Home BeritaTragedi di Situs Sejarah Siak: Tangsi Belanda Ambruk.
dok. kumparan.com

Tragedi di Situs Sejarah Siak: Tangsi Belanda Ambruk.

by Ikon logo megapolitanSalma
A+A-
Reset

Megapolitan.id – Bangunan bersejarah Tangsi Belanda yang terletak di Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Riau, mengalami ambruk pada Sabtu (31/1/2026). Peristiwa ini terjadi saat lokasi tersebut sedang dikunjungi rombongan pelajar dalam rangka kegiatan wisata edukasi. Insiden tersebut mengakibatkan belasan orang mengalami luka-luka dan memicu perhatian serius dari aparat kepolisian serta pemerintah daerah.

Tangsi Belanda dikenal sebagai salah satu peninggalan sejarah kolonial yang masih berdiri di wilayah Siak. Bangunan ini kerap dijadikan tujuan study tour oleh pelajar karena nilai historisnya yang tinggi dan letaknya yang strategis. Namun, usia bangunan yang sudah sangat tua rupanya menyimpan risiko yang luput dari perhatian.

Kapolres Siak, AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar, menjelaskan bahwa kejadian bermula ketika rombongan dari SDIT Baitul Ridho Rawang Kao tiba di lokasi. Rombongan tersebut terdiri dari 55 murid dan 12 orang guru yang datang untuk mengikuti kegiatan wisata edukasi sejarah.

Menurut Ade, setibanya di area Tangsi Belanda, rombongan dipandu oleh pemandu wisata setempat untuk berkeliling bangunan. Aktivitas berjalan normal hingga rombongan diarahkan naik ke lantai dua bangunan bersejarah tersebut.

“Setibanya di salah satu ruangan lantai dua, lantai bangunan yang terbuat dari papan kayu lama dan telah lapuk tidak mampu menahan beban, sehingga runtuh dan menyebabkan rombongan terjatuh ke lantai dasar dengan ketinggian kurang lebih empat meter,” kata Ade.

Ambruknya lantai kayu tersebut terjadi secara tiba-tiba. Sejumlah siswa dan pendamping yang berada di atasnya tidak sempat menyelamatkan diri. Mereka langsung terjatuh ke lantai dasar, menciptakan kepanikan di antara rombongan dan pengunjung lain yang berada di sekitar lokasi.

Akibat kejadian tersebut, sebanyak 17 orang mengalami luka-luka. Rinciannya, 15 siswa, satu orang guru, dan satu pemandu wisata Tangsi Belanda menjadi korban dalam insiden ini. Petugas dan warga sekitar yang mengetahui kejadian tersebut langsung memberikan pertolongan awal sebelum korban dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat.

Sebanyak 10 orang korban harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Siak untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut. Sementara itu, tujuh korban lainnya dibawa ke Puskesmas Mempura karena hanya mengalami luka ringan dan dinilai tidak memerlukan perawatan intensif.

Meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, kejadian tersebut meninggalkan trauma bagi para siswa dan guru yang ikut dalam kegiatan study tour. Beberapa siswa dilaporkan mengalami syok akibat kejadian mendadak tersebut, meski kondisi mereka berangsur stabil setelah mendapatkan penanganan.

Pasca kejadian, aparat kepolisian bergerak cepat mengamankan lokasi. Petugas memasang garis polisi di sekitar bangunan Tangsi Belanda untuk mencegah akses pengunjung dan menghindari potensi bahaya lanjutan. Polisi juga melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) guna mengetahui secara detail penyebab runtuhnya lantai bangunan.

Selain itu, kepolisian mendata para korban serta saksi-saksi yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari proses penyelidikan awal, sekaligus untuk memastikan tidak ada kelalaian yang berujung pada risiko keselamatan pengunjung.

“Kami telah mengamankan TKP dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar bangunan Tangsi Belanda ditutup sementara sampai dilakukan pemeriksaan teknis dan perbaikan menyeluruh demi keselamatan pengunjung,” pungkasnya.

Penutupan sementara Tangsi Belanda dinilai sebagai langkah penting dan mendesak. Mengingat bangunan tersebut telah berusia puluhan tahun, diperlukan pemeriksaan menyeluruh terhadap struktur bangunan, terutama bagian lantai, tiang penyangga, dan dinding yang berpotensi rapuh.

Peristiwa ini sekaligus menjadi peringatan serius bagi pengelola objek wisata sejarah di berbagai daerah. Bangunan cagar budaya memang memiliki nilai historis tinggi, namun aspek keselamatan pengunjung tidak boleh diabaikan. Pemeriksaan berkala, renovasi sesuai standar konservasi, serta pembatasan jumlah pengunjung menjadi hal yang perlu diperhatikan secara serius.

Pemerintah daerah diharapkan dapat segera mengambil langkah lanjutan dengan melibatkan tenaga ahli bangunan dan pelestarian cagar budaya. Selain untuk menjamin keamanan, upaya ini juga penting agar nilai sejarah Tangsi Belanda tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang tanpa mengorbankan keselamatan.

Sementara itu, pihak sekolah dikabarkan terus memantau kondisi para siswa dan guru yang menjadi korban. Pendampingan psikologis juga disebut-sebut akan diberikan guna memastikan para siswa dapat pulih secara mental pascakejadian yang cukup mengejutkan tersebut.

Insiden ambruknya Tangsi Belanda di Siak ini menjadi pengingat bahwa wisata edukasi, khususnya yang melibatkan bangunan bersejarah, memerlukan pengelolaan yang ekstra hati-hati. Keselamatan harus menjadi prioritas utama agar kegiatan belajar di luar kelas tetap memberikan pengalaman berharga, bukan justru meninggalkan trauma.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain