Home BeritaCakupan Imunisasi Aceh Masih Rendah, Dante Saksono Dorong Layanan Sabtu-Minggu
dok. rri.co.id

Cakupan Imunisasi Aceh Masih Rendah, Dante Saksono Dorong Layanan Sabtu-Minggu

by Ikon logo megapolitanSalma
A+A-
Reset

Pemerintah terus mencari berbagai cara untuk meningkatkan cakupan imunisasi anak di Indonesia, terutama di daerah yang masih memiliki angka vaksinasi rendah. Salah satu wilayah yang kini menjadi perhatian khusus adalah Provinsi Aceh. Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono, bahkan mengusulkan pelaksanaan layanan imunisasi pada hari Sabtu atau Minggu guna memperluas partisipasi keluarga dalam proses vaksinasi anak.

Usulan tersebut disampaikan Dante usai melakukan kunjungan ke Puskesmas Batoh pada Jumat, 22 Mei 2026. Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi rendahnya cakupan imunisasi di Aceh adalah kuatnya peran ayah dalam pengambilan keputusan keluarga, termasuk terkait vaksinasi anak.

Dante menjelaskan, dalam banyak keluarga di Aceh, keputusan imunisasi sering kali berada di tangan ayah. Sementara itu, para ayah umumnya bekerja pada hari kerja sehingga tidak selalu berada di rumah saat keputusan terkait imunisasi harus diambil.

“Di Aceh ini, yang memutuskan bapaknya, bapaknya bekerja kadang-kadang yang memberi keputusan tidak ada, sehingga anaknya tidak diimunisasi. Nanti akan kita buat modifikasi bagaimana misalnya imunisasi pada saat hari Sabtu atau hari libur sehingga bapaknya ikut,” ujarnya.

Menurut Dante, pendekatan tersebut menjadi salah satu strategi yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi sosial masyarakat Aceh. Dengan membuka layanan imunisasi pada akhir pekan atau hari libur, pemerintah berharap para ayah dapat ikut terlibat langsung dalam proses vaksinasi anak sehingga keputusan imunisasi dapat dilakukan lebih cepat.

Ia menilai, keterlibatan seluruh anggota keluarga sangat penting untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya imunisasi bagi kesehatan anak. Selain memberikan perlindungan terhadap penyakit berbahaya, imunisasi juga menjadi bagian penting dalam upaya menciptakan generasi yang lebih sehat di masa depan.

Dante mengaku sengaja memilih Aceh sebagai lokasi kunjungannya karena masih terdapat sejumlah tantangan besar terkait rendahnya cakupan vaksinasi masyarakat. Pemerintah pusat menjadikan persoalan imunisasi di Aceh sebagai salah satu fokus utama dalam upaya memperkuat perlindungan kesehatan anak.

“Kenapa saya memilih untuk melakukan kunjungan di Banda Aceh, di Aceh ini ada beberapa masalah. Salah satu diantaranya adalah masalah tentang cakupan vaksin, imunisasi yang masih rendah,” ucap Dante.

Ia menjelaskan bahwa secara nasional, capaian imunisasi anak saat ini berada di angka sekitar 80,2 persen. Angka tersebut sebenarnya sudah cukup tinggi, namun masih belum memenuhi target pemerintah yang ditetapkan sebesar 90 persen.

Sementara itu, kondisi di Aceh dinilai masih cukup memprihatinkan karena cakupan imunisasi berdasarkan data lapangan yang diterimanya baru berada di kisaran 33 persen. Rendahnya angka tersebut menunjukkan masih banyak anak yang belum mendapatkan perlindungan dasar melalui vaksinasi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena anak-anak yang belum memperoleh imunisasi lengkap memiliki risiko lebih besar terkena penyakit menular berbahaya. Selain berdampak pada kesehatan individu, rendahnya cakupan vaksinasi juga dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit di lingkungan masyarakat.

Pemerintah sendiri terus mendorong berbagai pendekatan agar masyarakat lebih memahami manfaat imunisasi. Selain melalui tenaga kesehatan, edukasi juga dilakukan lewat tokoh agama, pemerintah daerah, hingga pendekatan berbasis keluarga.

Di sisi lain, Illiza Sa’aduddin Djamal mengakui bahwa capaian imunisasi dasar lengkap di Kota Banda Aceh masih menjadi tantangan besar hingga saat ini.

Menurut Illiza, pada tahun 2025 cakupan imunisasi dasar lengkap di Banda Aceh baru mencapai sekitar 34 persen. Artinya, masih banyak anak-anak yang belum memperoleh perlindungan dasar terhadap berbagai penyakit berbahaya.

“Pada tahun 2025, capaian imunisasi dasar lengkap baru berada di angka 34%. Artinya, masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan perlindungan dasar terhadap penyakit yang berbahaya,” katanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat layanan kesehatan primer melalui puskesmas dan posyandu. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat lebih mudah mengakses layanan imunisasi di lingkungan tempat tinggal mereka.

Selain memperluas akses layanan, pemerintah daerah juga melakukan pemetaan sasaran imunisasi hingga tingkat gampong atau desa. Pendataan dilakukan menggunakan sistem “by name by address” guna memastikan data anak-anak yang belum menerima imunisasi benar-benar akurat.

“Kami juga melakukan pemetaan sasaran sampai ke tingkat gampong. Jadi kita ingin memastikan data anak-anak yang belum imunisasi benar-benar akurat ‘by name, by address’ supaya tidak ada yang terlewatkan,” ucap Illiza.

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk mempermudah tenaga kesehatan dalam melakukan pemantauan sekaligus mempercepat penjangkauan anak-anak yang belum mendapatkan vaksinasi lengkap.

Pemerintah berharap strategi berbasis data yang lebih rinci dapat membantu meningkatkan efektivitas program imunisasi di Aceh. Dengan mengetahui identitas dan lokasi sasaran secara jelas, petugas kesehatan dapat lebih mudah melakukan edukasi maupun kunjungan langsung kepada keluarga.

Selain faktor akses layanan, pemahaman masyarakat mengenai pentingnya imunisasi juga masih menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pemerintah terus memperkuat sosialisasi melalui berbagai pendekatan budaya dan keagamaan agar pesan kesehatan lebih mudah diterima masyarakat.

Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah pusat dan daerah juga mulai melibatkan tokoh agama untuk membantu memberikan edukasi terkait vaksinasi anak. Langkah tersebut dinilai efektif karena tokoh agama memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh.

Usulan layanan imunisasi akhir pekan yang disampaikan Wamenkes Dante menjadi salah satu bentuk adaptasi kebijakan kesehatan terhadap kondisi sosial masyarakat setempat. Pemerintah berharap pendekatan yang lebih fleksibel dapat meningkatkan keterlibatan keluarga sekaligus memperluas cakupan vaksinasi anak di Aceh.

Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, diharapkan angka imunisasi di Aceh dapat meningkat secara bertahap sehingga semakin banyak anak memperoleh perlindungan kesehatan yang optimal sejak usia dini.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain