Megapolitan.ID | Pergantian logo Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dari simbol semula menjadi gambar “Gajah” menuai beragam penafsiran politik.
Sejumlah pihak menilai langkah ini sebagai strategi simbolik untuk menandingi dominasi “Banteng” yang selama ini identik dengan PDI Perjuangan (PDIP).
Spekulasi ini menguat seiring keterlibatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam mendorong eksistensi PSI, partai yang kini dipimpin oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep.
Tanti Herawati: Gajah Lambang Keteguhan, Bukan Sindiran untuk Siapapun
Ketua DPD PSI Kota Bekasi, Tanti Herawati, menjelaskan bahwa pemilihan simbol gajah bukan dimaksudkan untuk menyindir partai mana pun, termasuk PDIP.
Ia menekankan filosofi kekuatan, ketenangan, dan solidaritas sebagai makna di balik perubahan logo tersebut.
“Paling menarik dari gambar gajah itu adalah ketenangannya yang magis. Gajah tidak menggonggong seperti anjing, tidak mengaum seperti singa, dan tidak menanduk seperti banteng,” ujar Tanti dalam keterangannya, dikutip Kamis (31/7/2025).
Sebagai anggota DPRD Kota Bekasi, Tanti menyampaikan PSI tidak berambisi menyaingi PDIP maupun partai lain.
Menurutnya, gajah mencerminkan kekuatan yang tenang, kecerdasan, dan kearifan, sebuah nilai yang kini ditanamkan kepada seluruh kader.
“Seperti gajah yang besar tapi lembut, kuat namun penuh kearifan, kami ingin PSI hadir sebagai kekuatan politik yang tegas namun rendah hati, bergerak pelan tapi pasti,” jelasnya.
PDIP Bekasi Tegaskan Soliditas Kader Tak Terganggu Logo PSI
Menanggapi perubahan logo PSI, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Bekasi, Ahmad Faisal Hermawan, menyatakan pihaknya tidak merasa terpengaruh.
Ia memastikan bahwa kekompakan kader PDIP, khususnya di akar rumput Kota Bekasi, tetap solid.
“Insya Allah tidak berpengaruh banyak di Kota Bekasi, karena kader kami di bawah tetap solid,” tegas Faisal.
Ia menambahkan meskipun Presiden Jokowi kini tidak lagi menjadi bagian dari PDIP, kemenangan Ketua DPC PDIP dalam Pilkada Kota Bekasi menjadi bukti bahwa kekuatan partai masih terjaga.
“Buktinya, Ketua DPC kami menang jadi Wali Kota Bekasi. Kami tidak terpecah belah,” ungkapnya.
Faisal juga menyebut bahwa sah saja jika PSI memiliki simbol baru dan strategi politik tersendiri. Namun menurutnya, yang akan menentukan kekuatan politik sejati tetap berada di tangan rakyat.
“Silakan saja mereka merasa lebih besar dari kami. Tapi nanti rakyat yang akan menentukan di Pemilu 2029 atau 2031,” tutupnya. (*)