Home TeknologiUNAIR Go Global, Kolaborasi Strategis dengan CityU Hong Kong Dorong Inovasi Teknologi
dok.unair.ac.id

UNAIR Go Global, Kolaborasi Strategis dengan CityU Hong Kong Dorong Inovasi Teknologi

by Ikon logo megapolitanSalwa
A+A-
Reset

Megapolitan.id – Di tengah arus globalisasi yang semakin cepat, perguruan tinggi tidak lagi berdiri sebagai entitas lokal yang bergerak sendiri. Mereka kini menjadi bagian dari jejaring pengetahuan global yang saling terhubung, saling menguatkan, dan saling berkompetisi. Dalam konteks inilah, langkah Universitas Airlangga memperluas kerja sama internasional menjadi sebuah strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak.

Pada Rabu (22/4/2026), sebuah babak baru dalam perjalanan global UNAIR dimulai. Rombongan yang dipimpin langsung oleh Rektor, Muhammad Madyan, melakukan kunjungan resmi ke City University of Hong Kong. Pertemuan ini berlangsung di gedung ikonik Lau Ming Wai Academic Building—sebuah ruang yang bukan sekadar tempat bertemu, tetapi simbol dari pertemuan gagasan, visi, dan masa depan.

Kedatangan delegasi UNAIR disambut hangat oleh jajaran pimpinan CityU, termasuk presidennya, Freddy Boey. Suasana pertemuan terasa dinamis, penuh antusiasme, dan sarat harapan. Ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan dialog strategis yang membahas arah masa depan pendidikan tinggi di era teknologi.

Fokus utama diskusi tertuju pada bidang-bidang yang saat ini menjadi jantung inovasi global: kecerdasan buatan dan komputasi kuantum. Dua bidang ini tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan berpikir, tetapi juga menentukan posisi suatu negara dalam peta persaingan global. Oleh karena itu, kolaborasi di sektor ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

UNAIR, melalui Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM), sebenarnya telah lebih dahulu membuka pintu kerja sama dengan CityU. Kolaborasi tersebut dimulai dari pertukaran dosen dan staf akademik—sebuah langkah awal yang sederhana, namun strategis. Dari sinilah benih kerja sama tumbuh, berkembang, dan kini siap memasuki fase yang lebih luas dan lebih ambisius.

Ke depan, FTMM tidak hanya berhenti pada kolaborasi akademik tingkat staf. Fakultas ini akan mendorong mobilitas mahasiswa melalui berbagai program seperti magang internasional, pertukaran pelajar, hingga skema dual degree. Bagi mahasiswa, ini bukan sekadar kesempatan belajar di luar negeri, tetapi juga peluang untuk memahami dinamika global secara langsung, memperluas jaringan, dan meningkatkan daya saing pribadi.

Bayangkan seorang mahasiswa dari Surabaya yang sebelumnya hanya mengenal teori di ruang kelas, kini berdiri di laboratorium canggih di Hong Kong, bekerja bersama peneliti internasional, dan terlibat dalam proyek teknologi masa depan. Pengalaman seperti ini tidak hanya membentuk kompetensi, tetapi juga cara pandang.

Tidak berhenti di situ, kerja sama antara kedua institusi juga merambah ke jenjang pascasarjana. Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR akan menjajaki program double degree bersama CityU. Ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk mendapatkan dua gelar dari dua institusi berbeda—sebuah nilai tambah yang sangat signifikan di dunia kerja global.

Selain program pendidikan, kolaborasi juga mencakup joint research dan joint supervision. Artinya, penelitian tidak lagi dilakukan secara terpisah, tetapi secara kolaboratif lintas negara. Mahasiswa dan dosen dari kedua universitas dapat bekerja bersama dalam satu proyek penelitian, berbagi data, metode, dan perspektif.

Di sinilah letak kekuatan kolaborasi internasional: mempertemukan berbagai sudut pandang untuk menghasilkan solusi yang lebih komprehensif. Dalam dunia yang kompleks, pendekatan tunggal sering kali tidak cukup. Diperlukan sinergi lintas disiplin dan lintas budaya.

Menariknya, kerja sama ini tidak hanya berfokus pada teknologi semata. Diskusi juga mencakup bidang lain seperti ilmu komputer, data sains, robotika, kesehatan digital, pengelolaan produk peternakan, hingga energi terbarukan. Ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang dibangun bersifat multidisiplin—sejalan dengan tantangan dunia modern yang semakin kompleks.

Selain aspek akademik dan riset, UNAIR juga mengajak CityU untuk bergabung dalam World University Association for Community Development. Organisasi ini menjadi wadah bagi universitas di seluruh dunia untuk berkolaborasi dalam pengembangan masyarakat.

Langkah ini menunjukkan bahwa UNAIR tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memiliki komitmen kuat terhadap dampak sosial. Ilmu pengetahuan, dalam pandangan ini, tidak hanya untuk dipelajari, tetapi juga untuk diterapkan demi kesejahteraan masyarakat.

Diskusi yang berlangsung juga menyentuh aspek yang sering kali luput dari perhatian, yaitu pengelolaan alumni dan filantropi. Di banyak universitas kelas dunia, alumni memainkan peran penting dalam mendukung pengembangan institusi, baik melalui jaringan profesional maupun kontribusi finansial.

Dengan memperkuat sistem pengelolaan alumni, UNAIR berupaya membangun ekosistem yang berkelanjutan. Alumni tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi juga mitra strategis untuk masa depan.

Selain itu, penguatan relasi antara industri dan universitas juga menjadi topik penting. Dunia kerja saat ini membutuhkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan nyata di lapangan. Oleh karena itu, kolaborasi dengan industri menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik.

Presiden CityU, Profesor Boey, menyampaikan bahwa hubungan antara kedua institusi telah terjalin secara intensif dan akan terus diperkuat sebagai kemitraan prioritas. Pernyataan ini bukan sekadar formalitas, tetapi refleksi dari keseriusan kedua pihak dalam membangun hubungan jangka panjang.

Hal senada disampaikan oleh Rektor UNAIR, yang menegaskan bahwa kolaborasi yang telah berjalan akan terus dikembangkan ke bidang-bidang strategis lainnya. Ini menunjukkan bahwa kerja sama ini tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Kunjungan ini kemudian ditutup dengan tur kampus yang memperlihatkan wajah inovatif CityU. Delegasi UNAIR diajak mengunjungi Tunnel of Future Innovations—sebuah ruang yang menampilkan berbagai terobosan teknologi masa depan. Di tempat ini, ide-ide yang sebelumnya hanya ada di atas kertas diwujudkan menjadi prototipe nyata.

Tidak kalah menarik, mereka juga mengunjungi Indra and Harry Banga Gallery, yang menjadi simbol ekosistem riset dan budaya inovasi di CityU. Galeri ini bukan sekadar ruang pamer, tetapi representasi dari bagaimana sebuah universitas membangun identitasnya sebagai pusat inovasi.

Melalui kunjungan ini, UNAIR semakin menegaskan posisinya sebagai universitas berkelas dunia. Namun, menjadi universitas kelas dunia bukan hanya soal peringkat atau reputasi. Lebih dari itu, ini tentang kemampuan untuk beradaptasi, berkolaborasi, dan berkontribusi dalam skala global.

Di era di mana batas geografis semakin kabur, kolaborasi internasional menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai potensi. UNAIR, melalui langkah strategis ini, tidak hanya membuka pintu bagi mahasiswanya untuk menjelajah dunia, tetapi juga membawa dunia masuk ke dalam kampusnya.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain