Megapolitan.ID | Pemerintah Indonesia resmi menjalin kerja sama strategis dengan European Investment Bank (EIB) untuk mendanai pembangunan 15 pusat ketahanan kesehatan nasional.
Program ini menjadi bagian penting dari prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat sistem kesehatan nasional yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi berbagai krisis di masa depan, termasuk potensi pandemi global.
Kesepakatan tersebut mencakup pinjaman senilai €250 juta yang akan digunakan untuk membangun 15 health security centers yang direncanakan ditempatkan di lokasi strategis, termasuk fasilitas militer.
CEO Arsari Group sekaligus Ketua Dewan Penasehat KADIN Indonesia periode 2024–2029, Hashim Djojohadikusumo, menyebut kesepakatan ini sebagai tonggak penting dalam diplomasi pembangunan sektor kesehatan nasional.
“Ini adalah program pinjaman pertama yang pernah disepakati antara Kementerian Pertahanan RI dan Bank Investasi Eropa,” kata Hashim saat menjadi pembicara dalam forum France-Indonesia Business Dialogue di Paris, dikutip Sabtu (19/7/2025).
Tak hanya berhenti pada pembangunan 15 pusat ketahanan, Pemerintah Indonesia juga menyiapkan rencana besar untuk mendirikan rumah sakit bertaraf internasional di 530 kabupaten/kota.
“Fasilitas ini akan menjadi pelengkap layanan kesehatan swasta yang sudah berkembang, sekaligus memperkuat ekosistem kesehatan nasional yang terintegrasi,” ungkapnya.
Program strategis ini bertujuan menjadikan kesehatan sebagai pilar utama ketahanan bangsa, sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo dalam membangun fondasi pertahanan negara berbasis layanan publik yang unggul.
Sementara itu, Ketua DPLN Partai Gerindra, Andre Abdulloh yang juga sekaligus Pelaksana Program Pusat Ketahanan Kesehatan, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah besar tersebut.
Ia menilai program ini merupakan langkah revolusioner dalam memperkuat sektor kesehatan nasional.
“Presiden Prabowo memiliki visi besar menjadikan kesehatan sebagai pilar utama pertahanan bangsa. Kami siap menyukseskan langkah ini dengan dukungan penuh,” tegas Andre.
Ia juga menegaskan percepatan pembangunan rumah sakit dan pusat kesehatan tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik semata.
Menurutnya, pembangunan juga diarahkan pada penguatan ekosistem layanan kesehatan yang mencakup kolaborasi teknologi, kesiapsiagaan nasional, dan kemandirian medis.
“Kami tidak hanya membangun gedung, tapi juga ekosistem. Teknologi, pelayanan, dan respons krisis harus berjalan selaras. Kita ingin berdiri sebagai bangsa yang mandiri secara medis, tanpa ketergantungan pada negara lain,” paparnya.
Melalui kerja sama dengan EIB dan pelaksanaan program strategis nasional ini, Indonesia ingin menegaskan posisinya sebagai mitra terpercaya komunitas internasional, khususnya dalam sektor kesehatan yang semakin penting di era pasca-pandemi.
“Dengan inisiatif ini, Indonesia menunjukkan diri sebagai negara yang siap membangun masa depan bersama komunitas global. Sektor kesehatan kini bukan hanya urusan dalam negeri, tapi juga menjadi elemen penting dalam hubungan internasional,” tambah Andre.
Langkah ini diharapkan menjadi model pembangunan ketahanan kesehatan nasional yang dapat diadopsi oleh negara lain, serta memperkuat diplomasi Indonesia dalam menghadapi tantangan kesehatan global di masa depan. (*)