Megapolitan.ID | Di tengah ketatnya persaingan dan terbatasnya lapangan pekerjaan, budidaya ikan hias kian dilirik sebagai alternatif usaha yang menjanjikan.
Salah satu jenis ikan yang sangat direkomendasikan untuk pemula adalah ikan cupang, karena perawatannya relatif mudah dan modal awalnya tergolong rendah.
Hal ini disampaikan oleh Irzal Effendi, Dosen Departemen Budidaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), IPB University yang menyebut budidaya ikan cupang sangat cocok dijalankan di lingkungan rumah dengan skala kecil maupun menengah.
“Ikan cupang merupakan pilihan paling tepat bagi pemula karena memerlukan modal kecil dan mudah dipelihara,” jelas Irzal dikutip pada Jumat (1/8/2025).
Toleran terhadap Lingkungan, Cocok untuk Urban Farming
Ikan cupang dikenal memiliki toleransi yang tinggi terhadap berbagai kondisi kualitas air. Hal ini memungkinkan ikan tersebut dibudidayakan di berbagai wadah kecil seperti toples atau botol plastik, bahkan secara individual.
Di beberapa kawasan sentra produksi ikan hias di Kabupaten Bogor, budidaya dilakukan dalam kantong plastik berisi air ½ kilogram yang digantung bertingkat di dinding rumah.
Konsep ini sejalan dengan praktik urban aquaculture atau urban farming, di mana kegiatan pertanian dan perikanan dilakukan di area dengan keterbatasan lahan dan sumber daya air, seperti wilayah perkotaan.
“Di lingkungan rumah, ikan cupang bisa dibudidayakan secara individual dan tetap produktif. Ini menjadi peluang bagi keluarga untuk memperoleh penghasilan tambahan,” jelas Irzal.
Strategi Pemasaran: Pilih Warna dan Bentuk yang Menarik
Agar mampu bersaing di pasar lokal dan nasional, Irzal menyarankan agar pembudidaya ikan memilih jenis cupang yang memiliki kombinasi warna tubuh dan bentuk sirip yang menarik. Aspek estetika ini menjadi daya tarik utama ikan hias di mata konsumen.
“Pemasaran akan lebih mudah jika ikan memiliki karakter warna dan sirip yang unik, karena ini yang dicari pasar,” ujarnya.
Dari sisi pemeliharaan, ikan cupang juga cukup fleksibel. Pakan untuk ikan ini bisa berasal dari bahan alami seperti cacing merah, cacing sutra, jentik nyamuk, maupun pakan buatan yang mudah diperoleh di pasaran.
Tahan Krisis, Meningkatkan Ekonomi Lokal dan Kesehatan Mental
Menurut Irzal, budidaya ikan hias terbukti mampu bertahan di tengah krisis, baik krisis ekonomi nasional maupun tekanan global seperti pandemi COVID-19.
Saat banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pembatasan mobilitas, masyarakat justru semakin banyak yang memilih memelihara ikan hias sebagai pelampiasan stres.
“Permintaan ikan hias tetap tinggi di masa sulit. Ini menunjukkan bahwa sektor ini tahan guncangan dan berdampak positif terhadap ketahanan ekonomi lokal,” ujarnya.
Dorongan Kelembagaan dan Dukungan Pemerintah
Meski memiliki potensi besar, Irzal mengakui bahwa kesejahteraan pembudidaya ikan hias belum merata.
Oleh karena itu, ia mendorong para pelaku usaha untuk berhimpun dalam kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan), kelompok usaha bersama (KUB), atau koperasi agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam rantai pasok agribisnis.
“Dengan kelembagaan yang kuat, pembudidaya bisa lebih terlindungi secara ekonomi dan tidak mudah ditekan oleh pembeli maupun pemasok,” ujarnya.
Irzal juga memberikan masukan kepada pemerintah pusat dan daerah untuk mendukung sektor ini secara menyeluruh.
Bentuk dukungan tersebut mencakup pendanaan murah dari lembaga keuangan, pendampingan teknis dan manajerial, hingga pemasaran yang lebih luas ke pasar domestik, antarpulau, maupun internasional.
“Salah satu bentuk promosi yang efektif adalah melalui kontes ikan hias, festival, atau bazar di dalam dan luar negeri. Ini bisa meningkatkan eksposur dan nilai jual ikan hias kita,” tambahnya.
Pemerintah juga diharapkan untuk mengembangkan dan memperkuat kelembagaan usaha budidaya ikan hias serta melindungi pelaku usaha dari regulasi yang tidak berpihak.
“Regulasi afirmatif sangat dibutuhkan agar usaha budidaya ikan hias bisa tumbuh sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)