Megapolitan.id |-Kota Semarang tak pernah kehabisan cerita soal kuliner. Dari lumpia hingga tahu gimbal, ibu kota Jawa Tengah ini memang dikenal sebagai surga rasa yang memadukan tradisi Jawa, Tionghoa, dan pengaruh kolonial dalam satu piring. Di antara deretan kuliner legendaris yang terus bertahan lintas generasi, nasi goreng babat menjadi salah satu ikon yang kerap direkomendasikan kepada wisatawan.
Bicara soal nasi goreng babat di Semarang, satu nama yang hampir selalu muncul adalah Nasi Goreng Babat Pak Karmin. Lokasinya berada di Jalan MH Thamrin, Semarang Tengah—kawasan strategis yang mudah dijangkau dan tak jauh dari pusat kota. Tempat ini bukan sekadar warung makan biasa, melainkan bagian dari jejak sejarah kuliner Semarang yang sudah berjalan puluhan tahun.
Menurut cerita yang beredar, sosok Pak Karmin yang memiliki nama asli Sukarmin mulai berjualan nasi goreng sejak sekitar lima dekade lalu. Awalnya, ia menggelar dagangan di kawasan Mberok, Kota Lama Semarang—area yang sejak dulu menjadi pusat perniagaan dan pertemuan berbagai budaya. Dari lapak sederhana itulah, aroma nasi goreng babat mulai dikenal luas oleh warga lokal maupun pendatang.
Bukan perkara mudah mempertahankan usaha kuliner selama itu. Namun, konsistensi rasa menjadi kunci utama. Cita rasa nasi goreng babat racikan Pak Karmin dikenal khas: gurih, sedikit manis, dengan potongan babat yang empuk namun tetap bertekstur. Resep yang dijaga turun-temurun inilah yang membuat pelanggan terus kembali, bahkan membawa keluarga dan kerabatnya untuk ikut mencicipi.
Seiring waktu, popularitasnya kian meningkat hingga akhirnya membuka cabang di bilangan MH Thamrin. Lokasi inilah yang kini menjadi salah satu destinasi kuliner favorit, termasuk saat disambangi Tim Bisnis Indonesia Jelajah Ekspor 2025i beberapa hari lalu ketika melintas di Semarang.
Saat malam mulai turun dan jarum jam hampir menunjukkan pukul 21.00, suasana gerai tetap ramai. Meja-meja terisi, suara pengunjung bercampur dengan denting wajan dari dapur terbuka yang terus bekerja tanpa henti. Aroma bawang putih yang ditumis bersama nasi panas menguar ke udara, memancing selera siapa pun yang melintas.
Menariknya, rumah makan ini tidak hanya buka pada malam hari. Sejak pagi, pelanggan sudah bisa menikmati hidangan andalan mereka. Pola buka yang panjang ini membuat Nasi Goreng Babat Pak Karmin menjadi pilihan fleksibel, baik untuk makan siang santai maupun makan malam bersama keluarga.
Menu yang ditawarkan pun cukup beragam. Tentu saja, nasi goreng babat menjadi primadona. Potongan babat yang telah direbus dan dibumbui terlebih dahulu kemudian digoreng bersama nasi, kecap, dan rempah pilihan. Hasilnya adalah nasi goreng berwarna cokelat keemasan dengan aroma menggoda.
Selain itu, tersedia pula nasi goreng ayam bagi pelanggan yang kurang menyukai jeroan. Opsi nasi goreng telur pun menjadi pilihan sederhana namun tetap memuaskan. Bagi pencinta cita rasa yang sedikit berbeda, tersedia pula menu gongso—hidangan yang dimasak setengah kering atau ditumis dengan kuah kental yang meresap. Tekstur dan rasa gongso memberikan sensasi yang lebih “basah” dibanding nasi goreng biasa, namun tetap kaya bumbu.
Salah satu daya tarik lainnya adalah harga yang masih terbilang ramah di kantong. Untuk menikmati seporsi nasi goreng babat legendaris ini, pelanggan cukup merogoh kocek sekitar Rp30.000 hingga Rp50.000, tergantung pilihan menu. Di tengah tren harga makanan yang terus merangkak naik, kisaran harga tersebut tergolong bersahabat, terutama untuk kuliner dengan reputasi panjang dan kualitas rasa yang terjaga.
Tak heran jika pelanggan yang datang pun beragam. Mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, wisatawan luar kota, hingga keluarga yang sengaja datang untuk bernostalgia. Banyak di antara mereka yang sudah menjadi pelanggan setia selama bertahun-tahun.
Nasi goreng babat sendiri memang memiliki tempat khusus dalam khazanah kuliner Semarang. Berbeda dengan nasi goreng pada umumnya yang cenderung dominan asin atau pedas, versi Semarang sering kali memiliki sentuhan manis yang khas, dipengaruhi oleh penggunaan kecap dan selera masyarakat setempat. Tambahan babat memberikan karakter rasa yang lebih kuat dan tekstur unik yang sulit ditiru.
Di tengah menjamurnya restoran modern dan kafe kekinian, keberadaan Nasi Goreng Babat Pak Karmin menjadi bukti bahwa kuliner legendaris tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Ia bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari cerita kota—tentang ketekunan, konsistensi, dan cita rasa yang dijaga lintas generasi.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Semarang, mampir ke Jalan MH Thamrin untuk menikmati seporsi nasi goreng babat hangat bisa menjadi pengalaman kuliner yang tak terlupakan. Sederhana, merakyat, namun penuh karakter—seperti Semarang itu sendiri.