Home BeritaSuara Gemuruh Disangka Helikopter, Longsor Pasirlangu Berubah Jadi Tragedi Mematikan
dok.metrotvnews.com

Suara Gemuruh Disangka Helikopter, Longsor Pasirlangu Berubah Jadi Tragedi Mematikan

by Ikon logo megapolitanSalwa
A+A-
Reset

Megapolitan.id – Longsor yang melanda Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu, 24 Januari 2026, menjadi peristiwa yang meninggalkan duka mendalam sekaligus trauma bagi warga setempat. Hujan deras yang mengguyur wilayah pegunungan selama dua hari berturut-turut seolah menjadi pertanda akan datangnya bencana, meski tak seorang pun benar-benar menyangka skala kehancuran yang terjadi.

Wilayah Pasirlangu selama ini dikenal sebagai kawasan perbukitan yang hijau dan relatif tenang. Aktivitas warga berjalan seperti biasa, sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor informal dan pertanian kecil. Namun, pada hari itu, alam menunjukkan wajahnya yang lain—sunyi sebelum gemuruh, tenang sebelum kehancuran.

Suara Gemuruh yang Disalahartikan

Teti, salah satu warga Kampung Pasir Kuning yang selamat dari longsor, masih mengingat jelas detik-detik awal peristiwa tersebut. Baginya, suara gemuruh yang terdengar saat itu sama sekali tidak langsung diasosiasikan sebagai tanda bencana.

“Saya kira ada helikopter karena ada tentara yang sedang latihan di atas bukit,” katanya kepada reporter Metro TV dalam tayangan Breaking News, Senin, 26 Januari 2026.

Penuturan itu menggambarkan betapa samar dan tiba-tibanya tanda-tanda awal longsor tersebut. Di kawasan perbukitan Cisarua, aktivitas militer yang sesekali melintas bukanlah hal asing bagi warga. Itulah sebabnya, gemuruh yang menggetarkan tanah semula dianggap sebagai suara baling-baling helikopter, bukan pergerakan massa tanah yang siap menghantam permukiman.

Padahal, di balik suara itu, lereng gunung yang jenuh air mulai kehilangan kestabilannya. Curah hujan tinggi selama dua hari berturut-turut membuat tanah tidak lagi mampu menahan beban, hingga akhirnya runtuh dan meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi.

Bertahan di Rumah di Tengah Kepanikan

Ketika longsor mulai menerjang, sebagian warga memilih menyelamatkan diri secepat mungkin. Teriakan, langkah kaki berlari, dan kepanikan menyelimuti kampung yang sebelumnya sunyi. Namun, Teti justru masih berada di dalam rumahnya saat situasi semakin memburuk.

” Saya pas lihat rumah udah rata sama tanah itu saya masih di rumah, orang-orang pada lari, soalnya ada mertua di rumah yang sedang sakit. Jadi orang lain udah pada lari saya masih di rumah,” ungkapnya.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Di dalam rumah, ada anggota keluarga yang tidak bisa bergerak bebas karena sakit. Dilema antara menyelamatkan diri atau bertahan demi keluarga menjadi kenyataan pahit yang dihadapi Teti. Dalam kondisi genting seperti itu, naluri kemanusiaan sering kali berbenturan dengan insting bertahan hidup.

Saat sebagian rumah di sekitarnya mulai roboh dan tertimbun tanah, Teti hanya bisa mengamati dari balik jendela, menyaksikan lingkungan yang selama ini dikenalnya berubah menjadi hamparan puing dan lumpur.

” Saya sempat melihat rumah sudah rata dengan tanah dari balik jendela,” ujar Teti.

Detik-detik yang Terasa Sangat Singkat

Salah satu hal yang paling menggetarkan dari kesaksian Teti adalah kecepatan terjadinya longsor. Tidak ada waktu panjang untuk berpikir atau mengambil keputusan dengan tenang. Semuanya berlangsung dalam hitungan detik.

” Jadi pas kejadiannya itu per detik,” imbuhnya.

Pernyataan singkat itu menggambarkan betapa longsor datang tanpa kompromi. Tidak ada ruang bagi kesalahan kecil. Dalam situasi seperti ini, selisih beberapa detik saja bisa menentukan antara hidup dan mati. Rumah-rumah yang berdiri puluhan tahun bisa lenyap dalam sekejap, tertimbun material tanah, batu, dan pepohonan.

Dampak yang Meluas dan Angka Korban yang Terus Bertambah

Seiring berjalannya waktu, skala tragedi di Kampung Pasir Kuning semakin terlihat jelas. Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, relawan, serta warga setempat langsung melakukan upaya pencarian dan evakuasi di tengah medan yang berat dan cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat.

Tercatat 25 jenazah korban longsor telah diterima Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat di posko Puskesmas Pasirlangu. Angka ini menjadi simbol betapa besarnya kehilangan yang harus ditanggung oleh warga.

Berdasarkan data keseluruhan, sebanyak 113 jiwa terdampak dalam peristiwa longsor tersebut. Dari jumlah itu, 23 orang dinyatakan selamat, sementara 65 korban lainnya masih dalam pencarian. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari keluarga yang tercerai-berai, anak-anak yang kehilangan orang tua, serta warga yang kehilangan rumah dan masa depan.

Tantangan Proses Pencarian

Proses pencarian korban longsor tidak berjalan mudah. Material longsoran yang tebal, bercampur batu besar dan batang pohon, menyulitkan alat berat untuk bergerak. Selain itu, risiko longsor susulan terus menghantui tim penyelamat yang bekerja di lapangan.

Setiap hari, tim SAR harus menyeimbangkan kecepatan pencarian dengan keselamatan personel. Hujan yang turun secara sporadis membuat tanah kembali labil, sehingga beberapa kali proses evakuasi harus dihentikan sementara.

Di tengah keterbatasan tersebut, semangat gotong royong warga menjadi kekuatan tersendiri. Banyak warga yang selamat memilih tetap berada di lokasi untuk membantu, meski rumah mereka sendiri telah rusak atau hilang. Mereka bahu-membahu menyediakan logistik, membantu evakuasi manual, dan mendukung keluarga korban yang berduka.

Bencana dan Kerentanan Wilayah

Peristiwa longsor di Pasirlangu kembali mengingatkan tentang kerentanan wilayah perbukitan terhadap bencana hidrometeorologi. Curah hujan tinggi, perubahan tata guna lahan, serta kondisi geografis yang rawan menjadi kombinasi berbahaya jika tidak dikelola dengan baik.

Banyak kawasan pemukiman di lereng gunung tumbuh tanpa perencanaan mitigasi bencana yang memadai. Dalam jangka panjang, hal ini meningkatkan risiko bagi warga, terutama saat musim hujan ekstrem seperti yang terjadi belakangan ini.

Para ahli kebencanaan menilai bahwa longsor di kawasan seperti Cisarua bukan semata-mata bencana alam, melainkan juga akumulasi dari faktor lingkungan dan aktivitas manusia. Oleh karena itu, penanganan pascabencana tidak cukup hanya dengan evakuasi dan bantuan darurat, tetapi juga perlu diikuti dengan evaluasi menyeluruh terhadap pola permukiman dan sistem peringatan dini.

Trauma dan Pemulihan Psikososial

Selain kerugian fisik dan korban jiwa, dampak psikologis dari longsor ini tidak bisa diabaikan. Warga yang selamat, termasuk Teti, harus menghadapi trauma mendalam akibat pengalaman mencekam yang mereka alami.

Bayangan rumah yang rata dengan tanah, suara gemuruh yang datang tiba-tiba, serta kehilangan orang-orang terdekat berpotensi meninggalkan luka psikologis jangka panjang. Oleh karena itu, pendampingan psikososial menjadi bagian penting dari proses pemulihan pascabencana.

Anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya membutuhkan perhatian khusus agar mampu kembali menjalani kehidupan dengan rasa aman. Tanpa dukungan yang memadai, trauma bisa menghambat proses pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain