Megapolitan.id – Kehadiran seorang presiden di panggung dunia bukan sekadar agenda diplomatik rutin. Ia adalah pesan, simbol, sekaligus pernyataan posisi sebuah bangsa di tengah dinamika global yang terus berubah. Ketika Presiden Republik Indonesia ke-8, Prabowo Subianto, melangkah ke forum World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, langkah itu tidak berdiri sendiri. Ia membawa sejarah panjang, tradisi diplomasi, dan harapan akan peran Indonesia yang lebih menentukan dalam percaturan dunia.
Pandangan tersebut datang dari sosok yang tak asing dengan panggung global. Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menilai kehadiran Prabowo di Davos sebagai kelanjutan dari tradisi politik luar negeri Indonesia yang aktif dan berprinsip, sebuah garis sejarah yang telah dirintis sejak era Presiden pertama RI, Soekarno.
Bagi SBY, Davos bukan sekadar forum ekonomi elite. Ia adalah ruang diskusi strategis yang mempertemukan para pengambil keputusan dunia—kepala negara, pemimpin pemerintahan, hingga CEO perusahaan raksasa global—untuk membicarakan arah masa depan dunia di tengah ketidakpastian geopolitik, perlambatan ekonomi, krisis iklim, dan tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks.
“Ketika presiden kita hadir, Indonesia ikut terlibat dalam mencari solusi dan memikirkan jalan terbaik bagi kebaikan dunia. Ini sejalan dengan tradisi politik luar negeri Indonesia yang aktif sejak era Presiden Soekarno, dan sejalan pula dengan amanat konstitusi kita,” kata SBY dikutip dari siaran pers, Sabtu (24/1/2026).
Pernyataan ini menegaskan satu hal penting: politik luar negeri Indonesia bukan politik penonton. Sejak awal kemerdekaan, Indonesia memposisikan diri sebagai negara yang bebas dan aktif—bebas menentukan sikap, namun aktif dalam menciptakan perdamaian dan keadilan global. Dari Konferensi Asia Afrika hingga peran Indonesia dalam Gerakan Non-Blok, jejak itu terus berlanjut dalam berbagai forum internasional.
Dalam konteks tersebut, kehadiran Prabowo di Davos menjadi semacam penanda kontinuitas. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh konflik dan rivalitas kepentingan, Indonesia memilih tetap hadir, berdialog, dan menawarkan gagasan.
SBY pun tidak sekadar memberikan penilaian normatif. Ia secara terbuka menyampaikan apresiasi dan pujian kepada Prabowo atas kesediaannya terlibat langsung dalam forum global yang sangat strategis tersebut. Menurutnya, kepemimpinan di era saat ini menuntut keberanian untuk tampil dan berbicara, bukan sekadar mengamati dari kejauhan.
“Saya memberikan pujian kepada Presiden Prabowo Subianto yang berkenan hadir dan berpartisipasi langsung di Davos. Kita sedang berada pada fase dunia yang kritis, fase yang menuntut kebersamaan, dialog, dan pemikiran kolektif dari para pemimpin global,” tuturnya.
Ungkapan “fase dunia yang kritis” bukanlah hiperbola. Ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, perang yang belum berakhir, krisis pangan dan energi, hingga dampak perubahan iklim telah menciptakan ketidakpastian global yang berlapis. Dalam situasi seperti itu, forum seperti Davos menjadi salah satu ruang penting untuk merumuskan respons bersama.
Bagi Indonesia, kehadiran di Davos juga memiliki dimensi strategis lain: memastikan suara negara berkembang tetap terdengar. SBY menilai, partisipasi Prabowo mengirimkan sinyal kuat bahwa Indonesia tidak meminggirkan diri, melainkan memilih berdiri sejajar dengan negara-negara lain dalam proses pengambilan keputusan global.
“Partisipasi Presiden Prabowo di Davos memberi sinyal kuat bahwa Indonesia tidak berada di pinggir percaturan global, melainkan tampil sebagai bagian dari para pengambil keputusan dunia,” ujar SBY.
Pernyataan ini menjadi penting mengingat posisi Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20. Di tengah pergeseran kekuatan global, Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran sebagai jembatan antara negara maju dan berkembang, antara kepentingan ekonomi dan agenda keberlanjutan.
SBY pun menyampaikan optimisme. Baginya, kehadiran Prabowo di Davos bukan sekadar seremoni diplomatik, melainkan potensi momentum strategis yang bisa membawa dampak lebih luas, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi stabilitas global.
“Mudah-mudahan ini menjadi sebuah game changer, sebuah momentum penting untuk mencegah hal-hal buruk terjadi di dunia,” beber SBY.
Istilah game changer mengandung makna harapan akan perubahan arah. Namun, SBY juga mengingatkan bahwa harapan tidak boleh berhenti pada panggung pidato dan pernyataan bersama. Nilai strategis Davos, menurutnya, sangat bergantung pada tindak lanjut konkret dari berbagai komitmen yang dibangun.
Dalam pengalamannya sebagai presiden selama satu dekade, SBY memahami betul bahwa diplomasi global sering kali penuh janji, tetapi tantangan terbesarnya adalah implementasi. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa pekerjaan rumah sesungguhnya justru dimulai setelah forum usai.
“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan agar komitmen global yang dibangun di Davos benar-benar berdampak nyata,” pungkas SBY.
Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bagi pemerintahan saat ini bahwa partisipasi aktif harus diiringi dengan kebijakan nyata di dalam negeri. Komitmen tentang ekonomi hijau, keberlanjutan, dan keadilan global, misalnya, menuntut konsistensi dalam kebijakan nasional agar Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara yang vokal di forum internasional, tetapi juga kredibel dalam pelaksanaan.
Dalam agenda WEF 2026 itu, Presiden Prabowo tidak hanya hadir sebagai peserta pasif. Ia menyampaikan pidato kunci yang memaparkan gagasan ekonomi yang telah dirancang dan dijalankannya. Forum tersebut sendiri dihadiri oleh lebih dari 65 kepala negara dan pemerintahan, serta lebih dari 1.000 CEO perusahaan besar dunia—sebuah panggung yang mempertemukan kekuatan politik dan ekonomi global dalam satu ruang diskusi.
Pidato kunci di Davos memiliki bobot simbolik yang besar. Ia menjadi kesempatan untuk menyampaikan visi nasional kepada dunia internasional, sekaligus membuka peluang kerja sama ekonomi dan investasi. Dalam konteks ini, kehadiran Prabowo memperlihatkan upaya Indonesia untuk tetap relevan dan proaktif di tengah kompetisi global yang semakin ketat.
Bagi sebagian kalangan, Davos mungkin kerap dipersepsikan sebagai forum elite yang jauh dari realitas rakyat. Namun, dalam pandangan strategis, keputusan-keputusan dan komitmen yang lahir dari forum semacam ini dapat berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, mulai dari arah investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga kebijakan energi dan lingkungan.
Itulah sebabnya SBY menekankan pentingnya keterlibatan aktif Indonesia. Bukan semata demi citra internasional, tetapi demi memastikan kepentingan nasional terakomodasi dalam arsitektur global yang terus dibentuk.
Kehadiran Prabowo di Davos, jika dilihat dari perspektif ini, menjadi bagian dari perjalanan panjang diplomasi Indonesia. Ia berdiri di atas fondasi sejarah, namun juga membawa tantangan baru: bagaimana memastikan bahwa kehadiran di panggung global benar-benar diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi rakyat di dalam negeri.
Dalam dinamika politik global yang serba cepat dan penuh ketidakpastian, satu hal menjadi jelas: Indonesia tidak bisa dan tidak boleh bersikap pasif. Seperti yang tersirat dalam apresiasi SBY, keterlibatan aktif adalah pilihan strategis, sekaligus tanggung jawab konstitusional.