Home Berita”Early Booking” Dukungan Prabowo hingga Anies Jadi Capres, Strategi Partai Baru?
dok.kompas.id

”Early Booking” Dukungan Prabowo hingga Anies Jadi Capres, Strategi Partai Baru?

by Ikon logo megapolitanSalwa
A+A-
Reset

Megapollitan.id – Awal 2026 menjadi penanda babak baru dalam lanskap politik Indonesia. Dua partai politik yang bahkan belum genap berusia sebulan sejak deklarasi pendiriannya langsung melangkah berani: mengunci dukungan calon presiden untuk Pemilihan Umum 2029. Partai Gema Bangsa secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Presiden Prabowo Subianto, sementara Partai Gerakan Rakyat memilih Anies Rasyid Baswedan sebagai figur yang akan mereka dorong kembali ke panggung nasional.

Langkah ini sontak memantik perbincangan luas. Bagi sebagian kalangan, deklarasi dini tersebut dianggap wajar dalam iklim politik yang semakin kompetitif. Namun bagi pengamat, fenomena ini justru menyingkap perubahan mendasar dalam cara partai politik dibentuk, dipasarkan, dan dimainkan. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar “siapa mendukung siapa”, melainkan: apakah partai kini hanya menjadi kendaraan, bukan lagi rumah gagasan?

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, membaca fenomena ini sebagai pergeseran fungsi partai politik yang cukup drastis. Dalam pandangannya, calon presiden yang diusung bukanlah hasil dari proses kaderisasi, dialektika ide, atau pematangan internal partai. Sebaliknya, figur capres justru menjadi titik awal kelahiran partai itu sendiri.

“Jika sebelumnya partai menjadi arena kaderisasi dan perumusan gagasan, kini sebagian partai baru lahir justru sebagai instrumen elektoral untuk figur tertentu,” ujar Arifki, Selasa (20/1/2026).

Pernyataan tersebut menohok jantung praktik politik konvensional. Partai yang semestinya menjadi laboratorium ide dan kebijakan, kini tampil sebagai etalase dukungan. Ideologi, platform, dan program kerja tak lagi berada di etalase depan. Yang dijual justru kepastian posisi: berdiri di kubu siapa.

Arifki menyebut fenomena ini sebagai bentuk early booking politik. Seperti memesan tiket konser jauh sebelum hari-H, partai-partai baru ini ingin memastikan satu hal: terlihat lebih dulu. Dalam analoginya, Pilpres 2029 diperlakukan layaknya konser raksasa. Siapa cepat memesan panggung, dialah yang lebih dulu disorot lampu.

“Ini bukan sekadar deklarasi dukungan, melainkan strategi branding. Partai baru hari ini tidak lagi menjual ideologi atau program, tetapi menjual kepastian,” kata Arifki.

Strategi tersebut tak bisa dilepaskan dari realitas pasar politik yang semakin padat. Banyaknya partai dan figur yang bersaing membuat pendatang baru kesulitan mencuri perhatian. Dalam situasi ini, menempel pada tokoh yang sudah memiliki basis massa dan pengenalan publik dianggap sebagai jalan pintas paling efektif. Dukungan terhadap figur populer menjadi cara instan untuk mengikat emosi pemilih, sekaligus membangun identitas partai secara cepat.

Namun, di balik keuntungan jangka pendek itu, Arifki mengingatkan adanya konsekuensi yang tak ringan. Ketika partai sejak awal mengunci diri pada satu figur, daya tawarnya bisa melemah. Ruang dialog kebijakan berpotensi menyempit, tergantikan oleh narasi personalisasi politik yang berlarut-larut. Politik menjadi lebih emosional, kurang deliberatif.

Lebih jauh lagi, deklarasi dini semacam ini berpotensi memperpanjang suhu kompetisi politik nasional. Polarisasi tidak lagi muncul menjelang masa kampanye, melainkan menjadi latar permanen dalam kehidupan politik sehari-hari. Masyarakat seolah dipaksa hidup dalam suasana kontestasi yang tak pernah benar-benar usai.

“Pilpres 2029 belum dekat secara kalender, tetapi secara politik sudah mulai berjalan,” ujar Arifki. Menurutnya, ini menandakan perubahan irama demokrasi: siklus politik semakin pendek, sementara masa kampanye kian panjang.

Di sisi lain, para pendiri partai tentu memiliki narasi sendiri untuk menjelaskan pilihan politiknya. Partai Gema Bangsa, yang dideklarasikan di Jakarta International Convention Center pada Sabtu (17/1/2026), menyatakan dukungannya kepada Prabowo Subianto bukan tanpa alasan. Ketua Umum Partai Gema Bangsa, Ahmad Rofiq, menilai gaya kepemimpinan Prabowo yang tegas dan tanpa kompromi terhadap korupsi sebagai nilai utama yang ingin mereka dukung.

“Rasa-rasanya langka mencari calon pemimpin seperti apa yang dimiliki Pak Prabowo hari ini. Begitu kerasnya melawan korupsi. Tidak pandang bulu. Apa pun disikat,” ujar Rofiq. Ia bahkan membandingkan Prabowo dengan presiden-presiden sebelumnya, menilai ketegasan semacam itu jarang ditemukan.

Narasi serupa, meski dengan figur berbeda, juga disampaikan Partai Gerakan Rakyat. Sehari setelah deklarasi Gema Bangsa, partai ini menyatakan berdiri dan langsung mengunci dukungan kepada Anies Baswedan dalam acara deklarasi di Hotel Aryaduta, Jakarta, Minggu (18/1/2026). Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid, menyebut Anies sebagai sosok inspiratif yang telah lama berjalan bersama mereka.

“Pak Anies dan Gerakan Rakyat ini adalah satu kesatuan, bagaikan dua keping mata uang yang sama. Tidak mungkin dapat dipisahkan,” kata Sahrin. Pernyataan ini menegaskan bahwa relasi antara partai dan figur bukan sekadar aliansi elektoral, melainkan ikatan identitas.

Meski demikian, dukungan politik yang dideklarasikan sejak dini ini belum tentu langsung bermuara pada pencalonan resmi. Wakil Ketua Komisi II DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Dede Yusuf Macan Effendi, mengingatkan bahwa masih ada proses hukum dan administratif yang harus dilalui. Ia menyinggung Putusan Mahkamah Konstitusi yang menetapkan ambang batas pencalonan presiden menjadi 0 persen.

“Kalau keputusan MK mengatakan bahwa presidential threshold sudah 0 persen, artinya siapa pun, partai mana pun, boleh mengusulkan. Itu terbuka,” ujar Dede. Namun ia menegaskan, keterbukaan tersebut tetap dibatasi oleh mekanisme verifikasi.

Setidaknya terdapat dua tahapan penting. Pertama, verifikasi sebagai partai politik sesuai Undang-Undang Partai Politik. Kedua, verifikasi sebagai peserta pemilu yang mengacu pada Undang-Undang Pemilu. Hanya setelah lolos kedua tahapan ini, partai berhak mendaftarkan pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Dengan kata lain, deklarasi dukungan hari ini masih berada di wilayah simbolik dan strategis, belum bersifat final secara hukum. Namun justru di situlah letak signifikansinya. Deklarasi ini bekerja pada level persepsi publik, membentuk peta awal pertarungan, dan menandai siapa berada di kubu mana jauh sebelum gelanggang resmi dibuka.

Menariknya, Dede Yusuf memilih tidak berkomentar soal peluang pencalonan Anies atau figur lain. Ia menegaskan fokus Komisi II DPR saat ini masih pada pengkajian aturan pemilu secara keseluruhan, termasuk isu pemilihan kepala daerah. Sikap ini mencerminkan kehati-hatian institusional di tengah dinamika politik yang kian memanas lebih awal.

Fenomena “early booking” dukungan capres oleh partai baru ini pada akhirnya memperlihatkan satu hal: demokrasi Indonesia tengah memasuki fase baru. Fase di mana kecepatan, visibilitas, dan positioning menjadi mata uang utama. Partai tidak lagi menunggu waktu pemilu untuk bergerak; mereka berlomba mengamankan tempat di benak publik sejak jauh hari.

Apakah ini akan melahirkan demokrasi yang lebih efisien atau justru memperpanjang kelelahan politik publik, masih menjadi tanda tanya. Namun satu hal jelas: Pilpres 2029, meski masih beberapa tahun lagi, secara politik telah dimulai. Dan bagi partai-partai baru, berdiri lebih awal di panggung besar dianggap lebih berharga daripada menyiapkan panggung itu sendiri.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain