Home BeritaKementerian Pangan Minta Bulog Percepat Operasi Pasar Atasi Kasus Beras Oplosan

Kementerian Pangan Minta Bulog Percepat Operasi Pasar Atasi Kasus Beras Oplosan

by Ikon logo megapolitanM Hamz
A+A-
Reset

Megapolitan.ID | Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan meminta Perum Bulog untuk mempercepat pelaksanaan operasi pasar beras guna menanggulangi dampak dari kasus beras oplosan yang mencuat belakangan ini.

Langkah strategis ini difokuskan pada penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) agar masyarakat tetap mendapatkan akses terhadap beras berkualitas dengan harga yang terjangkau.

“Sudah diputuskan Bulog akan mempercepat operasi pasar. Sebanyak 1,3 juta ton beras akan digelontorkan ke pasar dengan pengawasan ketat. Penyalurannya harus benar-benar dalam bentuk beras SPHP dan tidak boleh dicampur dengan jenis lain,” tegas Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, Sabtu (26/7/2025).

Sebagai bentuk reformasi distribusi dan pengendalian kualitas, Zulkifli Hasan juga mengumumkan bahwa klasifikasi beras premium dan medium akan dihapus.

Ke depan, hanya akan ada satu jenis beras umum dan satu jenis beras khusus yang mendapatkan izin serta sertifikasi dari pemerintah. Beras khusus ini meliputi beras basmati, ketan, dan japonica.

“Selama ini kita beli beras medium atau premium, tapi isinya seringkali sama. Kemasan bagus, harga mahal, tapi isinya tak sesuai. Ini yang akan kami benahi,” ujar Zulhas.

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, menyatakan bahwa beras SPHP akan disalurkan mulai Juli hingga akhir Desember 2025.

Ia menegaskan bahwa harga beras SPHP tetap dipatok pada Rp12.500 per kilogram.

“Harganya tidak akan berubah. Tetap Rp12.500 per kilogram. Pemerintah komitmen menjaga harga pangan pokok agar tetap stabil,” ujarnya.

Selain itu, langkah ini diambil pemerintah sebagai reaksi terhadap temuan 26 merek beras premium yang diduga telah dioplos. Pengawasan intensif dilakukan di beberapa wilayah, termasuk Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang.

Di Kota Batu, sidak gabungan antara Pemkot dan Polres Batu menemukan 20 merek beras premium terindikasi oplosan. Dari hasil dua kali sidak, mayoritas merek yang dicurigai ditemukan di supermarket dan minimarket.

“Tim kami telah mendatangi enam titik seperti supermarket dan pasar induk. Kami menemukan sekitar 20 merek yang sesuai dengan data dari Kementerian Ketahanan Pangan,” ungkap Nurbianto Puji, Kabid Perdagangan Diskumperindag Kota Batu.

Sementara itu, Polres Batu mencatat ada lima merek beras yang diduga oplosan, dengan jumlah terbesar ditemukan di supermarket, antara lain Ayana, Topi Koki, dan Sentra Ramos. Beras tersebut dipasarkan dengan harga rata-rata Rp74.500 untuk kemasan 5 kilogram.

Di Kota Malang dan Kabupaten Malang, masing-masing ditemukan enam merek beras terindikasi oplosan. Tim dari Satgas Pangan dan Dinas Ketahanan Pangan melakukan inspeksi dan pengambilan sampel untuk diuji laboratorium. Hasil uji inilah yang akan menentukan tindakan penarikan dari peredaran.

“Selama hasil uji laboratorium belum keluar, kami belum bisa melakukan tindakan penarikan,” ujar Kentor, sapaan akrab Nurbianto.

Kasat Reskrim Polres Batu Iptu Joko Suprianto juga menyebutkan bahwa sidak kedua dilakukan di tujuh lokasi. Pihaknya meminta para pelaku usaha untuk tidak menjual atau memajang beras yang masih dalam proses pengujian.

Selain mengawasi peredaran beras premium, pengawasan terhadap distribusi beras SPHP juga dilakukan untuk memastikan kualitas dan kuantitas sesuai standar pemerintah. Pemerintah menekankan pentingnya tata kelola pangan yang bersih, transparan, dan berpihak pada konsumen.

Dengan operasi pasar yang digencarkan dan pengawasan intensif dari pemerintah, diharapkan stabilitas harga pangan dan kepercayaan masyarakat terhadap produk beras nasional dapat terjaga. (*)

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain