Perjalanan hidup seseorang sering kali tidak berjalan lurus, penuh dengan tikungan, luka, dan proses panjang yang membentuk karakter. Hal inilah yang tergambar dalam kisah Omar Al Fahd, seorang fashion desainer yang tidak hanya berkarya, tetapi juga menghadirkan makna dalam setiap langkah hidupnya.
LANGKAH hidup Omar Al Fahd tidak pernah benar-benar lurus sejak awal perjalanannya menjadi fashion desainer yang penuh luka dan kehilangan. Dari ruang sederhana masa kecilnya, ia perlahan menenun harapan, hingga kini menjadi ruang bagi banyak orang menemukan makna hidup.
Omar lahir dari latar budaya yang beragam, yakni perpaduan Bali dan Arab Betawi. Kombinasi ini membentuk cara pandangnya sejak kecil, sekaligus memberi warna unik dalam perjalanan hidupnya. Namun, perbedaan tersebut tidak selalu mudah dijalani. Ia harus berproses untuk memahami jati diri di tengah keberagaman yang ia miliki.
Omar lahir dari latar budaya yang berbeda, membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan sejak dini. Ia tumbuh dari perpaduan kultur Bali dan Arab Betawi yang sama-sama kuat memengaruhi perjalanan hidupnya.
Perbedaan tersebut tidak selalu mudah dijalani, terutama ketika ia harus menemukan jati dirinya sendiri. Namun, dari situ ia belajar memahami identitas dan nilai yang kemudian dirinya pegang hingga kini.
Masa kecil Omar juga tidak lepas dari keterbatasan ekonomi. Ia tumbuh dalam keluarga besar yang membuatnya terbiasa berbagi, bahkan untuk hal-hal sederhana seperti pakaian.
Masa kecilnya diwarnai keterbatasan ekonomi dalam keluarga besar yang membuatnya terbiasa berbagi banyak hal. Pakaian yang dikenakan saat hari raya pun harus digunakan secara bergantian oleh saudara-saudaranya.
“Kalau lebaran, misalkan bajunya tahun lalu dipakai kakak saya. Ntar tahun ini dipakai saya, tahun depan dipakai adik saya, kayak gitu,” ujar sosok yang lebih senang dikenal sebagai aktivis wastra itu pada rri.co.id di Jakarta, Jumat, 1 Mei 2026.
Dari pengalaman tersebut, muncul dorongan untuk tampil berbeda dengan caranya sendiri. Kreativitasnya mulai tumbuh dari hal-hal sederhana yang ada di sekitarnya.
“Akhirnya baju merah itu aku pake lehernya kerang-kerang. Aku tempel pake lem,” katanya sambil tertawa mengingat kejadian waktu itu.
Pengalaman kecil itu menjadi titik awal perjalanan kreatifnya. Meski sederhana, keberanian untuk mencoba menjadi bekal penting dalam langkah berikutnya. Namun di balik cerita ringan tersebut, tersimpan luka yang cukup dalam.
Namun, di balik itu semua, ada luka yang jauh lebih dalam yang dirasakannya sejak kecil. Sosok Omar yang dikenal ceria, tiba-tiba kehilangan sosok ibu membuatnya harus tumbuh lebih cepat dari usianya.
Kehilangan tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia belajar menghadapi kenyataan dan membangun kekuatan dari dalam diri. Saat menginjak masa SMA, kehidupannya pun tidak selalu stabil.
Saat di bangku SMA, ia berpindah-pindah tempat dan merasakan hidup yang tidak selalu memberi ruang nyaman. Namun, dari situ Omar belajar bertahan dan membangun kekuatan dalam dirinya.
Perjalanan hidup kemudian membawanya melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada dengan jurusan Ilmu Sosial dan Politik. Pilihan ini sebenarnya cukup jauh dari dunia fashion yang kini ia geluti.
Namun, perjalanan hidupnya kemudian membawanya menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada dengan jurusan Ilmu Sosial dan Politik. Desainer kebaya ini sempat mengambil fokus komunikasi politik yang sebenarnya jauh dari dunia fashion.
Meski begitu, lingkungan di Yogyakarta justru mempertemukannya dengan kekayaan budaya yang mengubah arah hidupnya. Ia mulai tertarik pada kain tradisional dan filosofi di baliknya.
“Karena saya kuliahnya di Yogya saya pelajari batik. Sambil iseng-iseng, walaupun kuliah saya gak ada hubungannya dengan dunia fashion,” ucapnya.
Kesempatan besar datang secara tidak terduga ketika seorang teman mendaftarkannya ke sebuah lomba desain. Tanpa persiapan matang, ia tetap memberanikan diri untuk ikut.
Beberapa bulan kuliah, Omar mendapatkan kesempatan besar yang datang secara tidak terduga ketika seorang temannya mendaftarkannya dalam lomba desain. Tanpa persiapan matang, anak ke delapan dari 13 bersaudara itu, mengikuti kompetisi tersebut hanya dengan modal keberanian.
Keberanian tersebut membuahkan hasil yang mengejutkan.
“Ternyata hadiahnya bukan duit, tapi beasiswa di lasalle college, senilai total-total 50 juta lah,” kata dia.
LaSalle College dikenal sebagai institusi desain ternama yang melahirkan banyak talenta kreatif. Namun, perjalanan Omar tidak selalu mendapat dukungan dari keluarga.
Keputusan hidup yang ia ambil tidak selalu mendapat dukungan dari keluarga yang diharapkan menjadi tempat pulang. “Pialanya malah dibakar ayah saya, itu sedih banget deh pokoknya, karena apa yang aku lakukan selalu salah,” ujarnya dengan kesedihan.
“Selama aku berkarya, keluarga saya tidak pernah ada yang melihat hasil karya saya,” katanya.
Luka tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang tidak mudah. Namun, Omar memilih untuk tidak menyerah.
Ia mengaku setiap jatuh, dirinya selalu kembali melalui karya yang diciptakannya. Baginya, proses berkarya menjadi cara untuk bertahan dari berbagai tekanan hidup.
“Setiap saya dijatuhkan, saya larikan dengan karya, kalo lagi ada masalah saya mayet sampai jadi satu motif. Mayet sambil nangis-nangis,” ungkapnya sambil tertawa.
Dari perjalanan panjang tersebut, ia kemudian mendirikan Anggalang by Omar, sebuah ruang kreatif yang tidak hanya berfokus pada fashion, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat.
Ketulusannya terlihat ketika ia mulai merangkul anak-anak difabel dalam berbagai kegiatan. Ia menciptakan ruang inklusif yang hangat dan penuh penerimaan.
“Jadi, aku mengasuh ada sekitar 65 anak difabel atau different ability. Jadi, aku ngebangkitin lagi kepercayaan mereka,” ucap pria asal Bali ini.
Melalui pendekatan kreatif seperti fashion show dan pelatihan, ia berhasil membawa anak-anak disabilitas tampil hingga ke tingkat internasional.
Di sisi lain, kecintaannya terhadap budaya menjadikannya aktivis wastra. Ia berupaya melestarikan kebaya dan kain tradisional agar tetap dikenal generasi muda.
Dari kegelisahan itu, ia menggagas gerakan Ratu Putri Kebaya sebagai ajang fashion show yang memperkenalkan kebaya kepada generasi muda.
“Maka itu pada saat itu saya bikinlah Ratu Putri Kebaya. Tujuannya untuk mengingatkan generasi muda,” kata pemilik Anggalang by Omar ini.
Ia juga menekankan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi semua pihak.
“Karena ini bukan cuma tanggung jawab pemerintah. Menurut saya kita semua harus bergerak,” ujarnya.
Bagi Omar, wastra bukan sekadar kain, tetapi bagian dari identitas bangsa yang harus dijaga. Di tengah perjalanan hidup yang penuh luka, ia memilih untuk tetap melangkah dengan ketulusan.
Dari seorang anak dengan keterbatasan, kini ia menjadi sosok yang mampu memberi harapan bagi banyak orang. Kisahnya menjadi bukti bahwa luka tidak selalu menjadi akhir, melainkan awal dari kekuatan yang lebih besar.