Home TeknologiKripto Bukan Sekadar Mata Uang: Menelisik Logika Investasi dan Risiko di Balik Blockchain
dok.muhammadiyah.or.id

Kripto Bukan Sekadar Mata Uang: Menelisik Logika Investasi dan Risiko di Balik Blockchain

by Ikon logo megapolitanSalwa
A+A-
Reset

Megapolitan.id – Di tengah riuhnya perbincangan tentang aset kripto yang tak pernah benar-benar sunyi, sebuah forum ilmiah dihadirkan untuk menenangkan euforia sekaligus meluruskan persepsi. Sabtu (28/02), di aula Universitas Ahmad Dahlan, berlangsung Halaqah Nasional Hukum Investasi Kripto. Forum ini bukan sekadar diskusi biasa, melainkan ruang refleksi—tempat teknologi, hukum, dan etika bertemu dalam satu meja panjang bernama literasi.

Salah satu pembicara yang mencuri perhatian adalah Mochammad Tanzil Multazam, dosen dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Dengan pendekatan yang sistematis namun tetap membumi, ia memaparkan aspek praktis investasi dan trading aset kripto. Bukan untuk menakut-nakuti, bukan pula untuk mengglorifikasi, tetapi untuk mengajak hadirin melihat kripto secara utuh.

Di awal pemaparannya, Tanzil menekankan satu hal mendasar: pentingnya memahami ekosistem teknologi blockchain secara menyeluruh sebelum menilai aset kripto dari sisi investasi maupun hukum. Menurutnya, banyak orang terjebak pada permukaan—harga naik dan turun—tanpa memahami fondasi teknologinya.

Ia menguraikan bahwa cryptocurrency sejatinya hanyalah efek turunan (side effect) dari teknologi blockchain. Pernyataan ini menjadi titik balik diskusi. Selama ini, publik kerap memusatkan perhatian pada koin dan token, padahal di baliknya ada sistem besar yang menjadi mesin utama: blockchain.

Menurut Tanzil, istilah “cryptocurrency” sebagai mata uang tidak sepenuhnya tepat, karena secara hakikat kripto lebih menyerupai aset digital daripada alat tukar. Ia menjelaskan bahwa pada awal kemunculannya, kripto hadir sebagai bentuk imbalan (reward) bagi validator jaringan blockchain. Dalam sistem tersebut, validator berperan memverifikasi transaksi dan menjaga keamanan jaringan. Sebagai kompensasi, mereka memperoleh token.

Seiring waktu, penggunaan teknologi berkembang. Token yang semula sekadar imbalan teknis kemudian dipakai untuk berbagai kebutuhan transaksi sehingga populer disebut sebagai mata uang digital. Namun perjalanan kripto tidak berhenti di sana.

Dalam praktik modern, fungsi kripto berkembang jauh melampaui pembayaran. Ia dapat dijadikan jaminan (collateral), instrumen investasi, hingga bagian dari sistem keuangan digital terdesentralisasi. Dunia mengenalnya sebagai decentralized finance atau DeFi—sebuah sistem yang memungkinkan layanan keuangan berjalan tanpa otoritas pusat.

“Karena bisa dijadikan kolateral dan berbagai fungsi finansial lainnya, maka lebih tepat disebut sebagai crypto asset daripada cryptocurrency,” ujarnya.

Pernyataan tersebut bukan sekadar permainan istilah. Ia membawa implikasi hukum dan ekonomi yang besar. Jika kripto dipahami sebagai aset, maka pendekatan regulasi dan analisis investasinya pun harus disesuaikan.

Tanzil kemudian memetakan ekosistem kripto menjadi tiga komponen utama, yakni pengguna, platform, dan aset. Pendekatan ini membantu publik melihat gambaran besar, bukan hanya grafik harga.

Dari sisi pengguna, ia menjelaskan bahwa pelaku di dunia kripto tidak hanya trader yang berburu keuntungan jangka pendek. Ada investor jangka panjang atau holder yang menyimpan aset selama bertahun-tahun. Ada pula pengembang (developer) yang membangun aplikasi di atas blockchain, validator atau staker yang menjaga jaringan, serta penyedia likuiditas (liquidity provider) yang menopang aktivitas perdagangan.

Artinya, ekosistem ini kompleks dan saling terkait.

Dari sisi platform, Tanzil membedakan antara centralized exchange dan decentralized finance (DeFi). Centralized exchange dioperasikan secara terpusat dan diawasi regulator. Model ini lebih familiar bagi masyarakat karena menyerupai bursa pada umumnya. Sementara DeFi berjalan berbasis komunitas tanpa otoritas pusat. Transaksi berlangsung melalui smart contract yang dieksekusi otomatis oleh kode.

Perbedaan ini penting karena berkaitan dengan tanggung jawab, keamanan, dan risiko. Di centralized exchange, ada entitas yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Di DeFi, pengguna bertanggung jawab penuh atas keputusan dan asetnya sendiri.

Sementara dari sisi aset, kripto terbagi dalam beberapa lapisan teknologi (layer). Layer satu adalah jaringan utama blockchain, tempat transaksi dicatat dan diverifikasi. Layer dua berfungsi sebagai teknologi pendukung untuk meningkatkan skalabilitas dan efisiensi. Layer tiga biasanya berisi aplikasi atau layanan digital yang dibangun di atas blockchain.

Struktur berlapis ini menunjukkan bahwa tidak semua token diciptakan dengan fungsi yang sama. Ada yang menjadi tulang punggung jaringan, ada yang sekadar aplikasi tambahan.

Namun di sinilah tantangan terbesar muncul.

Tanzil menegaskan bahwa jumlah aset kripto yang beredar saat ini sangat besar, namun hanya sebagian kecil yang memiliki manfaat nyata.

“Dari puluhan juta aset kripto yang ada, yang benar-benar memiliki utilitas kemungkinan kurang dari seribu. Sisanya banyak yang bersifat spekulatif,” jelasnya.

Angka tersebut mengundang keheningan. Di balik gemerlap promosi dan janji keuntungan, realitasnya tidak semua aset memiliki fondasi kuat. Banyak token diciptakan tanpa kegunaan jelas, sekadar memanfaatkan tren dan psikologi pasar.

Fenomena inilah, menurut Tanzil, yang sering mendorong praktik perdagangan menyerupai perjudian. Pembelian aset dilakukan tanpa dasar manfaat yang jelas, hanya berdasarkan harapan harga akan naik karena permintaan sesaat.

Dalam konteks ini, ia menyoroti pentingnya memperkuat literasi keuangan digital.

Tanzil juga menyinggung persepsi keliru tentang kekayaan instan dari kripto. Berdasarkan pengamatannya, pihak yang benar-benar memperoleh keuntungan besar biasanya berasal dari tiga kelompok: pengguna awal teknologi (early adopters), investor yang mendapat lonjakan harga ekstrem (jackpot), serta pelaku penipuan (scammer).

Pernyataan ini menjadi pengingat keras bahwa tidak semua kisah sukses bisa direplikasi. Early adopters masuk ketika teknologi masih sepi dan berisiko tinggi. Jackpot adalah peristiwa langka yang tidak bisa dijadikan strategi. Sementara scammer jelas bukan contoh yang patut diikuti.

Ia secara khusus mengingatkan bahaya perdagangan dengan leverage tinggi di pasar futures. Dalam sistem ini, investor dapat membuka posisi jauh lebih besar dari modal yang dimiliki. Potensi keuntungan memang besar, tetapi risiko likuidasi juga sangat cepat.

“Keinginan kaya instan melalui kripto justru sering berakhir bangkrut instan,” tegasnya.

Kalimat tersebut terasa seperti garis bawah dari seluruh pemaparan. Teknologi boleh canggih, pasar boleh dinamis, tetapi sifat dasar manusia—ingin cepat kaya—sering menjadi sumber masalah.

Sebagai penutup, Tanzil menekankan bahwa kunci memahami aset kripto terletak pada analisis fundamental berbasis data on-chain. Artinya, investor perlu melihat aktivitas pengembang, struktur ekonomi token (tokenomics), serta distribusi kepemilikan aset.

Apakah proyek tersebut aktif dikembangkan? Apakah token memiliki mekanisme pasokan yang sehat? Apakah kepemilikannya terdistribusi atau terkonsentrasi pada segelintir pihak? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus dijawab sebelum membeli.

Menurutnya, literasi menjadi faktor paling penting agar masyarakat tidak terjebak pada spekulasi semata, melainkan mampu memahami manfaat teknologi blockchain secara rasional dan bertanggung jawab.

Di akhir forum, suasana terasa lebih tenang. Euforia berubah menjadi refleksi. Kripto bukan lagi sekadar simbol keuntungan cepat, melainkan bagian dari ekosistem teknologi yang perlu dipahami dengan disiplin intelektual.

Di tengah dunia digital yang bergerak cepat, pendekatan kritis seperti inilah yang dibutuhkan. Bukan untuk mematikan inovasi, tetapi untuk memastikan inovasi berjalan seiring dengan tanggung jawab.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes1No1

Baca Artikel Lain