Home LiterasiaIntuisi atau Analisis? Mencari Titik Temu dalam Pengambilan Keputusan Strategis

Intuisi atau Analisis? Mencari Titik Temu dalam Pengambilan Keputusan Strategis

Oleh: Jasmine Zahira Firda (Mahasiswa Institut Agama Islam SEBI)

by Ikon logo megapolitanTim Megapolitan
A+A-
Reset

Megapolitan.ID | Sebuah keputusan strategis bagaikan dua sisi yang berbeda, satu sisi menghaarapkan analisis yang cepat dan cermat, sisi lain nya hanya berbasis firasat dan intuisi. Realita nya, tidak semua hasil keputusan lahir berdasarkan analisi data yang cermat dan mendalam, banyak dari pemimpin bahkan individu mengambil keputsan hanya berdasarkan firasat dan intuisi, sesuatu yang tak terukur namun terasa benar. Padahal, banyak dari orang menyebutkan bahwa sebuah keputusan harus lahir berdasarkan bukti nyata dan analisis yang cermat. Jadi, proses mana yang tepat tantara intuisi dan analisis untuk menghasilkan sebuah keputusan yang startegis?

Sorang ilmuan terkemuka, Herbert A. Simon memperkenalkan sebuah konsep Bounded Rationality, yaitu keterbatasan rasional dalam pengambilan keputusan karna kurang nya informasi, waktu, dan kemampuan kognitif. Dalam momen tersebut, intuisi menjadi hal yang penting karna mampu memeberiakn solusi cepat. Intusi bukan hanya soal firasat, namun sebuah kumpulan dari pengalaman yang membentuk pemikiran sigap dalam situasi darurat dan mendesak.

Tentunya tidak semua intuisi berjalan mulus sesuai apa yang di harapkan. Terlebih, apabila menyangkut soal pengambilan keputusan dalam masalah bisnis, kebijakan politik, atau dalam sebuah organisasi. Intuisi yang tidak berlandaskan data dapat meningkatkan risiko kefatalan dalam sebuah pengambilan keputusan. Maka lahirah sebuah pendekatan Dual Process Theory, sebuah proses yang mengkategorikan pengambilan keputusan menjadi 2 sistem; system 1 (Cepat, Emosional, Intuitif) dan Sistem 2 (Lambat, Logis, Analisis). Kedua kategori tersebut tidak mengecualikan satu sama lain, tetapi saling menutupi kekurangan yang ada.

Sebagai contoh, dalam sebuah perusahaan terjadi penurunan penjualan secara mendadak, direksi perusahaan tersebut mengusulkan untuk mengubah strategi marketing perusahaannya. Tentu intuisi tersebut bukan muncul tanpa alasan, melainkan akibat dari pengalaman yang terjadi sebelumnya. Namun, tanpa riset pasar, data konsumen dan evaluasi sebelumnya perubahan strategi marketing dapat menjadi salah arah. Di momen ini lah intuisi harus di seimbangkan dengan data. Data tidak menghilangkan intuisi, melainkan memperkuat atau mengevaluasinya.

Dalam dunia bisnis yang dinamis, waktu bukanlah teman. Terlalu bergantung dengan analisis data mmapu menumpulkan aksi dalam kita berintuisi, dan tentunya menghabiskan waktu yang tiada ujungnya. Hal tersebut dapat membuat keputusan kehilangan waktunya. Seorang mantan CEO General Electric, Jack Welch pernah berkata “Jika kamu menunggu sampai punya semua informasi, maka kamu akan terlambat”. Maka dari itu, keputusan yang tepat waktu lebih di utamakan dibanding keputusan dengan hasil yang sempurna.

Menurut saya, intuisi dan analisis bukan lah sesuatu yang bertolak belakang atau bertentangan, melainkan 2 kubu yang saling melengkapi satu sama lain. Dalam sebuah proses pengambilan keputusan yang strategis, intuisi menjadi awal bermulanya sebuah keputusan dan analisis menjadi penyeimbang yang memastikan keputusan tersebut tidak keluar jalur. Seorang pemimpin atau individu yang cerdas akan mampu menyeimbangkan antara intuisi dan analisis. Kapan waktu dan Batasan dalam menggunakan firasat serta analisisnya.

Dalam aspek spiritual, islam telah mengajarkan kita konsep “istikharah” yang berarti meminta kebaikan, atau bentuk dari intuisi Ketika kita tidak dapat menentukan pilihan dan berada diambang batas. Hal tersebut menunjukan bahwa  pentingnya kita mengakui keterbatasan dalam menetukan pilihan yang logis dan dapat membuka ruang untuk petunjuk yang datang dari kepercayaan dan pengalaman.

Dalam dunia professional, pemimpin atau individu yang mampu menyeimbangkan antara analisi dan intusis dapat lebih fleksibel dalam menghadapi permasalahan yang terjadi. Mereka tidak terpaku dalam analysis paralysis, yaitu merasa buntu akibat dari terlalu banyak pertimbangan, tapi tidak juga ceroboh dalam menentukan keputusan besar. Keseimbangan antara analisis data dam pengalaman lapangan mampu menciptakan keputusan yang tidak hanya tepat, tapi juga cepat. Bahkan dalam Kerjasama tim, keputusan terbaik dapat muncul akibat dari diskusi yang menggabungkan pendekatan berbasis data dan intuisi dari para ahli.

Kesimpulanya, intuisi dan analisis dalam pengambilan keputusan bukan hal yang harus di hilangkan salah satunya, namun di seimbangkan dan di gunakan secara proposional sesuai dengan waktunya. Di dunia yang dinamis ini, intuisi mampu memberikan kita keberanian dalam pengambilan keputusan dan analisis lah yang memberikan keyakinan dalam setiap keputusanya.[]

*Mahasiswa Semester 6 Studi Manajemen Bisnis Syari’ah

 

 

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain