Megapolitan.id – Menteri Pertahanan Republik Indonesia yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Dewan Pertahanan Nasional (DPN), Sjafrie Sjamsoeddin, secara resmi memimpin Upacara Pengangkatan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Tenaga Ahli di lingkungan Dewan Pertahanan Nasional. Kegiatan tersebut digelar di Kantor Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Jakarta, pada Kamis (15/1/2026).
Pelantikan ini menjadi momentum penting dalam upaya penguatan kelembagaan Dewan Pertahanan Nasional, khususnya dalam menghadapi tantangan pertahanan negara yang kian kompleks di tengah dinamika global dan regional. Pemerintah menilai keberadaan tenaga ahli dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman yang beragam sangat dibutuhkan untuk memperkaya perspektif strategis dalam perumusan kebijakan pertahanan nasional.
Upacara pelantikan berlangsung dengan penuh khidmat dan tertib. Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” sebagai simbol penghormatan dan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Suasana formal dan penuh tanggung jawab terasa kuat sepanjang prosesi, mencerminkan pentingnya amanah yang akan diemban oleh para tenaga ahli yang dilantik.
Sebanyak 12 orang pakar dari berbagai disiplin ilmu secara resmi diangkat sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional. Pengangkatan tersebut didasarkan pada Keputusan Ketua Harian Dewan Pertahanan Nasional Nomor: KEP/3/KH/X/2025. Para tenaga ahli ini akan mengisi posisi strategis sebagai Tenaga Ahli Utama, Tenaga Ahli Madya, dan Tenaga Ahli Muda pada kedeputian bidang Geoekonomi, Geopolitik, dan Geostrategi.
Penempatan tenaga ahli pada tiga bidang tersebut dinilai sangat relevan dengan tantangan pertahanan masa kini. Isu geoekonomi, geopolitik, dan geostrategi tidak lagi berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan erat dalam memengaruhi stabilitas nasional dan posisi Indonesia di kancah global. Oleh karena itu, kehadiran para pakar di bidang-bidang tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas analisis dan perumusan rekomendasi kebijakan strategis bagi Dewan Pertahanan Nasional.
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia memandang pengangkatan tenaga ahli ini sebagai langkah nyata dalam mengintegrasikan keahlian akademis dan pengalaman praktis ke dalam sistem kerja Dewan Pertahanan Nasional. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan setiap kebijakan yang dihasilkan tidak hanya berbasis pada pertimbangan normatif, tetapi juga didukung oleh analisis mendalam dan komprehensif terhadap situasi global, regional, maupun nasional.
Dalam konteks pertahanan negara, peran Dewan Pertahanan Nasional sangat strategis sebagai lembaga yang memberikan masukan dan pertimbangan kepada Presiden dalam penetapan kebijakan pertahanan. Oleh karena itu, penguatan sumber daya manusia, khususnya pada level pemikir dan perencana strategis, menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Kehadiran tenaga ahli dengan kompetensi khusus diharapkan dapat meningkatkan kualitas rekomendasi kebijakan yang dihasilkan oleh DPN.
Selain itu, pelantikan ini juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam membangun tata kelola pertahanan yang adaptif dan responsif terhadap perubahan lingkungan strategis. Perkembangan teknologi, dinamika politik internasional, hingga tantangan ekonomi global menuntut adanya pendekatan pertahanan yang holistik dan berbasis pengetahuan. Tenaga ahli yang dilantik diharapkan mampu menjembatani berbagai perspektif tersebut dalam kerangka kepentingan nasional.
Usai prosesi pengambilan sumpah jabatan, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin secara langsung menyampaikan ucapan selamat kepada para tenaga ahli yang baru dilantik. Momen tersebut menjadi simbol kepercayaan negara terhadap integritas, kapabilitas, dan dedikasi para pakar yang akan mengemban tugas di lingkungan Dewan Pertahanan Nasional. Ucapan selamat juga disampaikan oleh jajaran tamu undangan yang hadir, menambah suasana hangat dalam acara yang sarat makna tersebut.
Pelantikan tenaga ahli ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni formal, tetapi juga awal dari kontribusi nyata dalam memperkuat sistem pertahanan negara. Para tenaga ahli dituntut untuk bekerja secara profesional, objektif, dan berorientasi pada kepentingan nasional dalam setiap kajian dan rekomendasi yang diberikan. Tantangan ke depan tidak ringan, mengingat situasi global yang terus berubah dengan cepat dan penuh ketidakpastian.
Dalam menghadapi era persaingan global dan potensi ancaman multidimensional, Indonesia memerlukan strategi pertahanan yang kokoh dan berkelanjutan. Peran pemikir strategis menjadi semakin penting untuk memastikan bahwa setiap langkah kebijakan pertahanan mampu menjawab tantangan zaman tanpa mengesampingkan prinsip kedaulatan dan kepentingan nasional.
Dengan dilantiknya 12 tenaga ahli baru ini, Dewan Pertahanan Nasional diharapkan semakin solid dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga strategis negara. Sinergi antara pejabat struktural dan tenaga ahli menjadi kunci dalam menciptakan kebijakan pertahanan yang komprehensif, adaptif, dan berpandangan jauh ke depan.
Ke depan, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat kapasitas kelembagaan Dewan Pertahanan Nasional melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengembangan sistem kerja yang lebih efektif. Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah dalam mewujudkan pertahanan negara yang tangguh, modern, dan mampu menjaga keutuhan serta kedaulatan Republik Indonesia.
Pelantikan tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional ini menjadi penanda bahwa penguatan pertahanan tidak hanya bergantung pada alutsista dan kekuatan militer semata, tetapi juga pada kualitas pemikiran, analisis strategis, dan perencanaan jangka panjang yang matang. Dengan dukungan para pakar di bidangnya, DPN diharapkan mampu memberikan kontribusi maksimal dalam menjaga keamanan dan stabilitas nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang.