Home PariwisataHotelJejak Bung Karno di Rembangan: Wisata Sejuk Sarat Sejarah di Lereng Argopuro
dok.pantura7.com

Jejak Bung Karno di Rembangan: Wisata Sejuk Sarat Sejarah di Lereng Argopuro

by Ikon logo megapolitanSalwa
A+A-
Reset

Megapolitan.id – Berada di lereng pegunungan yang membentang anggun di wilayah timur Pulau Jawa, kawasan wisata Rembangan telah lama dikenal sebagai tempat pelarian yang menawarkan kesejukan udara dan panorama alam menenangkan. Terletak di kaki Pegunungan Argopuro, kawasan ini menjadi salah satu titik favorit masyarakat Jember dan sekitarnya untuk melepas penat dari hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari. Namun, di balik hamparan hijau dan kabut tipis yang kerap menyelimuti pagi hari, Rembangan menyimpan kisah sejarah penting yang menjadikannya lebih dari sekadar destinasi wisata alam.

Bagi banyak pengunjung, Rembangan adalah tempat menikmati udara pegunungan yang bersih dan pemandangan Kota Jember dari ketinggian. Pepohonan tinggi, suara angin yang berdesir pelan, serta aroma tanah basah selepas hujan menghadirkan suasana yang sulit ditemukan di perkotaan. Akan tetapi, tidak semua orang mengetahui bahwa kawasan ini juga menjadi saksi perjalanan sejarah bangsa Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan sosok Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Di tengah kawasan wisata tersebut berdiri sebuah bangunan bersejarah yang hingga kini masih berfungsi sebagaimana awal pembangunannya, yakni Hotel Rembangan. Hotel ini bukan sekadar tempat menginap, melainkan ruang sunyi yang menyimpan cerita masa lalu. Menurut berbagai catatan dan kisah yang berkembang, Bung Karno pernah singgah dan menginap di hotel ini, tepatnya di Kamar Melati Nomor 1. Kamar tersebut berada di lantai dua, menghadap langsung ke arah kota, dengan balkon yang menjadi saksi kebiasaan sang Presiden menikmati waktu senggangnya.

Dikisahkan, di balkon itulah Bung Karno sering duduk santai sembari memandang Kota Jember dari kejauhan. Udara sejuk pegunungan menemani kebiasaan beliau menghisap cerutu, sebuah momen sederhana yang kini memiliki makna historis mendalam. Pemandangan yang terbentang dari ketinggian Rembangan dipercaya memberi ketenangan sekaligus ruang kontemplasi bagi Bung Karno di sela-sela aktivitas kenegaraannya. Kisah ini kemudian diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Rembangan.

Menariknya, kamar bersejarah tersebut masih terawat hingga hari ini. Pengelola hotel berupaya mempertahankan bentuk aslinya agar nilai sejarah yang terkandung di dalamnya tidak luntur oleh zaman. Dinding kamar terbuat dari kayu jati tua yang kokoh, menampilkan kesan hangat sekaligus klasik. Lampu dinding bergaya kolonial masih tergantung di tempatnya, memancarkan cahaya temaram yang membawa imajinasi pengunjung pada masa lalu. Meja rias dengan desain sederhana namun elegan juga tetap berdiri tegak, menjadi saksi bisu perjalanan waktu sejak era kolonial Belanda.

Upaya pelestarian tersebut bukan tanpa alasan. Staf Hotel Rembangan, Ichwan Aziz, menegaskan bahwa pihak hotel menyadari betul tingginya nilai sejarah yang melekat pada kamar Melati Nomor 1. “Kami berusaha memanfaatkan potensi sejarah di Rembangan agar lebih dikenal wisatawan,” ujar Ichwan, Kamis, (16/10/25). Pernyataan ini mencerminkan kesadaran pengelola bahwa kekuatan Rembangan tidak hanya terletak pada alamnya, tetapi juga pada cerita yang hidup di balik bangunan-bangunan lamanya.

Selain menjaga kondisi fisik bangunan, pengelola hotel juga melakukan berbagai langkah untuk mengenalkan sejarah Rembangan kepada publik yang lebih luas. Salah satunya dengan memasang banner dan media informasi yang menceritakan perjalanan sejarah kawasan ini. Informasi tersebut ditempatkan di area-area strategis agar mudah dibaca oleh pengunjung. Tidak berhenti di situ, promosi juga dilakukan melalui media sosial dengan menggandeng influencer, sebagai upaya menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan platform digital. “Kami pasang banner tentang sejarah Rembangan dan juga aktif di media sosial. Promosinya kami lakukan dengan bekerja sama dengan influencer,” tambah Ichwan.

Meski demikian, promosi digital yang telah dilakukan belum sepenuhnya memberikan dampak signifikan terhadap lonjakan jumlah pengunjung. Tren kunjungan memang menunjukkan peningkatan, namun belum terlalu besar. Saat ini, sebagian besar tamu Hotel Rembangan masih didominasi oleh rombongan kegiatan pemerintahan dan program corporate social responsibility (CSR). Sementara itu, jumlah tamu umum yang datang untuk berlibur atau sekadar menikmati suasana bersejarah masih relatif terbatas.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola kawasan wisata Rembangan. Di satu sisi, potensi yang dimiliki sangat besar, baik dari segi alam, sejarah, maupun edukasi. Di sisi lain, masih diperlukan strategi yang lebih terintegrasi agar Rembangan dapat dikenal lebih luas dan menjadi pilihan utama wisatawan. Salah satu langkah yang tengah diupayakan adalah menggandeng pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal agar dapat memasarkan produknya di area hotel dan kawasan wisata.

Kerja sama ini dilakukan bersama Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Jember sebagai bentuk dukungan terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Kehadiran produk UMKM diharapkan tidak hanya menambah daya tarik wisata, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi kesejahteraan warga lokal. Sayangnya, upaya ini masih menghadapi kendala, salah satunya terkait akses jalan menuju lokasi Rembangan yang dinilai belum sepenuhnya optimal. Kondisi tersebut mempengaruhi distribusi produk dan kenyamanan pengunjung, sehingga kerja sama belum dapat berjalan maksimal.

Jika menilik ke belakang, Hotel Rembangan memiliki sejarah panjang yang tak lepas dari masa kolonial Belanda. Hotel ini dibangun pada tahun 1937 oleh seorang Belanda bernama Mr. Hofstide. Pada masa itu, Rembangan difungsikan sebagai area rekreasi bagi para pengawas perkebunan kopi dan kakao yang tersebar di lereng Argopuro. Lokasinya yang sejuk dan jauh dari keramaian menjadikannya tempat ideal untuk beristirahat setelah menjalani rutinitas di perkebunan.

Seiring berjalannya waktu dan perubahan rezim kekuasaan, fungsi Rembangan pun mengalami transformasi. Setelah Indonesia merdeka, kawasan ini dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Jember dan ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan daerah. Perubahan pengelolaan tersebut membawa semangat baru untuk menjadikan Rembangan sebagai ruang publik yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas, tanpa menghilangkan nilai sejarah yang telah melekat sejak awal.

Kini, Rembangan tidak hanya dikenal karena hotel bersejarahnya. Kawasan ini juga menawarkan berbagai fasilitas penunjang wisata yang membuat pengalaman berkunjung semakin beragam. Kolam renang dengan air pegunungan yang segar menjadi salah satu daya tarik utama, terutama bagi keluarga. Selain itu, tersedia lapangan tenis, area berkemah, aula besar untuk berbagai kegiatan, serta agrowisata yang menampilkan beragam komoditas unggulan seperti buah naga, kopi, durian, dan bunga krisan.

Keberadaan agrowisata memberikan dimensi edukatif bagi pengunjung, khususnya generasi muda. Mereka tidak hanya diajak menikmati keindahan alam, tetapi juga belajar mengenal proses budidaya tanaman dan potensi pertanian lokal. Hal ini menjadikan Rembangan sebagai destinasi yang mampu menggabungkan wisata rekreasi dengan pembelajaran, sebuah konsep yang semakin relevan di tengah kebutuhan akan wisata berkelanjutan.

Pada akhirnya, Rembangan adalah contoh nyata bagaimana sebuah kawasan wisata dapat menjadi titik temu antara alam, sejarah, dan edukasi. Keindahan pegunungan Argopuro berpadu dengan kisah Bung Karno yang pernah singgah, menciptakan narasi kuat yang membedakannya dari destinasi lain. Tantangan dalam pengelolaan dan promosi tentu masih ada, namun dengan komitmen pelestarian dan inovasi berkelanjutan, Rembangan memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga memperkaya pengetahuan dan kesadaran sejarah para pengunjungnya.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain