Home BeritaIAI Ungkap Pentingnya Rumah Tahan Gempa, Biaya Lebih Tinggi Tapi Lebih Aman
dok. rri.co.id

IAI Ungkap Pentingnya Rumah Tahan Gempa, Biaya Lebih Tinggi Tapi Lebih Aman

by Ikon logo megapolitanSalma
A+A-
Reset

Megapolitan.id |-Kesadaran akan pentingnya bangunan tahan gempa kembali menjadi perhatian, terutama di negara seperti Indonesia yang berada di kawasan rawan aktivitas seismik. Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Teguh Aryanto, menilai bahwa pembangunan rumah atau gedung dengan standar tahan gempa memang membutuhkan biaya yang relatif lebih tinggi dibandingkan konstruksi biasa. Namun, ia menekankan bahwa aspek keselamatan seharusnya menjadi prioritas utama dalam perencanaan bangunan.

Menurut Teguh, peningkatan biaya tersebut terutama disebabkan oleh kebutuhan material yang lebih berkualitas serta struktur bangunan yang harus memenuhi standar keamanan lebih ketat. Penggunaan pembesian yang lebih kuat dan kualitas beton yang lebih baik menjadi faktor utama yang mendorong naiknya biaya pembangunan.

“Kalau hanya melihat biaya awal memang lebih mahal. Tapi jika dibandingkan dengan kerugian saat terjadi gempa, tentu jauh lebih besar dampaknya,” katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Jumat, 13 April 2026.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perhitungan biaya dalam pembangunan tidak seharusnya hanya berfokus pada pengeluaran awal. Risiko kerugian yang jauh lebih besar, baik dari segi material maupun keselamatan jiwa, perlu menjadi pertimbangan penting dalam jangka panjang.

Lebih lanjut, Teguh menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat di wilayah rawan gempa yang belum sepenuhnya memahami pentingnya konstruksi tahan gempa. Hal ini menjadi salah satu penyebab tingginya jumlah korban saat terjadi bencana, di mana sebagian besar korban justru disebabkan oleh runtuhnya bangunan yang tidak memiliki struktur kuat.

Ia juga menyinggung bahwa konsep bangunan tahan gempa sebenarnya bukan hal baru. Dalam praktiknya, masyarakat Indonesia di masa lalu telah menerapkan kearifan lokal dalam membangun hunian yang lebih fleksibel dan tahan terhadap guncangan. Namun, penerapan tersebut masih terbatas pada bangunan sederhana dan umumnya berlantai rendah.

Seiring perkembangan zaman, kebutuhan akan hunian yang lebih modern dan bertingkat membuat penerapan konsep tahan gempa menjadi semakin kompleks. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih sistematis serta dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah.

Teguh menambahkan bahwa Kementerian Pekerjaan Umum sebenarnya telah memiliki program desain rumah tahan gempa dengan biaya yang relatif terjangkau. Program ini bertujuan untuk memberikan alternatif bagi masyarakat agar dapat membangun hunian yang aman tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu besar.

“KementerianPU pernah beberapa kali kok dia membuat desain-desain rumah yang memang tahan gempa, tapi memang masih sangat terbatas,” ujarnya.

Meski demikian, implementasi program tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sosialisasi hingga minimnya akses masyarakat terhadap informasi dan teknologi konstruksi yang sesuai standar.

Selain faktor desain dan struktur, pemilihan material juga menjadi aspek penting dalam membangun rumah tahan gempa. Teguh mengimbau masyarakat untuk menggunakan material yang lebih ringan guna mengurangi risiko saat terjadi gempa. Material berat seperti dinding masif atau genteng dengan beban besar dapat meningkatkan potensi kerusakan jika tidak didukung oleh struktur yang memadai.

Di sisi lain, BMKG juga turut mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap kondisi bangunan, terutama setelah terjadi gempa bumi. Pemeriksaan struktur menjadi langkah penting untuk memastikan keamanan hunian maupun gedung perkantoran.

Plh. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Fachri Radjab, menekankan bahwa kondisi bangunan yang tampak baik dari luar belum tentu menjamin keamanan secara keseluruhan.

“Untuk bangunan gedung tinggi dan rumah-rumah agar dicek kembali kondisi struktur bangunan,” ucapnya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Jumat, 13 April 2026.

Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan tidak hanya dilakukan secara visual, tetapi juga perlu memperhatikan detail struktur yang mungkin mengalami kerusakan. Retakan kecil atau perubahan pada struktur bangunan bisa menjadi tanda adanya potensi bahaya yang tidak terlihat secara kasat mata.

“Walaupun bangunannya masih berdiri, tapi apabila ada retakan-retakan atau kondisi-kondisi tidak stabil, itu perlu menjadi kewaspadaan,” ujarnya.

Imbauan ini menjadi penting, terutama di tengah potensi gempa susulan yang sering terjadi setelah gempa utama. Bangunan yang sudah mengalami kerusakan ringan bisa menjadi lebih rentan jika kembali diguncang.

Secara keseluruhan, pembangunan rumah tahan gempa bukan hanya soal biaya, tetapi juga investasi jangka panjang untuk keselamatan. Dengan perencanaan yang matang, pemilihan material yang tepat, serta kesadaran masyarakat yang tinggi, risiko akibat gempa dapat diminimalkan.

Kesadaran kolektif menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman. Baik pemerintah, tenaga profesional, maupun masyarakat memiliki peran penting dalam memastikan bahwa setiap bangunan yang didirikan tidak hanya nyaman, tetapi juga mampu melindungi penghuninya dari ancaman bencana.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain