Peristiwa hilangnya sebuah helikopter di wilayah Kalimantan Barat kembali menjadi perhatian publik. Helikopter jenis Airbus H130 dengan registrasi PK-CFX milik PT Matthew Air Nusantara dilaporkan hilang kontak pada Kamis, 16 April 2026, saat melintas di kawasan Kabupaten Sekadau. Kejadian ini langsung memicu respons cepat dari tim pencarian dan pertolongan (SAR) untuk melakukan operasi penyelamatan di lokasi yang diduga menjadi titik jatuhnya pesawat.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyampaikan keprihatinannya atas insiden tersebut. Dalam keterangan pers yang disampaikan pada hari yang sama, ia menegaskan bahwa seluruh sumber daya telah dikerahkan demi memastikan proses pencarian berjalan optimal. Selain itu, ia juga mengungkapkan rasa duka mendalam terhadap kemungkinan dampak yang ditimbulkan dari peristiwa ini.
Helikopter tersebut diketahui lepas landas dari area perkebunan PT Citra Mahkota yang berada di Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi. Tujuan penerbangan adalah Kabupaten Kubu Raya, dengan waktu keberangkatan tercatat pada pukul 08.34 WIB. Namun, perjalanan yang seharusnya berlangsung normal itu berubah menjadi situasi darurat hanya dalam hitungan menit.
Berdasarkan data dari AirNav Indonesia, helikopter kehilangan kontak pada pukul 08.39 WIB, atau sekitar lima menit setelah lepas landas. Setelah itu, pesawat tidak lagi terpantau oleh radar dan tidak merespons komunikasi radio rutin yang biasanya dilakukan selama penerbangan. Hilangnya sinyal secara tiba-tiba ini menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya kecelakaan.
Sekitar 36 menit setelah hilang kontak, tepatnya pada pukul 09.15 WIB, Basarnas Command Center menerima sinyal darurat yang terdeteksi melalui satelit LEOSAR dalam sistem COSPAS-SARSAT. Sinyal tersebut berasal dari Emergency Locator Transmitter (ELT), sebuah perangkat yang secara otomatis memancarkan sinyal ketika terjadi kondisi darurat pada pesawat.
Menurut penjelasan Mohammad Syafii, titik hilangnya kontak serta lokasi terdeteksinya sinyal darurat berada di sekitar Desa Tapang Tingang, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau. Lokasi tersebut cukup terpencil, dengan jarak sekitar 81,5 nautical mile dari Bandara Supadio dan sekitar 55 nautical mile dari Pos SAR Sintang. Kondisi geografis yang sulit dijangkau menjadi salah satu tantangan utama dalam proses pencarian.
Wilayah tersebut dikenal memiliki hutan yang lebat dengan kontur perbukitan yang terjal. Medan seperti ini tentu menyulitkan mobilisasi tim SAR, baik melalui jalur darat maupun udara. Meski demikian, upaya pencarian tetap dilakukan secara intensif dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, BPBD, serta masyarakat setempat.
Dalam penerbangan tersebut, terdapat delapan orang di dalam helikopter, yang terdiri dari dua kru dan enam penumpang. Hingga saat ini, fokus utama tim SAR adalah menemukan lokasi pasti jatuhnya helikopter serta mengevakuasi seluruh korban yang berada di dalamnya.
Upaya pencarian dimulai sejak pukul 11.00 WIB, ketika tim rescue dari Pos SAR Sintang diberangkatkan menuju lokasi melalui jalur darat. Mereka bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menembus medan yang sulit demi mencapai titik yang diduga sebagai lokasi kejadian.
Tidak hanya melalui darat, pencarian juga dilakukan dari udara. Pada pukul 13.10 WIB, sebuah helikopter Super Puma milik TNI Angkatan Udara diberangkatkan dari Lanud Supadio. Helikopter ini membawa kru, pasukan Kopasgat, serta tim Basarnas untuk melakukan penyisiran dari udara.
Hasil dari pencarian udara mulai menunjukkan titik terang. Pada pukul 15.25 WIB, helikopter tersebut kembali ke pangkalan dengan membawa informasi penting. Tim berhasil menemukan serpihan yang diduga merupakan bagian dari ekor helikopter yang hilang. Lokasi penemuan ini berada sekitar 3 kilometer ke arah barat dari titik awal hilang kontak.
Temuan tersebut langsung diteruskan kepada tim darat sebagai acuan untuk mempersempit area pencarian. Dengan adanya petunjuk ini, diharapkan proses pencarian dapat berlangsung lebih terarah dan efisien.
Basarnas menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan operasi hingga seluruh korban berhasil ditemukan. Upaya ini dilakukan tanpa henti dengan mempertimbangkan berbagai aspek keselamatan bagi tim yang bertugas di lapangan.
“Dukungan doa masyarakat diharapkan agar proses pencarian dan evakuasi berjalan lancar, aman. Serta seluruh korban dapat segera ditemukan,” ucap Syafii.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya sistem keselamatan dalam dunia penerbangan, terutama di wilayah dengan kondisi geografis yang menantang. Selain itu, koordinasi cepat antarinstansi juga menjadi kunci dalam menghadapi situasi darurat seperti ini.
Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, dedikasi tim SAR patut diapresiasi. Mereka terus bekerja di bawah tekanan dan kondisi medan yang tidak mudah demi satu tujuan: menemukan korban dan memberikan kepastian bagi keluarga yang menunggu kabar.