Home BeritaSuryadharma Ali Tutup Usia: Mengenang Jejak Politisi dan Mantan Menteri Agama

Suryadharma Ali Tutup Usia: Mengenang Jejak Politisi dan Mantan Menteri Agama

Mantan Menteri Agama Republik Indonesia, Suryadharma Ali, berpulang ke Rahmatullah pada Kamis, 30 Juli 2025 pukul 04.25 WIB.

by Ikon logo megapolitanTim Megapolitan
A+A-
Reset

 

Megapolitan.ID | Bekasi–Kabar duka datang dari dunia politik Indonesia. Mantan Menteri Agama Republik Indonesia, Suryadharma Ali, berpulang ke Rahmatullah pada Kamis, 30 Juli 2025 pukul 04.25 WIB. Ia mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Mayapada Kuningan, Jakarta Selatan, dalam usia 68 tahun—menjelang ulang tahunnya yang ke-69 pada September mendatang.

Kehilangan sosok yang pernah berada di lingkaran pemerintahan nasional tentu menjadi pukulan tersendiri bagi banyak pihak, terutama di lingkungan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan kalangan organisasi Islam. Meski penyebab kematiannya belum diumumkan secara resmi, almarhum diketahui selama ini mengidap berbagai penyakit kronis seperti penyakit jantung, gangguan sistem saraf, serta penggumpalan darah di otak yang membuatnya kerap keluar-masuk rumah sakit dalam beberapa tahun terakhir.

Perjalanan Hidup: Dari Aktivis Mahasiswa hingga Kursi Kabinet

Lahir di Jakarta, Suryadharma Ali menapaki karier politiknya dari bawah. Sejak kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia sudah menunjukkan jiwa kepemimpinan dan semangat aktivisme. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ciputat, sebelum akhirnya diamanahi sebagai Ketua Umum PB PMII periode 1985–1988.

Langkah awal ini menjadi fondasi penting yang mengantarnya ke panggung nasional. Setelah menyelesaikan pendidikan S1, ia melanjutkan studi S2 di FISIP Universitas Indonesia, mengambil konsentrasi sosiologi, dan meraih gelar Magister Sains pada tahun 2003.

Berkarier di Dunia Ritel Sebelum Terjun ke Politik

Sebelum masuk ke panggung politik, Suryadharma mengawali karier profesionalnya di sektor swasta. Ia bekerja di PT Hero Supermarket Tbk, salah satu perusahaan ritel besar di Indonesia. Dari tahun 1985 hingga 1999, ia menduduki berbagai jabatan strategis hingga mencapai posisi Deputi Direktur. Selain itu, ia juga aktif di berbagai organisasi ritel nasional, menjadikannya sosok dengan wawasan luas dalam manajemen dan pengelolaan sumber daya.

Karier Politik: Meniti Tangga Pemerintahan dan Dunia Partai

Karier politiknya di panggung nasional mulai menanjak saat dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam Kabinet Indonesia Bersatu I. Selama masa jabatannya, ia dikenal cukup vokal memperjuangkan pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui koperasi, serta memberikan akses pembiayaan kepada pelaku UMKM.

Ketua Umum PPP (2007–2014)

Dalam dunia partai politik, nama Suryadharma Ali identik dengan PPP. Ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan selama dua periode, dari 2007 hingga 2014. Kepemimpinannya membawa berbagai dinamika internal, termasuk konsolidasi partai berbasis Islam di tengah persaingan politik nasional yang semakin terbuka.

Di bawah komandonya, PPP sempat mengalami penguatan elektoral meski juga diwarnai berbagai konflik internal dan tekanan politik. Ia dikenal sebagai politisi yang diplomatis, lugas, dan memiliki basis konstituen loyal terutama dari kalangan pesantren dan organisasi keagamaan.

Menteri Agama RI (2009–2014)

Puncak karier politiknya adalah saat kembali dipercaya Presiden SBY untuk mengemban amanah sebagai Menteri Agama di Kabinet Indonesia Bersatu II. Di kementerian ini, Suryadharma Ali banyak terlibat dalam pengelolaan ibadah haji, pembinaan madrasah, moderasi beragama, serta isu-isu sensitif terkait kerukunan umat beragama di Indonesia.

Namun, jabatan strategis ini sekaligus menjadi awal dari babak kelam dalam hidupnya.

Kasus Korupsi Dana Haji dan Dampaknya

Pada 23 Mei 2014, publik dikejutkan dengan pengumuman resmi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menetapkan Suryadharma Ali sebagai tersangka kasus korupsi pengelolaan dana haji. Ia diduga menyalahgunakan kewenangan sebagai Menteri Agama dan menyebabkan kerugian negara hingga Rp30,2 miliar.

Tak lama berselang, pada 26 Mei 2014, ia menyatakan mundur dari jabatan Menteri Agama untuk menghadapi proses hukum. Penetapannya sebagai terdakwa membuatnya menjalani masa hukuman penjara selama delapan tahun.

Selama berada dalam tahanan, kondisi kesehatan Suryadharma menurun drastis. Ia tercatat beberapa kali dirawat di rumah sakit, mengalami penyakit jantung, kadar gula darah tinggi, dan gangguan otak akibat penggumpalan darah, hingga beberapa kali persidangan harus ditunda.

Namun pada 6 September 2022, ia mendapatkan pembebasan bersyarat dari Kemenkumham bersama puluhan narapidana Tipikor lainnya, setelah menjalani sebagian besar masa hukumannya.

Akhir Hayat dan Suasana Rumah Duka

Kabar kepergian Suryadharma Ali disambut duka mendalam dari berbagai kalangan. Rumah duka yang berlokasi di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Cikarang, dipenuhi karangan bunga ucapan belasungkawa dari tokoh-tokoh nasional, rekan-rekan politikus, dan masyarakat umum.

Banyak yang mengenang dirinya sebagai sosok yang berani mengambil keputusan, kritis, dan berwawasan keagamaan kuat. Meski tersandung kasus hukum, jejak kontribusinya tetap membekas, terutama dalam peranannya membangun citra Kementerian Agama dan perjuangannya di organisasi mahasiswa Islam.

Warisan dan Refleksi Sosok Suryadharma Ali

Figur Suryadharma Ali bisa dipandang sebagai cerminan kompleksitas politik Indonesia: sosok pemimpin dengan rekam jejak panjang di organisasi Islam dan dunia pemerintahan, namun juga tidak lepas dari kontroversi.

Sebagai politisi berlatar belakang pesantren, ia membawa nilai-nilai Islam moderat ke dalam panggung politik nasional. Ia dikenal sebagai penghubung antara kekuatan Islam tradisional dan kekuasaan negara. Tak heran, banyak kalangan pesantren yang merasa kehilangan atas wafatnya tokoh tersebut.

Jejak yang Tak Terlupakan

Kematian Suryadharma Ali bukan hanya akhir dari perjalanan hidup seorang tokoh bangsa, melainkan juga momentum reflektif bagi publik. Bahwa kekuasaan adalah amanah, dan jejak kontribusi serta kesalahan akan selalu membentuk narasi seorang tokoh.

Meski masa lalu politiknya diwarnai kasus hukum, tak bisa dipungkiri bahwa perannya dalam dunia keagamaan, pengembangan koperasi, serta politik Islam Indonesia pernah cukup besar.

Kini, sosok itu telah pergi. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta ketabahan. Selamat jalan, Suryadharma Ali, mantan Menteri Agama Republik Indonesia, yang pernah menorehkan warna tersendiri dalam sejarah negeri ini.[]

 

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain