Megapolitan.id |– Di tengah derasnya arus modernisasi kuliner yang kian mendominasi ruang-ruang publik, Desa Girikerto, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, menghadirkan sebuah oase yang mengajak masyarakat kembali menengok kekayaan rasa masa lalu. Pasar Jajal Wae menjadi ruang temu antara tradisi, kearifan lokal, dan kerinduan akan kuliner sederhana yang kini mulai jarang ditemui.
Pasar Jajal Wae bukan sekadar tempat jual beli makanan. Lebih dari itu, pasar ini menjadi etalase budaya kuliner desa yang dirawat dengan penuh kesadaran oleh warga setempat. Berbagai jajanan dan hidangan tradisional disajikan dengan bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar desa, sekaligus menjadi bukti bahwa kekayaan pangan Nusantara masih hidup dan relevan.
Beragam makanan tradisional dijajakan di pasar ini, mulai dari jajanan ringan hingga hidangan berat yang mengenyangkan. Klepon, cenil, dan aneka minuman tradisional menjadi suguhan pembuka yang langsung membawa ingatan pada suasana pasar desa tempo dulu. Sementara itu, bagi pengunjung yang ingin menikmati makanan utama, Pasar Jajal Wae juga menyediakan beragam menu khas yang jarang dijumpai di pusat kota.
Anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Girikerto, Titik Nuryani, menjelaskan bahwa variasi kuliner yang disajikan di Pasar Jajal Wae cukup beragam dan mencerminkan kekayaan pangan lokal desa.
“Ada makanan beratnya, nasi tiwul, nasi jagung, nasi bakar, sate lontong, dan siomay. Siomay di sini tidak pakai tepung terigu, tapi menggunakan tepung mocaf dari singkong. Selain itu juga ada gado-gado, tepo pecel, tepo kecap, dan nasi gudeg,” ujar Titik, Kamis (22/1/2026).
Penggunaan bahan baku lokal menjadi ciri utama sekaligus keunggulan Pasar Jajal Wae. Menurut Titik, sebagian besar makanan yang dijual memang sengaja dibuat dari bahan yang mudah ditemukan di desa. Singkong, jagung, dan hasil kebun warga menjadi komponen utama dalam berbagai menu yang ditawarkan. Selain memudahkan pedagang dalam penyediaan bahan, langkah ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kembali cita rasa tradisional kepada para pengunjung.
Lebih jauh, Pasar Jajal Wae juga menjadi sarana edukasi kuliner, terutama bagi generasi muda yang mulai asing dengan makanan tradisional. Di tengah maraknya makanan cepat saji dan jajanan modern, keberadaan pasar ini menjadi pengingat bahwa kuliner tradisional memiliki nilai gizi, sejarah, dan identitas budaya yang tidak kalah menarik.
Konsep pasar yang mengedepankan kebersamaan dan kesederhanaan turut menjadi daya tarik tersendiri. Para pedagang merupakan warga desa yang mengolah sendiri makanan yang dijual. Proses memasak dilakukan dengan cara-cara tradisional, menggunakan resep turun-temurun yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Suasana pasar pun terasa hangat dan akrab, mencerminkan karakter masyarakat desa yang ramah dan terbuka.
Keunikan Pasar Jajal Wae juga menarik perhatian para wisatawan lokal. Salah satu pengunjung, Harnanto, mengaku sudah beberapa kali datang ke Desa Girikerto untuk menikmati suasana desa sekaligus berburu kuliner tradisional.
“Saya mencari makanan tradisional, seperti kicak dan polo pendem. Ternyata di sini banyak pilihannya,” ujar Harnanto.
Bagi Harnanto, Pasar Jajal Wae menjadi jawaban atas kerinduan terhadap makanan-makanan yang kini semakin sulit ditemukan. Ia menilai, pasar ini bukan hanya menawarkan makanan, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata yang berbeda, yakni wisata rasa yang sarat akan nilai budaya.
Menurutnya, keberadaan Pasar Jajal Wae patut diapresiasi karena mampu menghidupkan kembali kuliner tradisional yang hampir terlupakan. Ia berharap pasar tersebut dapat terus berkembang dan menjadi ikon wisata kuliner Desa Girikerto, sekaligus menggerakkan perekonomian warga setempat.
Harapan serupa juga disampaikan oleh para pengelola pasar. Pasar Jajal Wae diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata kuliner sesaat, tetapi mampu tumbuh menjadi ruang ekonomi kreatif berbasis desa. Dengan melibatkan warga secara langsung, pasar ini membuka peluang usaha bagi masyarakat sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap warisan budaya lokal.
Dari sisi pariwisata, keberadaan Pasar Jajal Wae sejalan dengan pengembangan desa wisata yang menitikberatkan pada potensi lokal. Kuliner tradisional menjadi salah satu daya tarik utama yang mampu mendatangkan wisatawan, terutama mereka yang ingin merasakan suasana pedesaan yang autentik.
Selain itu, penggunaan bahan pangan lokal juga mendukung prinsip keberlanjutan. Dengan memanfaatkan hasil pertanian desa, Pasar Jajal Wae turut mendorong ketahanan pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada bahan impor. Nilai-nilai inilah yang menjadikan pasar ini tidak hanya relevan dari sisi ekonomi, tetapi juga dari perspektif sosial dan lingkungan.
Di tengah gempuran modernisasi, Pasar Jajal Wae hadir sebagai pengingat bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk menjadi maju. Justru dengan merawat tradisi, desa dapat menawarkan sesuatu yang unik dan bernilai bagi masyarakat luas. Pasar ini menjadi bukti bahwa kuliner tradisional, jika dikelola dengan baik, mampu menjadi daya tarik wisata sekaligus sumber kebanggaan bersama.
Ke depan, Pasar Jajal Wae diharapkan dapat terus berinovasi tanpa meninggalkan akar tradisinya. Dengan dukungan berbagai pihak, pasar ini berpotensi menjadi contoh pengembangan wisata kuliner berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan, sekaligus menjaga agar cita rasa tradisional tetap hidup di tengah perubahan zaman.