Megapolitan.id | Jakarta–Bertepatan dengan peringatan ke-118 Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2026 dilakukan kegiatan bedah ontologi buku berjudul Innovation in Motion: From Ideas to Impact karya Ajeng Salma Layla Amira yang diterbitkan pada April 2026. Bedah ontologi buku dilakukan oleh Donny Kuswara, S.Ip. S.Pd. MM., seorang praktisi pendidikan sekaligus kepala sekolah di sebuah satuan pendidikan negeri di Jakarta serta alumni program Pemantapan Nilai Kebangsaan (Taplai) Lemhannas RI tahun 2020, melalui telaah komprehensif melalui tiga perspektif:
- Perspektif PISA (Literasi Saintifik dan Problem Solving);
- Perspektif United Nations Sustainable Development Goals (SDGs);
- Perspektif Ketahanan Nasional
Membedah Literasi Saintifik dalam “Innovation in Motion: From Ideas to Impact” melalui Lensa PISA
PISA membagi literasi saintifik ke dalam tiga kompetensi utama: menjelaskan fenomena secara ilmiah, mengevaluasi dan merancang penyelidikan ilmiah, serta menafsirkan data dan bukti secara ilmiah. Donny Kuswara melihat bahwa penulis buku tidak lagi terjebak pada level “menghafal konten”. Dalam buku tersebut, ketika Ajeng Salma Layla Amira membahas tentang optimalisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), ia tidak hanya bicara soal teori nutrisi (konten). Ia melompat ke kompetensi merancang penyelidikan dengan mengintegrasikan manajemen data digital. Di sini, literasi saintifik berubah menjadi alat untuk menjawab tantangan logistik dan akurasi gizi nasional, sehingga membuktikan sains bukan hanya milik laboratorium, melainkan instrumen kebijakan publik.
Salah satu aspek yang dipertajam oleh pengulas/ peninjau adalah pemanfaatan Internet of Things (IoT). Dalam kerangka PISA terbaru, kemampuan berpikir komputasional (Computational Thinking) menjadi bagian tak terpisahkan dari pemecahan masalah. Donny Kuswara menyoroti bagaimana penulis buku yang juga alumni Bina Talenta Indonesia 2025 itu menggunakan sensor dan arsitektur data untuk memantau kualitas produksi Telur Asin Brebes. Ini adalah contoh nyata dari Complex Problem Solving. Masalahnya bukan sekadar “bagaimana membuat telur asin yang enak”, tetapi “bagaimana menjaga konsistensi kualitas produk tradisional di tengah skala produksi masal agar mampu bersaing secara global”. Inilah yang disebut PISA sebagai kemampuan menghadapi situasi yang tidak biasa. Ajeng tidak menggunakan solusi yang sudah ada, ia mengonstruksi solusi baru yang menggabungkan tradisi dengan teknologi mutakhir.
Inovasi Sebagai Katalisator SDGs: Bedah Visi Global Ajeng Salma Layla Amira
Dalam narasi internasional, Sustainable Development Goals (SDGs) sering kali dianggap sebagai narasi “langit” yang sulit dijangkau oleh aksi individu di tingkat lokal. Namun, Donny Kuswara dalam bedah buku Innovation in Motion: From Ideas to Impact berhasil membuktikan bahwa melalui literasi teknologi yang tepat, seorang remaja dapat menggerakkan indikator-indikator global tersebut. Inovasi Ajeng Salma Layla Amira diposisikan bukan sekadar sebagai alat teknis, melainkan sebagai instrumen etis untuk mencapai keadilan dan keberlanjutan.
SDG 2 (Zero Hunger): Digitalisasi Nutrisi dan Transparansi Nasional
Salah satu fokus utama dalam buku karya Ajeng Salma Layla Amira adalah optimalisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui manajemen data digital. Donny Kuswara mempertajam poin ini dengan mengaitkannya langsung pada target SDG 2, yaitu mengakhiri kelaparan dan memastikan akses bagi semua orang terhadap makanan yang aman, bergizi, dan cukup sepanjang tahun.
Dalam perspektif Donny Kuswara selaku pengulas/ peninjau, inovasi Ajeng Salma Layla Amira menjawab tantangan paling krusial dalam program bantuan pangan yaitu ketepatan sasaran dan kualitas gizi. Dengan menggunakan sistem pemantauan berbasis data, Ajeng menawarkan solusi agar tidak ada kebocoran nutrisi dalam rantai pasok. Donny melihat bahwa ketika teknologi digunakan untuk memverifikasi kalori dan distribusi pangan secara real-time, Indonesia sedang melakukan lompatan besar dalam ketahanan pangan nasional. Ini bukan lagi soal memberi makan, tapi soal bagaimana sains memastikan bahwa setiap anak Indonesia mendapatkan hak nutrisinya secara adil dan transparan.
SDG 4 (Quality Education) & SDG 16 (Peace, Justice, and Strong Institutions): Perisai Digital di Era Siber
Donny Kuswara memberikan penekanan khusus pada proyek “Safeguard VR” sebagai bentuk nyata dari perlindungan anak. Dalam kaitan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), inovasi ini memastikan bahwa lingkungan belajar anak, baik fisik maupun digital, tetap aman. Tanpa rasa aman dari ancaman online grooming atau eksploitasi siber, kualitas pendidikan tidak akan pernah tercapai secara maksimal.
Lebih jauh lagi, Donny menghubungkan hal ini dengan SDG 16, yang berbicara tentang institusi yang tangguh dan perlindungan terhadap kekerasan pada anak. Melalui teknologi Virtual Reality (VR) dan sistem proteksi siber, Ajeng Salma Laya Amira tidak hanya menciptakan alat, tetapi sedang membangun “benteng hukum digital”. Pengulas/ peninjau menggarisbawahi bahwa di masa depan, keadilan dan perdamaian akan sangat bergantung pada seberapa kuat pertahanan digital kita terhadap kejahatan kemanusiaan yang semakin canggih. Inovasi ini adalah bentuk advokasi teknologi yang menempatkan keselamatan manusia di atas sekadar kemajuan perangkat lunak.
SDG 7 (Affordable and Clean Energy) & SDG 10 (Reduced Inequalities): Keadilan Melalui “RETRACT”
Strategi “RETRACT” yang dibahas dalam buku Ajeng menjadi sorotan tajam bagi Donny Kuswara dalam konteks energi berkelanjutan. SDG 7 menuntut akses energi yang terjangkau dan andal bagi semua. Melalui ulasannya, Donny Kuswara membedah bagaimana Ajeng Salma Layla Amira menggunakan pendekatan manajemen krisis historis yang dipadukan dengan IoT untuk merombak sistem distribusi gas bersubsidi. Ini adalah upaya langsung untuk mencapai SDG 10 (Mengurangi Ketimpangan). Dengan memastikan subsidi energi hanya dinikmati oleh mereka yang berhak (kaum dhuafa dan pelaku usaha mikro), Ajeng sedang mempraktikkan ekonomi kerakyatan berbasis data. Donny menilai bahwa inovasi ini memiliki efek domino, ketika energi terdistribusi secara adil, produktivitas ekonomi rakyat meningkat, dan jurang ketimpangan sosial dapat dipersempit.
Inovasi Sebagai Perisai Kedaulatan: Paradigma Ketahanan Nasional dalam “Innovation in Motion”
Donny Kuswara menyoroti strategi “RETRACT” dalam buku Ajeng Salma Layla Amira sebagai sebuah terobosan dalam menjaga ketahanan energi nasional. Dalam doktrin Ketahanan Nasional, ketahanan energi adalah pondasi stabilitas. Distribusi gas bersubsidi yang selama ini menjadi beban fiskal akibat ketidakteraturan data, dijawab Ajeng Salma Layla Amira dengan integrasi teknologi IoT. Donny mempertajam ini sebagai bentuk Keadilan Distribusi. Ketika energi yang disubsidi negara benar-benar sampai ke tangan rakyat yang berhak maka daya beli masyarakat terjaga, stabilitas ekonomi daerah meningkat, dan potensi gejolak sosial akibat kelangkaan atau salah sasaran dapat diredam. Ini adalah perwujudan ekonomi kerakyatan yang diperkuat oleh presisi data digital.
Ketahanan Nasional tidak hanya bicara soal senjata, tetapi juga soal ketahanan mental-ideologi dan budaya. Donny melihat kajian pemilik 4 hak cipta DJKI mengenai Telur Asin Brebes itu melalui lensa Gatra Sosial Budaya. Warisan budaya kuliner adalah bagian dari identitas bangsa. Di era globalisasi, produk lokal sering kali terpinggirkan karena kalah dalam standarisasi dan modernisasi produksi. Inovasi IoT yang ditawarkan Ajeng Salma Layla Amira untuk memantau kualitas produk tradisional ini dipandang Donny sebagai upaya Modernisasi Tanpa De-Nasionalisasi. Dengan teknologi, produk rakyat naik kelas menjadi komoditas global tanpa kehilangan jati diri tradisionalnya. Ketahanan budaya tercapai ketika masyarakat lokal merasa bangga dan berdaya secara ekonomi atas warisan leluhurnya, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh infiltrasi budaya asing yang bersifat konsumtif.
Dunia saat ini sedang menghadapi perang asimetris, di mana ancaman tidak lagi datang melalui invasi militer, melainkan melalui serangan siber dan perusakan mental generasi muda. Donny Kuswara memberikan analisis tajam bahwa proyek “Safeguard VR” untuk melawan online grooming adalah kontribusi nyata pada ketahanan siber nasional.
Anak-anak adalah aset strategis bangsa. Jika mental dan keselamatan mereka terancam oleh kejahatan siber internasional, maka masa depan bangsa berada dalam bahaya. Donny melihat inovasi ini sebagai Sistem Pertahanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) di Ruang Digital. Dengan memberikan perlindungan teknologi pada anak-anak, Ajeng Salma Layla Amira sedang memperkuat lini pertahanan paling dasar, keluarga dan individu. Ketahanan Nasional akan rapuh jika generasi penerusnya hancur oleh kejahatan digital yang tidak terlihat.