Megapolitan.ID | Jakarta–Di tengah hiruk pikuk Jakarta, berdiri sebuah bangunan megah yang kini hanya menyisakan bayangan kelam kejayaannya. Menara Saidah, gedung tinggi bergaya klasik Italia-Romawi di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, kini lebih dikenal bukan karena kemewahan arsitekturnya, melainkan karena kisah horor yang menyelimutinya.
Gedung ini dahulu menjadi salah satu ikon perkantoran modern ibu kota. Namun sejak 2007, Menara Saidah dibiarkan kosong dan terbengkalai. Cat dindingnya mulai mengelupas, kaca-kaca pudar tak lagi berkilau, bahkan lampu-lampu taman banyak yang pecah. Saat malam tiba, gedung berlantai 28 itu berdiri gelap gulita tanpa satu pun cahaya, membuatnya semakin tampak menyeramkan. Tak heran jika masyarakat menyebutnya sebagai salah satu gedung paling angker di Jakarta.
Dari Gedung Mewah ke Saksi Bisu Misteri
Sejarah Menara Saidah berawal dari sebuah bangunan bernama Gedung Grancindo, yang didirikan sebelum krisis moneter 1998. Sayangnya, pemilik awal mengalami kebangkrutan dan harus melepasnya kepada pengusaha Saidah Abu Bakar Ibrahim. Di tangan Saidah, gedung ini mengalami renovasi besar-besaran: jumlah lantainya ditingkatkan dari 15 menjadi 28, lalu berganti nama menjadi Menara Saidah.
Tak lama setelah itu, gedung ini menjelma jadi pusat aktivitas bisnis. Beberapa perusahaan ternama menempati lantai-lantainya, bahkan Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia (yang kini menjadi Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal) pernah berkantor di lantai 18.
Menara Saidah tidak hanya menjadi gedung perkantoran. Pada masanya, ia juga menjadi lokasi prestisius untuk menggelar pernikahan. Salah satu peristiwa paling dikenang adalah ketika artis Inneke Koesherawati menikah dengan Fahmi Darmawansyah, anggota keluarga besar Saidah, di gedung ini. Kala itu, Menara Saidah benar-benar mencerminkan kemewahan dan status sosial tinggi.
Namun sayang, kejayaan itu tidak bertahan lama. Satu per satu perusahaan penyewa hengkang, hingga akhirnya gedung dibiarkan kosong dan menyisakan cerita kelam.
Di balik terpuruknya Menara Saidah, banyak pihak menyebut masalah utamanya ada pada manajemen. Para penyewa sering mengeluhkan fasilitas gedung, terutama lift yang sering bermasalah. Namun keluhan itu tidak pernah ditanggapi dengan serius. Hingga mereka hengkang satu per satu.

dok steller.co
Dari Gemerlap menjadi Gelap Gulita Angker
Kini, Menara Saidah bukan lagi simbol kejayaan bisnis, melainkan legenda urban yang penuh cerita mistis. Banyak orang yang melintas di malam hari mengaku merasakan hawa tidak biasa. Bangunan gelap dengan arsitektur klasik itu tampak mencekam, seakan menyimpan rahasia yang tidak semua orang berani ungkap.
Dari kisah kejayaan hingga runtuhnya reputasi, Menara Saidah kini berdiri sebagai saksi bisu bagaimana kemewahan bisa berubah jadi kenangan dan misteri. Ia bukan sekadar gedung terbengkalai, melainkan juga bagian dari wajah Jakarta yang menyimpan cerita—antara sejarah, bisnis, dan kisah mistis yang membuat siapa pun merinding mendengarnya. []