Megapolitan.id – Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami gejala depresi, kelelahan mental, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan profesional seperti psikolog, psikiater, layanan kesehatan mental, atau hubungi pihak berwenang dan layanan darurat setempat.
Di sebuah wilayah pegunungan di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pagi yang semestinya dimulai dengan rutinitas sekolah berubah menjadi kabar duka yang mengguncang nurani. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, siswa kelas IV sekolah dasar, ditemukan meninggal dunia. Ia pergi meninggalkan dunia dengan cara yang tak pernah terbayangkan oleh siapa pun, terutama keluarganya. Di balik kepergiannya, tersisa sepucuk surat pendek yang ditulis tangan—surat yang menjadi saksi bisu pergulatan batin seorang anak kecil yang seharusnya masih akrab dengan permainan, tawa, dan mimpi sederhana.
Surat itu ditemukan aparat kepolisian saat proses evakuasi. Ditulis dalam bahasa daerah Bajawa, surat tersebut berisi ungkapan kekecewaan, perpisahan, sekaligus pesan yang menyayat hati.
Berikut isi surat YBR kepada ibunya:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R. Pissort, membenarkan bahwa tulisan itu memang dibuat oleh korban sendiri. “Surat itu betul, petugas turun ke TKP temukan surat itu, anak itu yang tulis,” ujarnya melalui sambungan telepon, Selasa (3/2/2026).
Isi surat itu singkat, tetapi sarat makna. Dalam satu barisnya, sang anak menyebut ibunya “pelit”, sebuah kata yang mungkin terdengar sederhana bagi orang dewasa, namun menyimpan luka mendalam bagi seorang anak yang merasa kebutuhannya tak terpenuhi. Selebihnya, surat itu berisi kalimat perpisahan, permohonan agar sang ibu tidak menangis, dan pesan agar tidak mencarinya. Ungkapan-ungkapan itu menandai betapa berat beban emosi yang dipikul oleh seorang bocah berusia 10 tahun.
Tragedi ini bukan sekadar peristiwa kriminal atau statistik duka. Ia adalah potret rapuhnya ketahanan sosial dan emosional anak-anak yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, minim pendampingan, dan ruang komunikasi yang sempit. Dari penelusuran aparat dan keterangan pemerintah desa, terungkap bahwa pemicu peristiwa ini diduga berawal dari hal yang sangat mendasar: permintaan uang untuk membeli buku tulis dan pulpen.
Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan bahwa pada malam sebelum kejadian, korban meminta uang kepada ibunya untuk membeli perlengkapan sekolah. Permintaan itu tidak dapat dipenuhi karena kondisi ekonomi sang ibu yang sulit. “Menurut pengakuan ibunya, permintaan itu korban minta sebelum meninggal,” ungkap Dion pada Selasa (3/2/2026). Sang ibu harus menanggung kebutuhan lima orang anak, sementara ayah korban telah lama berpisah dari keluarga. Tekanan ekonomi yang berkepanjangan membuat banyak kebutuhan harus ditunda, bahkan untuk hal-hal yang tampak sederhana.
Sehari-hari, korban tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana. Rumah sang ibu berada di desa tetangga. Malam sebelum kejadian, korban menginap di rumah orang tuanya dengan harapan memperoleh uang untuk keperluan sekolah. Paginya, ia kembali ke pondok. Alih-alih berangkat ke sekolah, ia justru ditemukan telah meninggal dunia. Saat kejadian, sang nenek tidak berada di pondok karena membantu tetangga memecahkan kemiri sejak malam sebelumnya. Korban ditemukan oleh warga yang hendak mengurus ternaknya di kebun.
Peristiwa ini dengan cepat menyita perhatian publik dan para pemangku kebijakan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan duka cita dan keprihatinan mendalam. Ia menegaskan bahwa kejadian ini harus menjadi atensi bersama. “Tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka. Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama,” ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Gus Ipul menyoroti pentingnya pendampingan khusus bagi keluarga tidak mampu. Menurutnya, penguatan data menjadi kunci agar negara dapat hadir secara tepat sasaran. “Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita, ya kita harapkan tidak ada yang tidak terdata,” katanya. Data yang akurat memungkinkan pemerintah menjangkau keluarga yang membutuhkan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan secara berkelanjutan. Tanpa data yang kuat, banyak keluarga rentan berpotensi luput dari bantuan.
Di sisi lain, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan akan menelusuri lebih lanjut penyebab kejadian tersebut. Pernyataan ini menandai pentingnya keterlibatan sektor pendidikan dalam membaca tanda-tanda kerentanan psikologis pada peserta didik. Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang aman untuk mendeteksi masalah sosial dan emosional yang dialami anak.
Tragedi ini membuka ruang refleksi yang luas: bagaimana seorang anak dapat memaknai keterbatasan ekonomi sebagai penolakan personal? Mengapa beban kekecewaan itu tak menemukan saluran yang aman? Di sinilah pentingnya literasi kesehatan mental, tidak hanya bagi orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Keterampilan berkomunikasi, empati, dan pendampingan emosional menjadi kebutuhan mendesak, terutama di keluarga dengan tekanan ekonomi tinggi.
Anak-anak kerap menafsirkan situasi secara literal dan emosional. Permintaan yang tidak terpenuhi bisa dimaknai sebagai kurangnya kasih sayang, meski sesungguhnya orang tua berada dalam kondisi yang tak memungkinkan. Tanpa pendampingan dan penjelasan yang memadai, perasaan itu dapat berkembang menjadi luka batin. Dalam konteks ini, dukungan lingkungan—keluarga besar, sekolah, komunitas, dan negara—menjadi penyangga yang krusial.
Kasus di Ngada juga menyoroti ketimpangan akses terhadap perlengkapan pendidikan dasar. Buku tulis dan pulpen seharusnya bukan barang mewah bagi anak sekolah. Ketika kebutuhan paling mendasar pun sulit dipenuhi, maka risiko putus sekolah, stres, dan gangguan psikologis meningkat. Program bantuan pendidikan perlu dievaluasi agar menjangkau anak-anak di wilayah terpencil dan keluarga rentan secara konsisten.
Lebih jauh, kejadian ini mengingatkan bahwa isu kesehatan mental tidak mengenal usia. Anak-anak pun dapat mengalami tekanan yang berat, terutama ketika mereka hidup dalam keterbatasan dan kurangnya ruang dialog. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan harus bersifat holistik: penguatan ekonomi keluarga, jaminan kebutuhan pendidikan, layanan kesehatan mental yang ramah anak, serta pendidikan pengasuhan bagi orang tua.
Di tingkat lokal, pemerintah daerah dan komunitas dapat berperan dengan membangun sistem kewaspadaan dini. Guru, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan perangkat desa dapat dilibatkan untuk mengenali perubahan perilaku anak dan keluarga yang mengalami tekanan. Pendampingan yang sederhana—mendengarkan, menjelaskan dengan empati, dan menghubungkan dengan layanan bantuan—dapat menjadi penentu keselamatan.
Duka di Jerebuu adalah duka kita bersama. Ia bukan hanya kisah tentang seorang anak yang pergi terlalu cepat, tetapi juga cermin tentang pekerjaan rumah yang masih panjang. Negara, masyarakat, dan keluarga perlu bergandengan tangan memastikan bahwa tidak ada anak yang merasa sendirian dalam menghadapi keterbatasan. Setiap anak berhak merasa didengar, dipahami, dan dilindungi—terutama ketika hidup terasa berat.
Jika Anda atau orang terdekat Anda membutuhkan bantuan, jangan ragu untuk menghubungi layanan kesehatan mental terdekat, puskesmas, rumah sakit, atau layanan darurat setempat. Mencari bantuan adalah langkah berani, dan Anda tidak sendirian.