Home TeknologiSmartphone Sultan Dreame: Harga Tembus Rp250 Juta.
dok.gadgetdiva.id

Smartphone Sultan Dreame: Harga Tembus Rp250 Juta.

by Ikon logo megapolitanSalwa
A+A-
Reset

Megapolitan.id – Dunia smartphone selama beberapa tahun terakhir terasa seperti berputar di lingkaran yang sama. Desain ponsel makin tipis, kamera makin besar, performa makin kencang, tetapi secara visual, semuanya sering terlihat serupa. Bagian depan dipenuhi layar, bagian belakang diisi modul kamera, lalu sisanya bergantung pada warna dan material. Inovasi tetap ada, tetapi sensasi “wow” yang benar-benar mengejutkan publik terasa semakin jarang.

Lalu datanglah Dreame Technology dengan cara yang nyaris seperti melempar batu ke permukaan air yang tenang.

Perusahaan teknologi yang selama ini lebih dikenal lewat produk rumah pintar dan perangkat pembersih canggih itu tiba-tiba mencuri perhatian publik setelah memperkenalkan konsep smartphone terbaru yang tampil sangat berbeda dari ponsel pada umumnya. Bukan sekadar berbeda, tetapi benar-benar berani melawan arus desain modern yang kini cenderung seragam dan minimalis.

Perusahaan teknologi Dreame Technology kembali mencuri perhatian publik setelah memperkenalkan konsep smartphone terbaru yang tampil berbeda dari ponsel pada umumnya. Tidak hanya mengusung desain premium, perangkat ini juga dibanderol dengan harga fantastis yang setara dengan mobil mewah.

Kalimat itu langsung memancing rasa penasaran. Smartphone setara mobil mewah? Di tengah pasar yang biasanya berlomba menghadirkan fitur terbaik dengan harga paling kompetitif, Dreame justru tampil dengan pendekatan yang nyaris aristokratik. Bukan hanya menjual teknologi, tetapi juga menjual simbol status, seni, dan kemewahan.

Dan ketika orang mulai bertanya-tanya apa yang membuat ponsel ini begitu mahal, Dreame justru menambahkan satu elemen yang semakin membuat publik menoleh dua kali: jam analog besar di bagian belakang.

Menariknya, salah satu varian konsep yang dipamerkan bahkan dilengkapi jam analog besar di bagian belakang perangkat, sesuatu yang jarang ditemukan pada smartphone modern.

Di situlah cerita ini berubah dari sekadar peluncuran gadget menjadi pertunjukan ide. Dreame tampaknya tidak ingin hanya masuk ke pasar smartphone. Mereka ingin masuk sambil membuat semua orang berhenti sejenak dan berkata, “Tunggu, ini serius?”

Ketika smartphone bukan lagi sekadar alat, tetapi juga simbol kemewahan

Dalam dunia gadget, harga tinggi biasanya dibenarkan oleh spesifikasi. Prosesor tercepat, kamera terbaik, layar tercanggih, baterai paling awet. Namun Dreame memilih jalan yang sedikit berbeda. Mereka tidak sekadar menawarkan performa tinggi, tetapi juga membingkai perangkat ini sebagai produk luxury.

Smartphone Premium dengan Harga Fantastis

Dalam presentasinya, Dreame memperkenalkan lini smartphone mewah yang diperkirakan dijual pada kisaran 10.000 hingga 15.000 dolar AS. Jika dikonversikan ke rupiah, harga tersebut berada di sekitar Rp169 juta hingga Rp250 juta.

Harga seperti itu tentu membuat banyak orang terdiam. Di angka tersebut, sebuah smartphone bukan lagi barang konsumsi biasa. Ia masuk ke wilayah yang sama dengan jam tangan mewah, tas eksklusif, atau bahkan kendaraan premium. Artinya, target pasarnya pun jelas: bukan pengguna umum, melainkan kolektor, pecinta barang mewah, dan mereka yang melihat gadget bukan hanya sebagai alat, tetapi juga pernyataan gaya hidup.

Dengan harga setinggi itu, Dreame memang tidak main-main dalam hal desain dan material. Perusahaan tersebut merancang perangkat menggunakan bahan-bahan premium seperti emas, batu permata, serta dekorasi artistik yang dibuat melalui teknik pengerjaan tradisional.

Inilah yang membuat ponsel ini terasa lebih dekat dengan dunia perhiasan dan horologi dibanding dunia smartphone konvensional. Material premium seperti emas dan batu permata bukanlah elemen yang biasa ditemukan pada ponsel modern. Apalagi jika dikombinasikan dengan teknik pengerjaan tradisional, perangkat ini seolah ingin berdiri di persimpangan antara teknologi masa depan dan kerajinan klasik.

Karena itulah, smartphone ini tidak sekadar perangkat teknologi, tetapi juga diposisikan sebagai produk luxury yang menyasar kolektor maupun pengguna kelas atas.

Di tengah pasar yang selama ini dipenuhi ponsel “serba minimalis”, Dreame justru tampil flamboyan. Dan justru karena itulah ia berhasil menarik perhatian.

Jam analog di punggung smartphone, sentuhan klasik yang tak terduga

Salah satu elemen paling mencolok dari konsep ini adalah kehadiran jam analog besar di bagian belakang perangkat. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar aneh. Bagi yang lain, ini justru terasa artistik.

Jam Analog di Punggung Smartphone

Salah satu desain yang paling mencuri perhatian adalah keberadaan jam analog besar di bagian belakang ponsel. Desain ini lebih sering ditemukan pada jam tangan mewah, bukan pada smartphone.

Memang benar. Selama bertahun-tahun, smartphone terus bergerak menuju digitalisasi total. Jam digital ada di layar, notifikasi tampil real-time, semuanya serba virtual. Maka ketika Dreame menempatkan jam analog besar di belakang ponsel, itu seperti sebuah pernyataan simbolik: bahwa kemewahan tidak selalu harus tunduk pada tren digital yang dingin dan steril.

Jam tersebut ditempatkan di panel belakang yang dihiasi ukiran dekoratif artistik. Kombinasi antara elemen teknologi dan sentuhan horologi klasik membuat konsep ini terlihat unik sekaligus elegan.

Ada nuansa yang sangat khas dari pendekatan ini. Dreame tampaknya ingin menghidupkan kembali pesona benda-benda mewah klasik ke dalam tubuh perangkat modern. Hasilnya adalah sesuatu yang tidak biasa: smartphone yang tampak seperti perpaduan antara ponsel flagship, jam tangan eksklusif, dan karya seni dekoratif.

Selain itu, dari beberapa gambar yang dibagikan perusahaan, terlihat bahwa bagian belakang ponsel juga memiliki panel dekoratif dengan detail ukiran yang rumit. Hal ini semakin mempertegas bahwa Dreame ingin menghadirkan smartphone sebagai objek seni sekaligus perangkat teknologi.

Dengan pendekatan tersebut, Dreame tampaknya ingin menantang tren desain smartphone yang saat ini cenderung minimalis dan seragam.

Dan memang, di era ketika hampir semua ponsel terlihat mirip saat casing-nya dilepas, keberanian seperti ini terasa langka.

Kamera yang bisa dilepas, ketika smartphone mulai berpikir seperti kamera profesional

Kalau desain mewah dan jam analog sudah cukup membuat orang terpukau, Dreame ternyata belum selesai. Mereka juga memperkenalkan konsep lain yang jauh lebih futuristik dari sisi fungsi.

Konsep Smartphone dengan Kamera yang Bisa Dilepas

Tidak hanya menghadirkan smartphone mewah, Dreame juga memamerkan konsep perangkat lain yang tak kalah menarik. Smartphone ini dilengkapi modul kamera yang dapat dilepas dari bodi perangkat.

Inilah bagian yang paling membuat banyak pengamat teknologi mulai serius memperhatikan. Karena berbeda dari elemen desain mewah yang lebih menyasar segmen niche, konsep kamera modular ini justru punya potensi lebih luas secara fungsional.

Modul kamera tersebut menggunakan sensor berukuran 1 inci, ukuran yang biasanya ditemukan pada smartphone kelas flagship karena mampu menghasilkan kualitas foto lebih baik.

Namun, yang membuatnya semakin unik adalah modul kamera ini dapat beroperasi secara terpisah dari ponsel.

Bayangkan sebuah smartphone yang tidak lagi memaksa kamera selalu menempel di bodi. Kamera bisa dilepas, diposisikan di sudut tertentu, lalu tetap terhubung ke ponsel sebagai pusat kontrol. Ide ini terdengar seperti sesuatu dari film sci-fi, tetapi justru itulah yang sedang dicoba Dreame.

Berbeda dari kamera smartphone biasa yang menyatu dengan bodi, konsep Dreame memungkinkan pengguna melepas modul kamera dan menggunakannya secara independen.

Ini bukan hanya soal gaya. Ini tentang membuka kemungkinan baru.

Kamera modular nirkabel, fleksibilitas baru untuk kreator konten

Selama ini, keterbatasan smartphone dalam fotografi dan videografi sering terletak pada posisi kamera yang selalu “menempel” pada tangan pengguna. Sudut pengambilan gambar jadi terbatas, dan untuk hasil lebih kreatif, orang perlu tripod, gimbal, atau kamera tambahan. Dreame mencoba memotong semua kerumitan itu lewat satu ide: kamera modular yang bisa bekerja secara nirkabel.

Kamera Modular dengan Koneksi Nirkabel

Untuk mendukung fungsi tersebut, modul kamera ini dibekali koneksi WiFi. Dengan teknologi tersebut, kamera dapat terhubung secara nirkabel dengan smartphone.

Konsep ini sekilas mengingatkan pada produk kamera eksternal yang pernah diperkenalkan oleh Sony beberapa tahun lalu. Namun demikian, Dreame mengklaim pendekatan yang mereka gunakan berbeda.

Jika kamera modular sebelumnya masih bergantung pada koneksi tertentu atau harus terpasang pada ponsel, konsep Dreame memungkinkan kamera bekerja secara sepenuhnya nirkabel.

Artinya, pengguna dapat menempatkan kamera di posisi tertentu sementara ponsel digunakan sebagai layar kontrol.

Bagi kreator konten, ini jelas menarik. Kamera bisa diletakkan di sudut ruangan untuk merekam angle tambahan, sementara ponsel tetap di tangan untuk memantau, mengatur komposisi, atau bahkan merekam dari sisi lain. Fleksibilitas seperti ini biasanya hanya didapat jika seseorang membawa lebih dari satu perangkat.

Fleksibilitas Baru untuk Fotografi dan Video

Pendekatan ini memberikan fleksibilitas yang lebih luas, terutama bagi kreator konten.

Sebagai contoh, pengguna dapat mengambil A-roll dan B-roll secara bersamaan hanya dengan satu perangkat. Dengan kata lain, kamera dapat ditempatkan di sudut tertentu untuk merekam video tambahan, sementara smartphone tetap digunakan untuk mengontrol atau merekam sudut lain.

Konsep ini tentu membuka kemungkinan baru dalam pembuatan konten video, vlog, maupun produksi film pendek.

Selain itu, fleksibilitas dalam menentukan sudut pengambilan gambar juga menjadi nilai tambah utama dari sistem kamera modular ini.

Dalam dunia yang semakin dipenuhi kreator digital, fitur seperti ini terasa jauh lebih relevan daripada sekadar menambah jumlah megapiksel.

Dreame juga membawa otak AI-nya sendiri

Tidak berhenti di desain dan kamera, Dreame juga menunjukkan ambisi yang lebih besar: membangun fondasi komputasi mereka sendiri.

Dreame Perkenalkan Chip AI Buatan Sendiri

Tidak berhenti di situ, Dreame juga memperkenalkan chip berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mereka kembangkan sendiri.

Chip tersebut diberi nama Chixiao 01.

Nama ini mungkin belum familiar di telinga publik, tetapi klaim performanya cukup membuat banyak orang terangkat alis.

Menurut klaim perusahaan, chip ini mampu menghadirkan daya komputasi hingga 200 TOPS (Tera Operations Per Second). Angka ini tergolong sangat tinggi untuk sebuah chip yang dirancang untuk perangkat mobile.

Sebagai perbandingan, chip Snapdragon X Elite yang dikenal memiliki performa tinggi hanya memiliki kemampuan komputasi sekitar 80 TOPS.

Dengan performa tersebut, Chixiao 01 diyakini mampu menangani berbagai tugas berbasis AI seperti:

pemrosesan gambar
pengolahan video
fitur fotografi komputasional
hingga kemampuan AI generatif langsung di perangkat.

Jika klaim ini benar-benar terealisasi dalam produk nyata, Dreame bukan hanya sedang membuat smartphone unik. Mereka sedang mencoba membangun identitas teknologi yang serius—dari desain, fotografi, hingga pemrosesan AI di level chip.

Gambaran smartphone masa depan yang tidak lagi membosankan

Dirancang untuk Smartphone Masa Depan

Ke depannya, Dreame berencana menggunakan chip Chixiao 01 pada berbagai konsep smartphone yang sedang mereka kembangkan.

Mulai dari ponsel mewah dengan jam analog, hingga smartphone dengan kamera modular.

Meski masih berupa konsep, inovasi yang ditunjukkan Dreame memberikan gambaran tentang arah perkembangan smartphone di masa depan.

Di satu sisi, perusahaan mencoba menggabungkan kemewahan klasik dengan teknologi modern melalui desain jam analog di belakang perangkat. Sementara di sisi lain, Dreame juga mengeksplorasi inovasi fotografi mobile melalui kamera modular nirkabel.

Di titik inilah Dreame terasa menarik. Mereka tidak hanya mencoba “menjual spesifikasi”, tetapi juga mencoba mengembalikan rasa takjub ke industri smartphone. Ketika banyak ponsel kini terasa seperti evolusi kecil dari generasi sebelumnya, Dreame justru tampil dengan pendekatan yang lebih teatrikal, lebih eksperimental, dan lebih berani.

Jika konsep ini benar-benar masuk tahap produksi, bukan tidak mungkin smartphone buatan Dreame akan menjadi salah satu perangkat paling unik di industri gadget.

Dan mungkin, itulah inti dari semua ini.

Dreame belum tentu langsung mengubah pasar. Belum tentu semua konsep ini akan sukses secara komersial. Belum tentu pula pengguna umum siap membeli ponsel seharga mobil atau memakai kamera lepas pasang dalam keseharian. Tetapi satu hal yang pasti: Dreame berhasil melakukan sesuatu yang sangat sulit di dunia gadget saat ini—membuat orang kembali penasaran pada smartphone.

Di tengah pasar yang mulai terasa seragam, rasa penasaran itu adalah kemewahan yang tidak kalah mahal.

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain