Home Urban UpdateDaud Beureueh Layak Jadi Pahlawan Nasional, Ini Kata Yusril Ihza Mahendra

Daud Beureueh Layak Jadi Pahlawan Nasional, Ini Kata Yusril Ihza Mahendra

by Ikon logo megapolitanM Hamz
A+A-
Reset

Megapolitan.ID | Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menyatakan dukungannya atas usulan masyarakat Aceh yang menginginkan Teungku Muhammad Daud Beureueh ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Menurutnya, kontribusi besar tokoh tersebut dalam sejarah perjuangan kemerdekaan dan pembentukan Provinsi Aceh patut dihargai secara nasional.

“Peran Daud Beureueh dalam melawan penjajah Belanda dan Jepang, serta keberaniannya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, adalah bentuk pengabdian luar biasa terhadap bangsa ini,” tegas Yusril dikutip dari Antara, Sabtu (12/7/2025).

Perjuangan Daud Beureueh Pertahankan NKRI

Yusril menuturkan bahwa tidak semua tokoh di Aceh saat itu menyambut positif Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Bahkan ada kelompok yang menginginkan Aceh berdiri sendiri atau tetap di bawah kekuasaan Belanda.

Namun berbeda dengan Daud Beureueh. Ia justru berdiri di garis depan membela kemerdekaan RI secara politik, militer, dan diplomasi. Karena dedikasinya, Bung Karno bahkan menyetujui pembentukan Provinsi Aceh dengan status keistimewaan pada awal 1946.

“Daud Beureueh diangkat sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo dengan pangkat tituler Mayor Jenderal TNI. Ia berjuang total untuk NKRI,” ungkap Yusril.

Dinamika Politik dan Kekecewaan Terhadap Pemerintah Pusat

Sayangnya, pada tahun 1950, Peraturan Darurat tentang pembentukan Provinsi Aceh dicabut oleh pemerintah pusat.

Yusril menjelaskan pencabutan ini menimbulkan kekecewaan mendalam bagi Daud Beureueh, apalagi keputusan tersebut datang dari tokoh-tokoh yang masih satu garis perjuangan seperti Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara, sesama kader Partai Masyumi.

“Daud Beureueh menganggap janji kemerdekaan yang diberikan pemerintah pusat terhadap Aceh telah diingkari,” tambah Yusril.

Akibatnya, Daud Beureueh melakukan perlawanan dan masuk ke dalam hutan, hingga pada 1953 mendeklarasikan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Aceh.

Bukan Pemberontak, Tapi Republikan yang Kecewa

Yusril menegaskan, penting bagi bangsa Indonesia untuk melihat konteks sejarah secara utuh. Ia menyebut Daud Beureueh bukanlah seorang pemberontak, tetapi republikan sejati yang kecewa karena aspirasi Aceh tidak dihormati.

“Fakta sejarah menunjukkan bahwa Daud Beureueh tidak pernah ingin memisahkan Aceh dari Indonesia. Ia hanya menuntut komitmen pemerintah pusat terhadap janji keistimewaan Aceh,” ucap Yusril.

Ia menambahkan, Daud Beureueh bahkan sempat bergabung dengan PRRI-Permesta sebagai bentuk koreksi terhadap sistem pemerintahan saat itu yang dinilai terlalu memberi ruang kepada komunisme dalam era Demokrasi Terpimpin.

Perbandingan dengan Natsir dan Sjafruddin

Yusril juga mengingatkan bahwa tokoh-tokoh seperti Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara pernah dicap pemberontak. Namun setelah reformasi dan peninjauan sejarah yang lebih objektif, keduanya justru diakui sebagai pahlawan nasional oleh Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

“Hal serupa dapat dilakukan terhadap Daud Beureueh. Sudah saatnya beliau diakui sebagai tokoh nasional, bukan dikotakkan dalam narasi pemberontakan,” pungkasnya. (*)

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain