama para sekretaris jenderal kementerian. Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan yang dihadapi pemerintah secara langsung.

Pada 2026, BRIN telah menyiapkan 177 topik riset kebijakan pembangunan yang siap dijalankan untuk mendukung program kerja prioritas nasional.

Program PRIMA diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara hasil riset di laboratorium, kesiapan industri, dan regulasi pemerintah. Dengan demikian, inovasi yang lahir dari perguruan tinggi dan lembaga riset memiliki jalur yang lebih jelas menuju penerapan.

HAKTEKNAS Bukan Sekadar Peringatan

Rangkaian HAKTEKNAS ke-31 menunjukkan bahwa kebangkitan teknologi Indonesia terus bergerak dari satu fase ke fase berikutnya. Jika pada 1995 Indonesia menorehkan sejarah melalui penerbangan N-250 Gatotkaca, kini tantangannya berkembang menuju penguasaan teknologi strategis seperti baterai, kendaraan listrik, dan riset kebijakan pembangunan.

Momentum 10 Agustus karena itu bukan sekadar peringatan sejarah. HAKTEKNAS menjadi pengingat bahwa kemandirian teknologi membutuhkan keberanian berinovasi, kekuatan riset, dukungan industri, serta kebijakan pemerintah yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.

Melalui kolaborasi BRIN, LPDP, perguruan tinggi, industri, dan pemerintah, Indonesia terus didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi negara yang mampu menciptakan, mengembangkan, dan mengindustrialisasikan teknologi karya anak bangsa.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain