Home PariwisataKulinerNan Lamak Hadirkan Cita Rasa Otentik Solok di Jakarta Selatan
dok. investor.id

Nan Lamak Hadirkan Cita Rasa Otentik Solok di Jakarta Selatan

by Ikon logo megapolitanSalma
A+A-
Reset

Megapolitan.id |-Nan lamak—yang berarti lezat—menjadi ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kekayaan rasa kuliner khas Solok, Sumatra Barat. Dari rendang yang kaya rempah, gulai ikan yang gurih menggoda, hingga kue pencuci mulut sarikayo yang manis lembut, semuanya siap menggoyang lidah para pencinta masakan Minang. Cita rasanya dalam, hangat, dan penuh karakter.

Selama ini, banyak orang mengidentikkan masakan Minang dengan Padang. Padahal, Minang tak hanya Padang. Solok juga memiliki ragam kuliner yang tak kalah sedap dan otentik. Setiap daerah di ranah Minang punya sentuhan khas pada bumbu dan teknik memasaknya, termasuk Solok yang terkenal dengan kelezatan rempahnya yang meresap kuat namun tetap seimbang.

Kesempatan mencicipi langsung sajian khas Solok hadir saat Investor Daily berkunjung ke restoran Nan Lamak di Terogong, Jakarta Selatan. Restoran ini menghadirkan pengalaman bersantap yang berbeda dari rumah makan Minang kebanyakan. Sesuai namanya, hidangan yang disajikan benar-benar menghadirkan rasa lamak—lezat dan memikat sejak suapan pertama.

Beberapa signature dish seperti Rendang Nan Lamak dan Ayam Goreng Nan memang terasa beda. Rendangnya tidak basah, namun setengah kering. Teksturnya padat dengan warna cokelat gelap yang menggoda, menandakan proses memasak panjang hingga bumbu benar-benar meresap. Sementara itu, ayam gorengnya tampil sederhana namun kaya rasa, dengan bagian luar yang gurih dan daging yang tetap juicy di dalam.

“Semua masakan di sini diolah menggunakan teknik tradisional khas Solok melalui proses memasak yang presisi dan penuh ketelatenan,” kata CEO Nan Lamak, Athari Gauthi Ardi usai meresmikan Nak Lamak bersama Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana, dan Epyardi Asda beserta Emiko sebagai pemilik Nan Lamak di Jakarta, Sabtu (21/2/2026).

Seperti yang diungkapkan Athari, kesan gurih dan lezat memang terasa konsisten di setiap hidangan. Setelah menikmati rendang dan ayam goreng, pengalaman bersantap berlanjut dengan sajian gulai ayam, gulai ikan, hingga gulai udang yang ditabur sedikit petai. Aroma santan dan rempahnya menyeruak hangat, menciptakan sensasi kaya rasa yang memanjakan lidah.

Tak berhenti di situ, kehadiran dendeng balado dan sambal hijau semakin mempertegas karakter masakan Solok yang berani namun tetap harmonis. Dendeng balado hadir dengan perpaduan manis, pedas, dan gurih yang seimbang. Sementara sambal hijau menawarkan rasa segar pedas yang menyatu sempurna dengan nasi hangat.

Bahan Baku dari Solok

Athari menjelaskan, ’nan lamak’ dalam bahasa Minang berarti ‘yang lezat’. Kata ini berangkat dari filosofi Minangkabau: ‘condong mato ka nan rancak, condong salero ka nan lamak.’

“Filosofi ini menjadi landasan dedikasi kami menghadirkan pengalaman bersantap yang tidak sekadar lezat, namun juga bermakna,” kata Athari.

Filosofi tersebut bukan sekadar slogan, melainkan diterjemahkan secara nyata dalam konsep restoran. Setiap hidangan dirancang untuk tidak hanya memuaskan selera, tetapi juga menghadirkan cerita tentang kampung halaman, tradisi, dan warisan rasa yang dijaga turun-temurun.

Karena itu, masakan di sini, kata Athari menyajikan hidangan khas Minang, khususnya Solok, melalui racikan bumbu yang kaya, teknik memasak turun-temurun, serta kualitas bahan terbaik. Proses memasaknya pun tidak instan. Rendang, misalnya, dimasak perlahan hingga bumbu mengering dan melekat sempurna pada daging.

Demi menjaga keotentikan masakan Solok, hampir semua bahan baku didatangkan dari Solok, Sumatra Barat. Mulai dari cabai, rempah-rempah, hingga beberapa bahan utama lainnya dipilih langsung dari daerah asalnya. Langkah ini dilakukan untuk memastikan cita rasa yang dihadirkan tetap autentik dan tidak kehilangan identitas.

“Kami berusaha menyajikan keautentikan, mulai dari resep, bumbu, bahan baku, berasal dari Kabupaten Solok, Sumatera Barat,” ujar Athari.

“Bahkan untuk tenaga kerja di sini juga orang Minang,” lanjut Athari.

Kehadiran tenaga kerja yang berasal dari Minang turut memperkuat komitmen menjaga cita rasa asli. Mereka tidak hanya memasak berdasarkan resep, tetapi juga membawa intuisi rasa yang sudah terlatih sejak lama. Dalam kuliner tradisional, sentuhan tangan dan pengalaman sering kali menjadi pembeda utama.

Berbeda dari rumah makan Padang pada umumnya, Nan Lamak menerapkan sistem penyajian made-to-order.

“Setiap hidangan diproses setelah dipesan sehingga disajikan langsung dari dapur dalam kondisi hangat dan fresh,” kata Athari.

Konsep ini membuat pengalaman bersantap terasa lebih personal. Hidangan yang datang ke meja bukan sekadar lauk yang sudah lama tersaji di etalase, melainkan makanan yang baru saja selesai dimasak. Aroma masih mengepul, tekstur tetap terjaga, dan rasa pun terasa lebih hidup.

Dengan pendekatan autentik, filosofi budaya yang kuat, serta perhatian pada detail, Nan Lamak menghadirkan wajah lain kuliner Minang di ibu kota. Bukan sekadar tempat makan, tetapi ruang untuk merayakan kekayaan rasa Solok yang mungkin selama ini belum banyak dikenal.

Nan lamak bukan hanya tentang rasa lezat di lidah. Ia adalah pertemuan antara tradisi, dedikasi, dan kebanggaan akan warisan kuliner daerah. Dan di setiap suapan, terselip cerita tentang tanah Minang yang kaya rempah dan penuh makna.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain