Home BeritaSelat Hormuz Dibuka Sementara, Jadi Angin Segar bagi Ekonomi Global
dok. rri.co.id

Selat Hormuz Dibuka Sementara, Jadi Angin Segar bagi Ekonomi Global

by Ikon logo megapolitanSalma
A+A-
Reset

Megapolitan.id |-Pembukaan kembali Selat Hormuz selama dua minggu di tengah situasi geopolitik yang masih memanas dinilai membawa dampak positif bagi perekonomian global. Jalur pelayaran yang sangat strategis ini sebelumnya sempat mengalami gangguan akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, sehingga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Kini, dengan dibukanya kembali jalur tersebut, meskipun bersifat sementara, muncul harapan baru terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.

Bagi kawasan Asia, dampak dari pembukaan Selat Hormuz terasa cukup signifikan. Sebagai salah satu wilayah dengan kebutuhan energi yang tinggi, kelancaran distribusi minyak dan gas menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Gangguan pada jalur ini sebelumnya menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, yang secara langsung berdampak pada biaya produksi, transportasi, hingga harga kebutuhan pokok.

Peneliti dari CORE Indonesia, Azhar Syahida, menyebut kebijakan pembukaan kembali jalur ini sebagai “angin segar” bagi perekonomian global. Ia menilai bahwa langkah tersebut mampu meredakan tekanan yang sempat terjadi akibat terganggunya distribusi energi.

“Dengan pembukaan dua minggu ini tentu ini akan membuat lalu lintas pengiriman minyak dan gas menjadi lebih lancar. Utamanya ini kan sebagian besar sebetulnya dikirim ke negara-negara Asia,” katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Rabu, 8 April 2026.

Pernyataan tersebut menggambarkan betapa vitalnya peran Selat Hormuz dalam rantai pasok energi global. Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Timur Tengah memang melewati jalur ini sebelum didistribusikan ke berbagai negara, termasuk di Asia. Ketika jalur ini terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan secara regional, tetapi juga global.

Azhar juga menambahkan bahwa harga minyak dunia yang sebelumnya sempat menembus angka di atas 100 dolar Amerika Serikat per barel kini mulai menunjukkan tren penurunan. Perbaikan distribusi energi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong stabilisasi harga tersebut. Kondisi ini tentu memberikan ruang bagi negara-negara pengimpor energi untuk menata kembali kebijakan ekonominya tanpa tekanan harga yang terlalu tinggi.

Namun demikian, tidak semua pihak melihat pembukaan Selat Hormuz sebagai sinyal positif yang bersifat jangka panjang. Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Airlangga, Ayub Mirdad, menilai bahwa langkah ini belum tentu mencerminkan berakhirnya konflik di kawasan tersebut.

Menurutnya, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih berpotensi berlanjut. Pembukaan jalur pelayaran ini lebih merupakan langkah sementara untuk meredam eskalasi konflik, bukan solusi permanen atas permasalahan yang ada.

“Ini bukan tanda perdamaian permanen, melainkan sinyal bahwa kedua pihak sedang menahan eskalasi dan membuka ruang dialog,” ucapnya.

Pandangan ini menegaskan bahwa dinamika geopolitik di Timur Tengah masih sangat kompleks dan penuh ketidakpastian. Meski jalur pelayaran kembali dibuka, potensi konflik tetap ada dan bisa kembali memengaruhi stabilitas global kapan saja.

Ayub juga menyebut bahwa pembukaan Selat Hormuz dapat menjadi momentum awal untuk membangun kepercayaan atau confidence building antara pihak-pihak yang bertikai. Langkah ini penting sebagai dasar untuk menciptakan dialog yang lebih konstruktif di masa depan, meskipun masih dalam tahap awal dan memiliki keterbatasan waktu.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kondisi ini masih tergolong rapuh. Perubahan situasi politik maupun militer di kawasan tersebut dapat dengan cepat memengaruhi keputusan yang telah diambil, termasuk kemungkinan penutupan kembali jalur pelayaran. Oleh karena itu, semua pihak diharapkan tetap waspada terhadap perkembangan yang terjadi.

Di sisi lain, pembukaan sementara Selat Hormuz juga memberikan pelajaran penting bagi negara-negara di dunia, khususnya yang bergantung pada impor energi. Diversifikasi sumber energi dan penguatan ketahanan energi nasional menjadi hal yang semakin relevan di tengah ketidakpastian global seperti saat ini.

Dengan demikian, pembukaan kembali Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada kelancaran distribusi minyak dan gas, tetapi juga menjadi indikator penting dalam membaca arah hubungan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Keputusan ini mencerminkan adanya upaya meredakan ketegangan, meskipun belum dapat dijadikan sebagai tanda berakhirnya konflik secara menyeluruh.

Secara keseluruhan, situasi ini menghadirkan dua sisi yang saling melengkapi. Di satu sisi, ada optimisme terhadap membaiknya kondisi ekonomi global, terutama dari sektor energi. Namun di sisi lain, masih terdapat kewaspadaan terhadap potensi konflik yang sewaktu-waktu dapat kembali meningkat.

Bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat strategi ekonomi sekaligus meningkatkan kesiapan dalam menghadapi dinamika global. Dengan pendekatan yang tepat, dampak positif dari pembukaan Selat Hormuz dapat dioptimalkan, sembari tetap mengantisipasi berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain