Home BeritaEl Nino Diprediksi Bertahan hingga 2027, BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan dan Karhutla

El Nino Diprediksi Bertahan hingga 2027, BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan dan Karhutla

by Ikon logo megapolitanSalma
A+A-
Reset

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau pada Agustus 2026 terjadi di 369 Zona Musim (ZOM). Wilayah tersebut mencakup sekitar 48,84 persen dari total daratan Indonesia yang mengalami puncak kemarau pada bulan ini.

Prediksi tersebut menjadi perhatian karena musim kemarau tahun ini berlangsung bersamaan dengan pengaruh fenomena El Nino. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat periode kering di sejumlah wilayah, terutama daerah yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap curah hujan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, pertanian, maupun aktivitas lainnya.

Nusa Tenggara Mengalami Periode Kering Lebih Panjang

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan wilayah dengan periode tanpa hujan sangat panjang mayoritas berada di kawasan Nusa Tenggara. Di wilayah tersebut, masyarakat dapat menghadapi kondisi tanpa hujan selama 30 hingga 60 hari berturut-turut.

“Untuk daerah yang berkategori sangat panjang, antara 30 hingga 60 hari itu mayoritas ada di Nusa Tenggara,” ujar Ardhasena Sopaheluwakan dalam dialog bersama PRO 3 RRI, Selasa, 11 Agustus 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak musim kemarau tidak berlangsung seragam di seluruh Indonesia. Sejumlah daerah mungkin masih mendapatkan hujan secara berkala, sementara wilayah lainnya menghadapi periode kering yang jauh lebih panjang.

Situasi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah daerah dan masyarakat, terutama dalam mengantisipasi kemungkinan berkurangnya ketersediaan air. Langkah mitigasi diperlukan agar kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat terpenuhi selama periode kemarau.

El Nino Memperkuat Kondisi Kering

Ardhasena menjelaskan bahwa puncak musim kemarau dan fenomena El Nino secara bersamaan dapat menekan peluang terbentuknya hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan kondisi iklim terkini, BMKG memperkirakan El Nino masih bertahan hingga awal 2027.

Fenomena tersebut turut memperkuat kondisi kering yang sebelumnya memang sudah terjadi akibat siklus musim kemarau. Dampaknya dapat dirasakan melalui berkurangnya curah hujan dan meningkatnya potensi hari tanpa hujan dalam periode tertentu.

Ardhasena menyampaikan informasi tersebut ketika kondisi kekeringan mulai berkembang di sejumlah wilayah Indonesia. Menurutnya, El Nino memberikan tambahan tekanan terhadap kondisi kering yang tengah berlangsung.

“Hadirnya El Nino belakangan itu ikut memperkuat efek kering dari musim kemarau yang sudah terjadi,” ujarnya.

Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih waspada terhadap penggunaan air. Penghematan dan pengelolaan sumber daya air menjadi bagian penting dari strategi menghadapi kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Kekeringan Meteorologis Berlanjut ke Hidrologis

Tidak hanya berdampak pada kondisi atmosfer, kekeringan juga mulai memengaruhi ketersediaan sumber air. Kekeringan meteorologis yang ditandai dengan rendahnya curah hujan dapat berkembang menjadi kekeringan hidrologis ketika sumber air seperti sungai, waduk, dan sumber air permukaan mengalami penurunan debit.

Ardhasena menyebut kondisi tersebut terutama terjadi di wilayah selatan khatulistiwa Indonesia. Defisit hujan dalam waktu yang cukup panjang membuat sumber air permukaan menghadapi tekanan.

Musim kemarau tahun ini diperkirakan memiliki karakter lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Situasi tersebut menjadi tantangan bagi masyarakat yang sehari-hari mengandalkan sumber air permukaan.

“Masyarakat yang bergantung dengan sumber air permukaan akan mengalami tantangan karena sumber air juga bergantung dari hujan,” tuturnya.

Oleh sebab itu, pemerintah daerah perlu memperkuat langkah mitigasi sejak dini. Koordinasi antarlembaga, penyaluran bantuan air bersih, penghematan konsumsi air, serta penyebarluasan informasi mengenai kondisi iklim menjadi beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak kekeringan.

Petani Diminta Menyesuaikan Pola Tanam

Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang cukup rentan terhadap kondisi kemarau panjang. Ketersediaan air menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan kegiatan pertanian, terutama tanaman yang membutuhkan pasokan air cukup besar.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, petani perlu menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air. Penyesuaian dapat dilakukan dengan memilih jenis tanaman yang lebih sesuai terhadap kondisi kering atau mengatur waktu tanam berdasarkan prakiraan cuaca dan iklim.

“Petani menyesuaikan pola tanamnya. Misalkan dengan tidak menanam sawah, tidak menanam padi, tapi menanam tanaman palawiga,” katanya.

Strategi tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko gagal panen akibat keterbatasan air. Informasi iklim dari BMKG juga dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi petani dalam menentukan waktu dan jenis tanaman yang akan dibudidayakan.

Dengan perencanaan yang lebih baik, sektor pertanian diharapkan tetap dapat berproduksi meskipun berada dalam tekanan musim kemarau.

Risiko Karhutla Turut Meningkat

Musim kemarau yang panjang tidak hanya berkaitan dengan persoalan ketersediaan air. Kondisi lahan yang semakin kering juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang memiliki kawasan gambut dan vegetasi mudah terbakar.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat karhutla dan kekeringan termasuk kejadian bencana yang mendominasi pada penghujung Juli hingga awal Agustus 2026.

Ancaman tersebut membutuhkan penanganan bersama. Pemerintah, masyarakat, serta berbagai lembaga terkait perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pencegahan sebelum kebakaran meluas.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah operasi modifikasi cuaca (OMC). BMKG bersama BNPB menjalankan operasi tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga kelembapan lahan gambut sekaligus mengurangi potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Mitigasi Menjadi Kunci Menghadapi Kemarau

Menghadapi puncak musim kemarau Agustus, kesiapsiagaan menjadi hal penting. Masyarakat perlu menggunakan air secara efisien dan menghindari aktivitas yang dapat meningkatkan risiko kebakaran, termasuk pembakaran lahan secara sembarangan.

Di sisi lain, pemerintah daerah perlu memastikan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan mendapatkan perhatian lebih. Pemetaan wilayah rawan, penyediaan sumber air alternatif, distribusi air bersih, serta koordinasi lintas sektor dapat menjadi bagian dari strategi menghadapi kondisi tersebut.

Prediksi BMKG mengenai puncak kemarau di 369 ZOM menjadi pengingat bahwa musim kering membutuhkan persiapan yang terukur. Terlebih, pengaruh El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027.

Dengan mitigasi yang dilakukan sejak awal, dampak kekeringan diharapkan dapat ditekan. Pengelolaan air yang bijak, penyesuaian aktivitas pertanian, serta pencegahan karhutla menjadi langkah penting agar masyarakat tetap mampu menjalani aktivitas di tengah musim kemarau yang lebih menantang.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain