Pergerakan harga komoditas global kembali menjadi sorotan, terutama untuk minyak dan emas yang diprediksi masih akan mengalami volatilitas tinggi dalam sepekan ke depan. Ketidakpastian geopolitik serta dinamika kebijakan moneter menjadi dua faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan harga di pasar internasional.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa pekan ini merupakan periode krusial, khususnya terkait eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Hingga saat ini, kedua negara belum menunjukkan tanda-tanda mencapai kesepakatan, sehingga ketegangan masih terus berlanjut.
“Pekan ini menjadi pekan yang krusial terkait konflik AS-Iran,” kata Ibrahim Assuaibi dikutip Senin, 27 April 2026. AS dan Iran belum mencapai titik temu, sementara Iran masih memblokade Selat Hormuz.
Blokade di Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena jalur ini merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling vital di dunia. Gangguan di wilayah tersebut secara langsung berdampak pada distribusi energi global, yang pada akhirnya memicu lonjakan harga minyak di pasar internasional.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik juga diperparah oleh insiden yang terjadi di dalam negeri Amerika Serikat. Dalam sebuah acara makan malam yang dihadiri Presiden Donald Trump bersama koresponden Gedung Putih pada Minggu, 26 April 2026, dilaporkan terjadi suara tembakan yang memicu kepanikan. Dalam situasi tersebut, Trump dan istrinya harus segera diamankan.
Peristiwa ini menambah lapisan ketidakpastian yang memengaruhi sentimen pasar global. Ketika stabilitas politik terganggu, pelaku pasar cenderung bersikap lebih hati-hati dan mencari instrumen investasi yang dianggap lebih aman, seperti emas.
Dalam proyeksinya, Ibrahim memperkirakan harga minyak dunia akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar, yakni antara USD82 hingga USD107 per barel. Rentang ini mencerminkan tingginya volatilitas akibat faktor eksternal yang sulit diprediksi.
Sementara itu, indeks dolar AS juga diperkirakan mengalami fluktuasi, dengan kisaran pergerakan antara 94 hingga 102. Pergerakan dolar ini menjadi penting karena memiliki korelasi erat dengan harga komoditas global, termasuk emas dan minyak.
Untuk komoditas emas, Ibrahim memberikan gambaran teknikal mengenai level support dan resistansi yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar. Jika harga emas mengalami penurunan, maka diperkirakan akan bergerak menuju level support pertama di USD4.651 per troy ons, dan support kedua di USD4.560 per troy ons. Dalam konteks domestik, harga logam mulia diproyeksikan berada di kisaran Rp2,7 juta per gram.
Sebaliknya, jika harga emas mengalami kenaikan, maka potensi pergerakannya berada di level resistansi pertama sebesar USD4.779 per troy ons. Untuk resistansi berikutnya disebut berada di USD4.232 per troy ons, dengan proyeksi harga logam mulia domestik mencapai Rp2,980 juta per gram.
Selain faktor geopolitik, Ibrahim juga menyoroti peran bank sentral dunia dalam memengaruhi dinamika pasar. Saat ini, banyak bank sentral dilaporkan kembali meningkatkan cadangan emas mereka. Langkah ini dilakukan sebagai strategi lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global, sekaligus memanfaatkan harga emas yang cenderung mengalami koreksi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa emas masih dianggap sebagai aset safe haven yang relevan, terutama ketika kondisi pasar sedang tidak stabil. Dengan meningkatnya permintaan dari bank sentral, potensi kenaikan harga emas dalam jangka menengah hingga panjang tetap terbuka.
Lebih lanjut, Ibrahim menambahkan bahwa kebijakan moneter, khususnya dari bank sentral Amerika Serikat, akan menjadi faktor penentu lainnya. Pasar saat ini tengah menantikan perubahan kepemimpinan di Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada akhir April.
Calon ketua baru The Fed, Kevin Warsh, diperkirakan akan mempertahankan kebijakan suku bunga seperti yang diterapkan oleh pendahulunya. Keputusan ini dinilai sebagai respons terhadap proyeksi inflasi yang masih tinggi, terutama akibat kenaikan harga minyak global.
“Pertimbangannya adalah prakiraan inflasi tinggi yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak,” ucap Ibrahim menutup analisisnya.
Kebijakan suku bunga yang cenderung stabil atau tetap tinggi dapat memberikan dampak langsung terhadap pergerakan dolar AS. Di satu sisi, suku bunga tinggi dapat memperkuat dolar, namun di sisi lain juga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi.
Secara keseluruhan, pekan ini diprediksi akan menjadi periode yang penuh tantangan bagi pasar komoditas. Kombinasi antara ketegangan geopolitik, dinamika politik domestik Amerika Serikat, serta kebijakan moneter global menciptakan kondisi yang kompleks dan sulit diprediksi.
Bagi pelaku pasar dan investor, kondisi ini menuntut kehati-hatian serta kemampuan membaca arah pasar dengan lebih cermat. Volatilitas yang tinggi memang membuka peluang keuntungan, namun juga membawa risiko yang tidak kecil.
Dengan berbagai faktor yang saling berinteraksi, pergerakan harga minyak dan emas dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada perkembangan situasi global. Oleh karena itu, pemantauan terhadap isu geopolitik dan kebijakan ekonomi menjadi kunci dalam mengambil keputusan investasi yang tepat.