Daftar Isi
Megapolitan.id |- Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital, keberadaan dongeng dan cerita rakyat masih memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan anak-anak. Tradisi bercerita yang telah diwariskan turun-temurun tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga menjadi media pendidikan yang efektif untuk membentuk karakter, mengembangkan imajinasi, serta memperkuat kecerdasan emosional generasi muda.
Pandangan tersebut disampaikan Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, yang menilai bahwa cerita rakyat merupakan bagian penting dari warisan budaya bangsa yang memiliki kontribusi besar dalam membangun kepribadian anak sejak usia dini. Menurutnya, tradisi storytelling atau bercerita memiliki manfaat yang tidak bisa dipisahkan dari proses tumbuh kembang anak.
Dalam berbagai budaya di dunia, cerita rakyat telah lama digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan, moral, etika, hingga kebijaksanaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Indonesia sendiri memiliki kekayaan cerita rakyat yang sangat beragam dan berasal dari berbagai daerah, mulai dari legenda, mitos, hingga kisah kepahlawanan yang sarat pesan moral.
Storytelling dan Perkembangan Kecerdasan Anak
Fadli Zon menegaskan bahwa manfaat storytelling bukan sekadar asumsi budaya semata, melainkan telah didukung oleh berbagai kajian ilmiah. Aktivitas mendengarkan dan memahami cerita memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan otak serta kemampuan sosial anak.
Menurutnya, kebutuhan anak tidak hanya berkaitan dengan asupan gizi yang mendukung pertumbuhan fisik. Anak juga memerlukan asupan nilai, inspirasi, dan pembelajaran yang dapat diperoleh melalui dongeng maupun cerita rakyat.
“Storytelling itu sangat penting bagi otak, dan ini scientific. Storytelling, dongeng, cerita itu penting untuk emotional intelligence, spiritual intelligence,” katanya saat ditemui wartawan usai acara Puncak Apresiasi Karya Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026, Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, Rabu, 24 Juni 2026. Seperti Dilansir rri.co.id
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dongeng memiliki fungsi yang jauh lebih luas dibanding sekadar aktivitas pengantar tidur. Melalui cerita, anak belajar memahami emosi, membedakan perilaku baik dan buruk, serta mengembangkan empati terhadap orang lain.
Kecerdasan emosional dan spiritual yang terbentuk sejak usia dini menjadi modal penting bagi anak untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan.
Cerita Rakyat sebagai Media Penanaman Nilai Kehidupan
Cerita rakyat selama ini dikenal sebagai salah satu media yang efektif untuk menyampaikan pesan moral kepada anak-anak. Berbagai kisah tradisional biasanya menghadirkan tokoh dengan karakter yang kuat, konflik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta pelajaran yang mudah dipahami.
Menurut Fadli Zon, proses penanaman nilai melalui cerita memiliki keunggulan tersendiri karena dilakukan secara alami dan menyenangkan. Anak tidak merasa sedang diajarkan atau digurui, melainkan belajar melalui alur cerita yang menarik.
Melalui kisah-kisah tersebut, anak dapat memahami pentingnya kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, rasa hormat kepada orang tua, hingga semangat gotong royong. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter generasi muda.
Selain itu, cerita rakyat juga membantu anak mengenal identitas budaya bangsa. Mereka belajar memahami tradisi, adat istiadat, serta nilai-nilai luhur yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu.
Imajinasi yang Menjadi Pondasi Kreativitas
Salah satu manfaat terbesar dari aktivitas mendengarkan dongeng adalah kemampuannya dalam merangsang daya imajinasi anak. Saat mendengar sebuah cerita, anak akan membayangkan tokoh, tempat, suasana, dan berbagai peristiwa yang terjadi dalam cerita tersebut.
Kemampuan berimajinasi ini memiliki hubungan erat dengan kreativitas dan cara berpikir seseorang di masa depan. Anak yang terbiasa menggunakan imajinasinya cenderung lebih mudah menemukan ide baru, memecahkan masalah, dan berpikir inovatif.
Fadli Zon menilai bahwa imajinasi merupakan salah satu aspek penting yang harus terus dikembangkan sejak usia dini.
“Imajinasi memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan anak dan pembentukan karakter. Jika ditanamkan sejak kecil melalui dongeng, nilai-nilai tersebut akan terus melekat hingga mereka dewasa,” ucapnya.
Dalam dunia yang terus berubah dan semakin kompetitif, kreativitas menjadi salah satu keterampilan yang sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, membiasakan anak berinteraksi dengan cerita dan dongeng dapat menjadi investasi penting bagi masa depan mereka.
Menjaga Kesadaran Budaya Generasi Muda
Selain membentuk karakter dan kreativitas, cerita rakyat juga memiliki fungsi penting dalam memperkuat kesadaran budaya generasi muda. Melalui kisah-kisah tradisional, anak-anak diperkenalkan pada sejarah, nilai budaya, serta identitas bangsa yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Di tengah globalisasi yang semakin kuat, banyak budaya asing yang masuk dan memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat. Kondisi tersebut membuat pelestarian budaya lokal menjadi semakin penting agar generasi muda tidak kehilangan akar budayanya.
Fadli Zon menilai bahwa pembiasaan mendengarkan cerita sejak usia dini dapat membantu anak memahami dan mencintai budaya bangsa sendiri. Karena itu, pelestarian cerita rakyat harus terus didorong sebagai bagian dari pembangunan karakter nasional.
Ia berharap semakin banyak keluarga, pendidik, serta komunitas budaya yang aktif menghidupkan kembali tradisi mendongeng di lingkungan masing-masing.
Tantangan Pengasuhan di Era Digital
Perkembangan teknologi memberikan banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan. Namun di sisi lain, kemudahan akses informasi juga menghadirkan tantangan baru bagi orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Anak-anak saat ini dapat mengakses berbagai informasi melalui gawai dan internet dalam hitungan detik. Tanpa pendampingan yang tepat, informasi tersebut belum tentu memberikan dampak positif terhadap perkembangan karakter mereka.
Pendiri Kampung Dongeng Indonesia, Awam Prakoso, menilai bahwa di tengah kondisi tersebut, dongeng justru menjadi semakin relevan sebagai sarana pendidikan karakter.
Menurutnya, dongeng dapat menjadi alat yang efektif untuk membantu anak memahami nilai kehidupan serta membangun pondasi moral yang kuat.
“Dongeng menjadi semacam vitamin dan nutrisi bagi tumbuh kembang anak. Di tengah kemudahan akses informasi saat ini, dongeng dapat menjadi pondasi yang kuat untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan sejak dini,” ujarnya.
Peran Orang Tua dalam Menghidupkan Budaya Bercerita
Awam Prakoso menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan karakter anak tidak bisa dilepaskan dari peran orang tua. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk kepribadian seorang anak sebelum mereka mengenal dunia luar.
Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan orang tua adalah membiasakan budaya bercerita di rumah. Aktivitas tersebut tidak memerlukan biaya besar maupun teknologi canggih, tetapi memiliki dampak yang sangat besar terhadap perkembangan anak.
Melalui dongeng, orang tua dapat membangun kedekatan emosional dengan anak sekaligus menyampaikan berbagai nilai positif secara menyenangkan. Momen bercerita juga menjadi sarana komunikasi yang efektif untuk memperkuat hubungan dalam keluarga.
Di tengah kesibukan dan dominasi penggunaan gawai, budaya mendongeng dapat menjadi cara untuk menghadirkan kembali interaksi yang hangat antara orang tua dan anak.
Menghidupkan Kembali Tradisi untuk Masa Depan Bangsa
Cerita rakyat dan dongeng bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan aset budaya yang memiliki manfaat besar bagi masa depan bangsa. Di dalamnya terkandung nilai-nilai moral, pembelajaran hidup, serta identitas budaya yang dapat membentuk generasi yang berkarakter, kreatif, dan memiliki kesadaran budaya yang kuat.
Pandangan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Pendiri Kampung Dongeng Indonesia Awam Prakoso menunjukkan bahwa tradisi bercerita masih sangat relevan di era modern. Bahkan, di tengah derasnya arus digitalisasi, dongeng justru menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga keseimbangan perkembangan emosional dan mental anak.
Dengan dukungan keluarga, sekolah, dan komunitas budaya, tradisi mendongeng diharapkan terus hidup dan berkembang. Melalui cerita-cerita sederhana yang sarat makna, generasi muda Indonesia dapat tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, berbudaya, dan siap menghadapi tantangan masa depan tanpa kehilangan jati dirinya.