Megapolitan.id |– Cuaca ekstrem kembali melanda Kabupaten Jember dan memicu banjir di sejumlah titik strategis pada Rabu sore (28/1/2026). Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah perkotaan sejak siang hari membuat sistem drainase kewalahan menampung debit air, sehingga genangan meluas hingga kawasan pendidikan, fasilitas kesehatan, dan jalur utama kota.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mencatat sedikitnya 16 titik banjir yang tersebar di beberapa kecamatan. Wilayah dengan dampak terparah berada di Kecamatan Sumbersari, yang dikenal sebagai kawasan pendidikan dan pusat aktivitas mahasiswa. Sejumlah area kampus dan jalan utama tergenang air dengan ketinggian bervariasi, menghambat mobilitas warga dan aktivitas publik.
Hujan deras mulai turun sekitar pukul 15.30 WIB. Dalam kurun waktu singkat, curah hujan tinggi menyebabkan air meluap ke jalan dan permukiman, terutama di wilayah padat penduduk. Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh ketidakmampuan drainase kota dalam menampung limpasan air hujan.
Menurut Edy, karakter hujan yang turun secara intens dalam waktu singkat menjadi tantangan tersendiri bagi wilayah perkotaan seperti Jember. Saluran air yang ada tidak mampu mengalirkan debit secara optimal, sehingga genangan cepat terbentuk di titik-titik rendah dan jalur strategis.
Hingga pukul 20.45 WIB, BPBD Jember mencatat sebaran banjir di Kecamatan Sumbersari mencapai sembilan titik. Wilayah terdampak meliputi hampir seluruh kawasan kampus di Jl. Sumatera, Jl. Jawa, Jl. Mastrip, hingga area Politeknik Negeri Jember. Kawasan ini dikenal memiliki aktivitas tinggi, baik oleh mahasiswa, dosen, maupun masyarakat umum.
“Sumbersari menjadi yang paling terdampak. Ada sembilan titik di wilayah kampus yang hampir semuanya terendam banjir genangan,” ujar Edy, Kamis (29/1/2026).
Genangan air di kawasan kampus membuat akses keluar-masuk terganggu. Sejumlah mahasiswa terpaksa menunda aktivitas sore hari, sementara pengendara roda dua harus ekstra berhati-hati melintasi ruas jalan yang tertutup air. Dalam beberapa titik, air dilaporkan mencapai tinggi lutut orang dewasa, meski tidak sampai masuk ke bangunan permanen kampus.
Selain Sumbersari, banjir juga melanda Kecamatan Patrang dengan total lima titik genangan. Area terdampak meliputi sekitar RS Paru Jember dan sejumlah kawasan perumahan warga. Aktivitas warga sempat melambat, terutama di sekitar fasilitas kesehatan, meski layanan medis tetap berjalan dengan penyesuaian akses.
Sementara itu, Kecamatan Kaliwates tercatat mengalami banjir di dua titik, yakni di kawasan Jl. Sultan Agung dan Kampung Ledok. Dua wilayah ini dikenal sebagai jalur penghubung penting dalam kota, sehingga genangan air sempat memicu kepadatan lalu lintas pada jam-jam sibuk sore hingga malam hari.
Merespons kondisi darurat tersebut, BPBD Jember segera mengambil langkah taktis dengan meningkatkan intensitas penanganan di lapangan. Seluruh Tim Reaksi Cepat (TRC) diterjunkan untuk melakukan pemantauan, membantu evakuasi warga jika diperlukan, serta memastikan tidak ada korban jiwa akibat genangan banjir.
“Kapasitas tim kami gandakan. Yang biasanya hanya turun satu regu, hari ini dua regu penuh kami terjunkan dan bagi habis ke seluruh titik terdampak,” tegas Edy.
Langkah pelipatgandaan personel ini dilakukan untuk mempercepat respons di lapangan, mengingat sebaran banjir cukup luas dan berada di area vital. Petugas BPBD juga berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk aparat kecamatan, kelurahan, serta relawan kebencanaan untuk memastikan penanganan berjalan efektif.
Meski hujan mulai mereda pada malam hari dan berubah menjadi intensitas kecil, BPBD tetap menempatkan petugas di lokasi-lokasi rawan. Pemantauan debit air dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi kemungkinan hujan susulan, mengingat kondisi cuaca masih fluktuatif.
“Fokus utama saat ini adalah memantau penurunan debit air dan memastikan keamanan warga yang melintasi jalur-jalur utama kota,” pungkasnya.
BPBD Jember juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada, khususnya bagi warga yang tinggal di wilayah rawan genangan. Warga diminta tidak memaksakan diri melintasi jalan yang tergenang cukup dalam, serta segera melapor kepada petugas jika terjadi kondisi darurat.
Peristiwa banjir kali ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan drainase perkotaan dan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Dalam beberapa tahun terakhir, intensitas hujan dengan pola singkat namun lebat semakin sering terjadi, seiring dengan perubahan iklim yang berdampak pada wilayah perkotaan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat menjadikan kejadian ini sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat sistem drainase, terutama di kawasan padat aktivitas seperti area pendidikan, fasilitas kesehatan, dan jalur utama transportasi. Penataan saluran air yang terintegrasi serta peningkatan kapasitas tampung dinilai menjadi kebutuhan mendesak guna meminimalkan risiko banjir di masa mendatang.
Sementara itu, hingga laporan ini disusun, tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa banjir tersebut. Genangan air dilaporkan berangsur surut di beberapa titik seiring berkurangnya intensitas hujan. Namun, BPBD Jember memastikan kesiapsiagaan tetap dijaga penuh hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman.