Home BeritaBuku Sejarah Muslim Tionghoa Jadi Ruang Dialog Keberagaman Indonesia

Buku Sejarah Muslim Tionghoa Jadi Ruang Dialog Keberagaman Indonesia

by Ikon logo megapolitanM Hamz
A+A-
Reset

Megapolitan.ID | Yayasan Bagin Indonesia Centre (YBIC) menggelar peluncuran dan diskusi buku sejarah bertajuk Pergerakan Etnis Muslim Tionghoa dalam Ekonomi, Politik, dan Tradisi di Yogyakarta karya Sunano di Digra Coffee, Jalan Lebak Bulus II No.21, Jakarta Selatan.

Kegiatan ini bertujuan memperluas pemahaman publik tentang sejarah keberagaman Indonesia sekaligus memperkuat nilai toleransi melalui momentum peringatan Imlek dan datangnya bulan Ramadan.

Acara yang dikemas dalam format diskusi literasi tersebut menghadirkan tiga narasumber utama.

Sunano selaku penulis buku menjelaskan bahwa karya tersebut disusun berdasarkan observasi langsung bersama pelaku serta saksi sejarah Muslim Tionghoa di Yogyakarta.

Ia menekankan pentingnya dokumentasi sejarah yang berangkat dari pengalaman nyata agar narasi keberagaman tidak terdistorsi oleh sudut pandang tunggal.

Narasumber kedua ialah aktivis sekaligus Pembina Yayasan Bagin Indonesia Centre (YBIC), Bung Yusuf Blegur.

Dalam paparannya, Yusuf yang juga dikenal sebagai anak asuh almarhum Bagin dan mantan presidium GMNI menyoroti kontribusi komunitas Muslim Tionghoa dalam dinamika sosial-politik Indonesia.

Menurutnya, narasi sejarah seperti ini dapat menjadi jembatan dialog lintas identitas di tengah tantangan kebangsaan modern.

Sementara itu, akademisi yang juga Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial UNUSIA, Ustaz Amsar A. Dulmanan, turut memberikan perspektif akademik mengenai pentingnya kajian sejarah berbasis keberagaman.

Ia menilai buku tersebut memiliki nilai ilmiah yang relevan untuk memperkaya diskursus sosial serta menjadi bahan refleksi generasi muda dalam memahami pluralitas bangsa.

Diskusi dipandu oleh Mochamad Nuruddin, aktivis dari kalangan Gen Z sekaligus Founder Rumah SDM.

Kehadirannya sebagai moderator dinilai mampu menghadirkan suasana dialog yang inklusif, sehingga pembahasan sejarah dapat diterima lintas generasi dengan bahasa yang lebih kontekstual.

Buku yang mengangkat sejarah Muslim Tionghoa di Yogyakarta ini disebut menjadi salah satu referensi yang diminati kalangan literasi, akademisi, hingga mahasiswa tingkat akhir.

“Banyak pihak menilai karya tersebut memberikan perspektif baru yang memperkaya landasan pemikiran dalam kajian sejarah sosial Indonesia,” katanya, Sabtu (14/2/2026).

Sementara, Ketua Umum Yayasan Bagin Indonesia Centre (YBIC), Murniati Ginting, berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. “Acara ini diharapkan mampu menjadi penambah wawasan sejarah Indonesia dalam memahami keberagaman, sekaligus menjadi imun penguat toleransi demi persatuan Indonesia,” ujarnya.

Dengan mengusung semangat toleransi melalui literasi sejarah, kegiatan ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan unsur akademik, aktivisme, serta masyarakat umum dalam bingkai kebangsaan yang inklusif. (*)

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain